Rusia Antisipasi Arus Masuk Heroin dari Afganistan

Pada 2014 terdapat 250 ribu hektar tanah yang ditanami bibit opium di Afganistan. Foto: Reuters/Vostock Photo

Pada 2014 terdapat 250 ribu hektar tanah yang ditanami bibit opium di Afganistan. Foto: Reuters/Vostock Photo

Heroin Afganistan dan rempah sintetis yang berasal dari berbagai negara merupakan jenis narkotika yang saat ini dianggap sebagai ancaman paling berbahaya oleh para pakar Rusia.

Berdasarkan data dari Badan Pengawas Narkotika Federal Rusia (FSKN), terdapat delapan juta pecandu narkoba di Rusia dan 1,5 juta di antaranya merupakan pengguna heroin Afganistan. Sementara, jumlah pembeli rempah campuran rokok yang memiliki efek narkotika didapati lebih banyak dari itu.

Angka kematian akibat narkotika di Rusia mencapai hingga 70 ribu orang per tahun. Mayoritas merupakan generasi muda, karena sangat jarang seorang pecandu narkotika dapat hidup hingga usia tua. Sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh penggunaan narkotika “berat” seperti heroin. Sementara narkotika “ringan” seperti jenis rempah (spice) dianggap sebagai narkotika yang berisiko lebih kecil, meski tetap saja jenis itu pun telah menyebabkan serangkaian kematian yang meresahkan Rusia. Dalam kurun waktu September-Oktober, terdapat ribuan pengguna spice yang masuk rumah sakit, 40 orang di antaranya meninggal dunia.

Ancaman Heroin dari Afganistan

Berdasarkan data FSKN, saat ini Uni Eropa merupakan pemimpin dalam penggunaan heroin Afganistan. Sementara, Rusia menempati posisi kedua.

FSKN memperkirakan, pada 2014 terdapat 250 ribu hektar tanah (dan angka ini paling tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya) yang ditanami bibit opium di Afganistan. Jalur pengiriman utama hasil panen opium yang sudah diolah telah diketahui. Heroin Afganistan masuk ke Rusia melalui Asia Tengah, sementara ke Uni Eropa, heroin yang sama mayoritas masuk melalui Iran, Turki, dan negara-negara Balkan.

Saat ini, negara yang menjadi tujuan pengiriman opium Afganistan perlu bersiap diri menghadapi pertumbuhan volume perdagangan narkoba dan peningkatan aktivitas transaksi narkoba itu sendiri. Pada puncak perdagangan narkoba selama 2007-2008, para pengedar secara aktif meningkatkan pangsanya dengan menurunkan harga sekaligus memperluas pasar mereka.

Pakar dari Pusat Penelitian Afganistan Modern di Moskow Nikita Mendkovich menilai bahwa saat ini terdapat risiko serupa. “Namun, kecil kemungkinan pertumbuhan produksi heroin akan naik secara signifikan, sebab batas atas dari pasar perdagangan narkoba sudah tercapai. Tapi tak diragukan arus narkoba dari Afganistan akan tetap kuat dan sangat berbahaya,” kata Mendkovich.

Pertumbuhan produksi narkoba di Afganistan dimulai pada 2002, segera setelah masuknya pasukan asing ke negara tersebut. Selama beberapa tahun pertama, para anggota NATO tak terlalu memperhatikan masalah itu. Namun situasi berubah drastis pada 2009, segera setelah era puncak arus narkoba pada 2007-2008.

Mendkovich menyebutkan bahwa pasukan ISAF yang berada di bawah komando NATO sebelumnya menolak untuk memerangi bisnis narkoba. “Mereka tidak menganggap tugas tersebut masuk dalam mandat mereka. Setelah itu, di bawah pengaruh Rusia, hal itu mulai dikaji ulang. Akan tetapi, saat ini belum ada hasil yang memuaskan,” kata Mendkovich.

Gambaran mengenai bahaya akibat bisnis narkoba terlihat dari rekor luas tanah garapan untuk bibit opium pada tahun ini, ketika mandat ISAF masih berlaku. Luas penanaman bibit opium di Afganistan meningkat selama lima tahun berturut-turut. Selama itu pula, arus narkoba ke Rusia dari luar negeri secara stabil semakin kuat. Seperti yang diungkapkan belum lama ini oleh Kepala FSKN Viktor Ivanov dalam wawancara bersama Rossiyskaya Gazeta, saat ini terdapat sekitar 30 ton heroin dengan konsentrasi tinggi yang masuk ke Rusia. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seratus juta dosis heroin biasa.

Untuk mengurangi perdagangan heroin Afganistan, Rusia telah bekerja sama dengan negara-negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah. Para staf instansi antinarkoba dari negara-negara tersebut kini tengah menjalani persiapan di Rusia dan mendapat bantuan material serta teknis. Langkah selanjutnya ialah berupa pembangunan pusat persiapan polisi kejahatan narkotika di Asia Tengah, yang juga mendapat bantuan dari Rusia.

Sumber Ancaman Lain: Perancang Narkotika

Selain heroin, kekhawatiran terbesar pemerintah Rusia saat ini ialah peningkatan popularitas “designer drug”.

Saat ini, pengedar jenis narkotik tersebut membuat narkoba dalam bentuk garam mandi, bahan kimia, atau campuran untuk aroma rokok yang diizinkan oleh hukum. Sementara ini belum ada rencana untuk memasukan garam dan “bumbu-bumbu” rempah tersebut sebagai bahan terlarang secara resmi. Para pengedar menggunakan kesempatan ini sebagai peluang. Namun, saat kelak larangan terhadap campuran tersebut diberlakukan pun, akan muncul jenis narkotik lain di pasar.

“Sebelumnya, jenis ini masuk ke dalam kelompok narkotik tingkat lima di semua daftar kategori narkoba, berdasarkan potensi bahayanya. Kini, jenis narkoba tersebut sudah harus dimasukan ke dalam pengelompokan teratas. Hal yang paling berbahaya adalah para pemakainya tidak menganggap itu sebagai narkotik. Padahal, jenis ini sudah jelas merupakan obat narkotik,” tutur Kepala Asosiasi Perlawanan Kecanduan dan Bisnis Narkoba, Akop Matosyan.

Pukulan telak terhadap “garam” dan “rempah” tersebut harus dilakukan dalam waktu dekat. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memasukan rancangan undang-undang terkait hal itu ke parlemen Rusia, yang memuat kewajiban pidana terhadap perdagangan jenis narkoba tersebut.

Artikel Terkait

Badan Pengawas Obat Rusia: Tingkat Kematian Akibat Obat Terlarang di Rusia 20 Kali Lipat Lebih Tinggi Dibanding Jepang

Rusia Akan Hentikan Impor Susu dan Whey Bubuk dari Ukraina

Pasang Surut Larangan Merokok di Rusia

Larangan Merokok Diperketat di Rusia

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.