Nasib Oposisi Rusia, Tiga Tahun Kemudian

Bagaimana pemerintah Rusia mampu menghancurkan oposisi—yang meski tampaknya tidak menang, tetapi setidaknya berlangsung lama? Foto: Yuri Kozyrev/Noor Images

Bagaimana pemerintah Rusia mampu menghancurkan oposisi—yang meski tampaknya tidak menang, tetapi setidaknya berlangsung lama? Foto: Yuri Kozyrev/Noor Images

Pada Desember 2011, gelombang protes anti-pemerintah terbesar dalam sejarah Rusia modern menghantam negara tersebut. Dalam satu bulan, terjadi empat demonstrasi oposisi, dengan yang terbesar melibatkan 150 ribu "warga yang marah". Tiga tahun kemudian, aksi semacam itu bahkan tak mampu mengumpulkan sepuluh ribu orang.

Penilaian terhadap Putin membaik hampir dua kali lipat dan kini, menurut berbagai perkiraan, rating popularitas Putin berkisar antara 75-88 persen. Sementara, semua pemimpin protes 2011 praktis telah dinetralkan: beberapa dipenjara, yang lain telah meninggalkan negara, dan ada pula beberapa yang masuk ke dalam rezim pemerintahan. Bagaimana pemerintah Rusia mampu menghancurkan oposisi—yang meski tampaknya tidak menang, tetapi setidaknya berlangsung lama?

Pada malam 4 Desember 2011, segera setelah selesainya pemilu Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma), saat mengumumkan hasil awal pemilu, salah satu saluran pemerintah mengumumkan bahwa partai yang berkuasa, Rusia Bersatu, mendapatkan 146 persen suara. Ini sungguh kesalahan infografik yang patut disesalkan, tetapi dalam konteks hasil resmi angka itu tampak sangat normal. Di Chechnya, menurut Komisi Pemilihan Umum Pusat, Rusia Bersatu mendapatkan 98,6 persen suara, di Kabardino-Balkaria 98,2 persen, di Karachay-Cherkessia 93,2 persen, di Moskow 46,6 persen (sementara menurut exit poll, suara yang diperoleh partai tersebut nyaris tidak lebih dari 30 persen). Hasil yang tidak masuk akal itu, menurut oposisi, memprovokasi kemarahan banyak pemilih yang kebanyakan merupakan warga Moskow.

 

Demonstrasi

Hari berikutnya, 15 ribu orang bergabung dalam demonstrasi yang diurus oleh Gerakan Solidarnost (saat itu dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Yeltsin, Boris Nemtsov; juara catur dunia, Garry Kasparov; dan aktivis sosial berusia 28 tahun, Ilya Yashin). Alexei Navalny, seorang pendukung oposisi populer Rusia dan Kepala Yayasan Antikorupsi, juga diundang.  

"Ada banyak alasan untuk berdemonstrasi," kenang Boris Nemtsov tentang peristiwa 2011 tersebut. "Alasan utama adalah kenyataan bahwa tidak satupun kekuatan oposisi diperbolehkan mengikuti pemilu. Tapi kami masih tidak berpikir akan ada banyak sekali orang yang datang. Jujur, kami bingung karena kami tidak punya rencana tindakan untuk situasi seperti itu," kata Boris.

 

Ulang Tahun Oposisi

Demonstrasi pada 5 Desember, yang kemudian menjadi hari ulang tahun koalisi oposisi baru (yang mencakup kaum liberal, kiri, dan nasionalis), berakhir dengan sebuah upaya tak direncanakan untuk "memasuki" Kremlin. Namun demikian, polisi menghalangi jalan dan membubarkan massa menggunakan kekerasan.

Lebih dari 300 orang ditangkap, Alexei Navalny dan Ilya Yashin ditahan selama 15 hari dan Pasukan Internal pun datang ke Moskow pada hari berikutnya. Akhir pekan setelah itu, tanggal 10 Desember, sekitar 100 ribu orang datang ke Lapangan Bolotnaya di pusat kota. Demonstrasi itu mengusung sebuah resolusi yang mendesak penurunan Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat, Vladimir Churov; pembatalan hasil pemilu; dan penyelenggaraan ulang pemilu yang menyertakan oposisi. Para demonstran juga menginginkan agar tahanan politik dilepaskan, di antaranya mantan Presiden Yukos, Mikhail Khodorkovsky.

 

Setelah 10 Desember, Partai Rusia lain pimpinan Limonov meninggalkan koalisi. Kaum nasionalis radikal mengikuti mereka karena perwakilan mereka tidak diperbolehkan berbicara di semua demonstrasi. Sergei Udaltsov juga merasa kecewa. Akan tetapi, ia tetap di dalam koalisi, yang kemudian menamakan diri sebagai diri Dewan Koordinasi Oposisi (CCO) dan berpartisipasi dalam demonstrasi-demonstrasi selanjutnya. Memang masih banyak terjadi demonstrasi setelah itu. CCO mengirimkan pengikutnya ke jalan beberapa kali dalam sebulan, menyelenggarakan konser atau jalan kaki di sepanjang Cincin Boulevard, atau mengadakan balap mobil anti-Putin di Cincin Sadovaya. Semua demonstrasi tersebut mendapat izin pemerintah.

 

Di Mana Mereka Sekarang?

Tuntutan pidana ditujukan kepada pemimpin protes yang mencoba mengorganisir mogok kerja tanpa batas waktu. Mereka dituduh mengorganisir kekacauan massa. Penjara empat setengah tahun dikenakan kepada pemimpin Front Kiri, Sergei Udaltsov dan Leonid Razvozhaev.

Penyelidikan terhadap Alexei Navalny masih dalam proses. Ia telah menjadi tahanan rumah selama beberapa bulan terakhir karena dikenai tuduhan penipuan keuangan. Navalny meyakini bahwa perebutan kekuasaan yang panjang dan sulit harus diperjuangkan dengan segala cara yang mungkin, tetapi legal.

Garry Kasparov menghabiskan sebagian besar waktunya di Amerika. Boris Nemtsov menjadi Wakil Duma Daerah Yaroslav pada 2013 dan bekerja 250 kilometer dari Moskow. Ilya Yashin sering terlihat di kafe-kafe ibukota mengunggah foto di Instagram. Sayap kanan oposisi pun terkadang mendukung kebijakan Putin.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.