APEC dan G20 Tunjukan Posisi Rusia dalam Tatanan Dunia

Meski Putin terbang meninggalkan kota Brisbane dengan terburu-buru, kunjungan Putin di Asia berlangsung sangat produktif. Presiden Rusia itu berhasil menunjukan bahwa isolasi terhadap Rusia tidaklah terjadi secara penuh. Putin pun melakukan perundingan yang konstruktif, baik dengan para kepala negara Eropa, maupun dengan para mitra dari BRICS.

Ilustrasi oleh Sergei Yolkin. Klik untuk memperbesar gambar.

Belum lama ini, Presiden Putin menghadiri dua forum berskala internasional, yakni pertemuan APEC dan G20. Barat—dengan segala cara—ingin menunjukkan bahwa Rusia saat ini sedang berada dalam isolasi, terutama dalam pertemuan G20 di Brisbane. Pemimpin Rusia tersebut sempat menerima tindakan pengabaian secara terang-terangan. Saat sampai di bandara Brisbane, Putin hanya disambut oleh Wakil Menteri Pertahanan Australia seorang. Kemudian pada saat sesi foto bersama, Putin ditaruh di bagian paling ujung barisan.

Namun kenyataannya, isolasi terhadap Rusia masih terbilang jauh dari kata penuh. Moskow saat ini memang memiliki hubungan yang sulit dengan negara-negara Eropa, akan tetapi hal tersebut dapat dikompensasi oleh peningkatan hubungan Rusia dengan negara-negara berkembang. Rusia membentuk blok baru bersama mereka, yang mampu memberi tantangan bagi tatanan dunia yang sudah ada.

BRICS sendiri telah mencanangkan diri untuk menjadi institusi pengawas moneter dunia yang baru, termasuk dengan membentuk Bank Pengembangan sendiri. Menurut anggota Komite Pakar Valday Club, Dmitry Suslov, para negara berkembang menilai sanksi sepihak yang diterapkan pada Rusia merupakan penyalahgunaan kewenangan Barat yang hanya akan mempercepat pembentukan institusi tandingan yang serupa.

Terkait foto bersama, terdapat perbedaan mencolok antara pertemuan di Beijing dan di Brisbane. Jika saat di Brisbane Putin benar-benar berdiri di pojok paling pinggir dekat dengan pemimpin Afrika Selatan, maka di Beijing, Putin mendapatkan tempat paling terhormat yakni di sebelah kanan tuan rumah konferensi tingkat tinggi tersebut, Kepala Negara Tiongkok Xi Jinping. Sedangkan Presiden AS Barack Obama ditempatkan di pinggir foto, dikelilingi bukan oleh para pemimpin negara, melainkan oleh para ibu negara.

Kepergian Putin yang lebih cepat dari Brisbane bukan bertujuan mencari sensasi. Menurut para wartawan dari lingkungan Kremlin, kepergian pemimpin Rusia yang lebih cepat dari jadwal sudah diketahui sebelum berlangsungnya pertemuan G20. Kepulangan Putin ke Moskow pun sesuai dengan pernyataan Dmitry Peskov, juru bicara Presiden Putin, sebelumnya, yang tidak menyangkal kemungkinan kepergian Putin yang lebih cepat dan berkata, “Ketika semua pekerjaan sudah selesai, maka Putin akan pergi”.

Menjelang Akhir

Putin telah menunjukan fakta bahwa Rusia tidak akan mengizinkan pemerintahan Ukraina untuk melakukan penghancuran massal kepada kelompok separatis Donbas. “Anda ingin pemerintah Ukraina menghancurkan semua yang ada di sana, seluruh lawan politik dan oposisi. Itukah yang Anda inginkan? Kami tidak menginginkannya, dan kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ujar Presiden Rusia dalam wawancara bersama stasiun televisi Jerman ARD. Presiden Rusia tersebut juga menjelaskan bahwa Moskow berusaha untuk menyelesaikan konflik di Donbass menggunakan prinsip kedaulatan wilayah Ukraina, sedangkan satu-satunya syarat untuk itu adalah federalisasi negara Ukraina.

Tatanan Dunia Baru

Dalam kedua pertemuan tersebut, Putin membicarakan mengenai pembentukan hubungan fundamental yang baru di panggung dunia, terutama dalam tatanan regulasi global. “G20 dianggap sebagai format pertanggungjawaban kolektif terhadap institusi pengawas ekonomi, IMF. Namun, G20 tidak dapat menjawab hal tersebut. Hasilnya, muncul dua wadah alternatif regulasi global, yakni APEC yang dibangun oleh Tiongkok, dan BRICS. Rusia secara aktif ikut serta di kedua organisasi tersebut,” terang Dosen Departemen Teori Politik MGIMO Kirill Koktysh kepada RBTH.

Pembentukan wadah serupa tidak hanya dibuat untuk menyelesaikan isu ekonomi saja, tetapi juga politik. Sudah lama Rusia menjadi satu-satunya negara adidaya yang secara terbuka menuntut adanya penggodokan peraturan yang obyektif dalam hubungan internasional, dan justru Rusia malah menderita akibat hal tersebut. Awalnya Rusia meminta AS dan negara Barat lain untuk mematuhi norma hukum internasional terutama mengenai isu Kosovo, Iran, dan Irak, tapi Rusia justru dipersulit. Kemudian ketika norma-norma tersebut sudah jelas tidak lagi dipatuhi, Moskow memutuskan  untuk merombak sistem yang tersisa dan mulai melakukan apa yang dilakukan di Barat, yaitu mengembalikan Krimea ke dalam pengawasannya. Namun itu justru membuat Rusia mendapat sanksi.

Hingga belum lama ini, negara-negara lain (Tiongkok, India, Iran, Brasil) yang tadinya menanggapi tindakan AS dan NATO di panggung dunia dengan hati-hati, hanya mengamati apa yang terjadi dari jauh, kini mungkin akan memutuskan untuk bergabung dengan Rusia, merombak dan menyusun kembali sistem lama (terutama melalui pembentukan institusi regulasi ekonomi dan politik global yang baru) serta berbagi risiko dengan Moskow.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.