Pakar: Beri Sanksi pada Rusia, Barat Seperti Menembak Kaki Sendiri

Putin mengatakan bahwa sanksi-sanksi ini tak hanya berdampak buruk bagi Rusia, tetapi juga menjadi pukulan bagi perekonomian Eropa sendiri, karena mereka telah kehilangan pasar yang paling potensial. Foto: TASS

Putin mengatakan bahwa sanksi-sanksi ini tak hanya berdampak buruk bagi Rusia, tetapi juga menjadi pukulan bagi perekonomian Eropa sendiri, karena mereka telah kehilangan pasar yang paling potensial. Foto: TASS

Menjelang G20 di Australia, Vladimir Putin meluangkan waktunya untuk melakukan wawancara dengan salah satu kantor berita Rusia. Pemimpin Rusia ini mengungkapkan pandangannya terhadap sistem global saat ini dan posisi Rusia di dalamnya.

Presiden Rusia menyebut peran G20 bagi masyarakat global tengah menguat, karena G20 telah menjadi forum dunia yang paling penting saat ini. Bagi Putin, G20 ini bukanlah organisasi perpanjangan Dewan Keamanan PBB, melainkan sebagai wadah untuk bertemu dan berdiskusi mengenai hubungan bilateral, masalah global, atau setidaknya menciptakan pemahaman satu sama lain terkait inti suatu masalah dan cara penyelesaiannya.

Berbeda dengan sejumlah forum lain, seperti Dewan Keamanan dan G7, G20 lebih representatif. Forum ini juga berbeda dengan Sidang Umum PBB, karena dalam G20 hanya ada negara-negara yang memiliki kapasitas dan pengaruh. “Jika pada Sidang Umum PBB para peserta hanya menyampaikan gagasan, di G20 mereka dapat menyelesaikan masalah,” terang Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia Dmitry Suslov pada RBTH.

Dengan demikian, para peserta dapat merasa lebih bebas merumuskan agenda penting dan arah pergerakan jangka panjang mereka. “G20 tak memiliki instrumen untuk menciptakan keputusan ataupun institusi yang mewajibkan pelaksanaan keputusan tersebut. Jika kondisi berubah setelah pertemuan tersebut, maka negara-negara anggota dapat dengan mudah menolak melakukan keputusan yang diambil dalam G20,” papar Direktur Dewan Rusia Bidang Urusan Internasional Ivan Timofeyev.

Presiden Rusia juga berkomentar mengenai pemberian sanksi Barat terhadap Rusia. Putin mengatakan bahwa sanksi-sanksi ini tak hanya berdampak buruk bagi Rusia, tetapi juga menjadi pukulan bagi perekonomian Eropa sendiri, karena mereka telah kehilangan pasar yang paling potensial.

Saat ini, pemerintah dan perusahaan Eropa harus mencari jalan untuk mengompensasi kerugian yang diderita akibat pemberian sanksi terhadap Rusia. Hubungan ekonomi pun ikut terdampak oleh penurunan jumlah perjalanan bisnis, pembatasan pemberian izin bekerja di Rusia, dan lain-lain. “Saat ini pemerintah hanya memasok perusahaan dengan uang mereka, dan berasumsi bahwa konflik ini tidak berlangsung lama, lalu Moskow akan mengendurkan sikapnya,” ujar Direktur Pusat Penelitian Eropa dan Mancanegara Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia Timofey Bordachev.

Akan tetapi, dampak negatif yang paling krusial atas pemberian sanksi tersebut menurut Presiden Rusia adalah “merusak tatanan hubungan internasional”. Asisten Presiden Rusia Yuriy Ushakov mengatakan bahwa negara anggota BRICS yang bertemu Putin dalam pertemuan G20 juga sependapat dengan hal tersebut.

“Sanksi-sanksi itu merusak kepercayaan antarpemain dunia, sedangkan institusi-institusi PBB berubah menjadi alat persaingan tanpa aturan, yang menanggap semua hal adalah baik,”  ujar Ivan Timofeyev. “Mereka tidak menyelesaikan masalah, malah memperburuk situasi. Sebagai contoh, dalam kasus Ukraina, negara-negara Barat memberikan sanksi terhadap Rusia, tapi sekarang apakah Ukraina berubah menjadi lebih baik? Apakah muncul perdamaian, kesejahteraan, dan pertumbuhan ekonomi? Tentu tidak. Malah, mereka harus menanggung beban biaya yang semakin membesar untuk mendanai perang,” tutur Timofeyev.

Pakar Dmitry Suslov menilai sanksi itu telah merusak tatanan perekonomian global yang dikontrol oleh Barat melalui mata uang dolar, pengaturan pasar keuangan global, serta sistem penerimaan keputusan di IMF dan Bank Dunia. Suslov menjelaskan, Rusia memang bukan negara pertama yang menerima sanksi dari Barat, tapi dibanding Iran, Rusia menduduki peringkat keenam dalam perekonomian dunia, serta merupakan anggota G20 dan Dewan Keamanan PBB. “Dengan memberi sanksi terhadap Rusia, Barat sama saja menembak kakinya sendiri karena pusat kekuatan di luar Barat, seperti India, Tiongkok, dan Brasil, yang mengangap situasi ini sebagai preseden. Mereka khawatir pada tahapan tertentu Barat juga akan memperlakukan mereka sama seperti Barat memperlakukan Rusia,” terang Suslov. Saat ini, BRICS memiliki stimulus yang dapat memperlemah kontrol Barat terhadap pengendalian perekonomian dunia, contohnya melalui pembentukan institusi moneter alternatif dan sistem perhitungan ekonomi dan keuangan dunia yang tengah berlangsung.

Sang pakar mengatakan, pemberlakuan sanksi justru menstimulasi kerja sama non-Barat yang baru, pusat kekuatan Eurasia yang tidak masuk dan tidak berencana masuk ke dalam proyek-proyek Amerika. Selain itu, muncul ancaman perpecahan di Eurasia non-Barat (Rusia, Tiongkok, India, Iran) dengan Barat dan perluasannya (AS, Kemitraan Trans Pasifik, Zona Perdagangan Bebas Trans Atlantik). “Fakta adanya pemberian sanksi menggambarkan ketiadaan strategi konstruktif dalam penyelesaian krisis yang terjadi. Jika tidak ada strategi, maka tidak ada pula pandangan jauh ke depan,” kata Ivan Timofeyev berpendapat. “Ambil contoh Ukraina. Setahun belakangan, kita mengamati dari segala sisi, dan yang dilakukan hanyalah tindakan improvisasi sesuai situasi, pemadaman masalah tanpa adanya strategi ke depan”.

Ingin tahu lebih banyak mengenai hubungan Rusia-AS? Baca lebih lanjut. >>>

Artikel Terkait

PM Rusia: Langkah Balasan Rusia Terhadap Barat Mungkin Akan Berkepanjangan

Sanksi Barat Tak Pengaruhi Ekspor Senjata Rusia

Diplomat Eropa: Pembatalan Sanksi Anti-Rusia Bergantung pada Situasi di Ukraina

Menteri Ekonomi Rusia: Rusia Tidak Menutup Diri dari Dunia Luar

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.