Mengenang Yasser Arafat, Pemimpin Palestina di Mata Moskow

Pada era Uni Soviet, Yasser Arafat cukup dikenal setelah kunjungan pertamanya ke Moskow pada 1968. Foto: AFP/East News

Pada era Uni Soviet, Yasser Arafat cukup dikenal setelah kunjungan pertamanya ke Moskow pada 1968. Foto: AFP/East News

Yasser Arafat meninggal secara misterius pada 11 November 2004. Setelah sepuluh tahun berlalu, perdebatan mengenai penyebab kematian Arafat masih terus berlanjut. Figur Arafat sendiri sama kontroversialnya dengan penyebab kematiannya. Selama hidup, Arafat dikenal sebagai pejuang kemerdekaaan rakyat Palestina sekaligus seorang teroris yang tak kenal ampun. Di Rusia, Arafat juga dipandang secara beragam.

Pada era Uni Soviet, pemimpin Palestina tersebut cukup dikenal setelah kunjungan pertamanya ke Moskow pada 1968. Kala itu, Yasser Arafat masih belum mendapat pengakuan penuh sebagai pemimpin rakyat Palestina, namun pengaruhnya dengan cepat tumbuh di dunia Arab.

Gamal Abdul Nasser, sahabat karib Uni Soviet, memperkenalkan Arafat pada Sekretaris Jendral Uni Soviet Leonid Brezhnev. Arafat mendapatkan simpati dari petinggi Uni Soviet dan di tahun-tahun berikutnya ia mendapatkan dukungan Kremlin. Latar belakang ‘persahabatan’ Soviet dengan Arafat cukup jelas. Uni Soviet diuntungkan dengan membela para politisi yang bergerak melawan Israel yang pro-AS, sedangkan Arafat sendiri membutuhkan dukungan yang besar dari negara adidaya untuk menjamin perjuangan pembebasan Palestina.

“Sahabat Karib Uni Soviet, Yasser Arafat”

Berdasarkan data yang tertulis dalam koran Versiya pada 2004, bantuan finansial dari Uni Soviet untuk Palestina mencapai 400-700 juta dolar AS, sedangkan dukungan politik yang diberikan pada Arafat sulit untuk dinilai harganya. Dalam perbincangannya dengan koran Izvestiya, Wakil Direktur Institut Ketimuran Russian Academy of Sciences Vladimir Isayev menjelaskan bahwa Uni Soviet-lah yang menghentikan Israel yang terus menerus menggempur Beirut, tempat kantor pusat PLO (Palestine Liberation Organization) berada, untuk menghancurkan gerakan perlawanan Palestina.

Namun, bukan berarti hubungan Arafat dengan Moskow tak pernah mengalami masa kelam. Hal itu sempat ditulis oleh Sergey Strokan untuk koran Sovershenno Sekretno. Strokan menunjukan adanya kemungkinan Abu Ammar sebagai dalang dibalik penculikan warga Soviet di Beirut pada 1985. Kala itu pejuang Palestina mengancam Kremlin dan menuntut Uni Soviet untuk menekan Suriah, yang tengah berperang melawan Palestina di Lebanon. Para penculik tak berhubungan dengan Arafat secara formal, namun ada dua orang pengawalnya yang ikut melakukan tindak kekerasan terhadap salah satu sandera. Pemimpin PLO menyatakan telah menebus para sandera dari teroris, namun tidak lama setelah itu badan intelejen mendapat rekaman pembicaraan Arafat dengan kantor pusat PLO yang menunjukan Arafat memerintahkan untuk “tidak membebaskan para sandera sampai ada perintah lebih lanjut”. Akhirnya para sandera jatuh ke tangan Hizbullah, namun tak ada tuntutan apapun yang terdengar secara resmi di tingkat negara.

Teroris atau Pencipta Perdamaian?

Setelah keruntuhan Uni Soviet, situasi dunia internasional berubah. Tahun 1991, Rusia membangun hubungan diplomasi dengan Israel dan dari bantuan penuh kepada PLO, Rusia beralih ke pengambilan sikap yang lebih moderat. Melemahnya Uni Soviet dan pemberhentian aliran finansial besar-besaran dari markas sosialis tersebut mendorong Arafat beralih dari perlawanan bersenjata menjadi perundingan secara damai dengan Israel, negara yang kehancurannya telah diperintahkan oleh pemimpin PLO sejak lama dan dengan berapi-api.

Foto: AFP/East NewsFoto: AFP/East News

Jika pada masa Uni Soviet pers resmi negara menulis tentang Arafat dan perjuangannya dengan antusias, maka setelah runtuhnya Uni Soviet, pendapat mengenai “orang nomor satu Palestina” tersebut menjadi beragam. Muncul kelompok anti-Arafat yang mengecapnya sebagai seorang teroris. Pada waktu yang sama, para wartawan lain, salah satunya pengamat media berita Rossiyskaya Gazeta Aleksander Sabov, menulis tentang pentingnya peran Abu Ammar dalam perubahan sikap PLO terhadap Israel. Sabov berpendapat, justru Arafat dan para simpatisannya yang meyakinkan pimpinan PLO akan pentingnya perundingan. Kesepakatan di Oslo yang ditandatangani oleh Arafat, memang tak menghasilkan perdamaian, namun fakta bahwa seorang pejuang perlawanan terhadap zionisme telah berjabat tangan dengan kepala pemerintahan Israel memiliki arti yang besar.

Kegagalan Camp David

Pertemuan di Camp David pada 2000 lalu bisa menjadi puncak usaha perdamaian Israel dan Palestina. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi, dan banyak yang menyalahkan kegagalan pertemuan Camp David itu kepada Arafat.

Setelah Camp David, Abu Ammar mendapat reputasi sebagai politisi yang tidak bisa diajak kompromi. Setelah kematiannya, banyak penerbit di Rusia yang menulis bahwa masuknya para pemimpin yang lebih moderat (seperti Mahmoud Abbas) “dapat menyelesaikan salah satu konflik terlama di dunia ini dari jalan buntu”. Namun, hal tersebut tidak terjadi. Pemerintah Palestina tidak terbentuk, konflik internal Palestina antara FATAH dan HAMAS terus menguat, sedangkan konflik dengan Israel yang menyebabkan kematian warga sipil terus terjadi dengan frekuensi yang semakin menakutkan.

Jadi, tidak semua masalah terletak pada Yasser Arafat, meski sikap Arafat sendiri benar-benar kontradiktif. Wartawan internasional Farid Seyful Mulyukov yang mengenal pemimpin Palestina tersebut secara pribadi mengatakan, “Arafat adalah figur politik yang rumit. Ia tak bisa digambarkan dengan satu warna saja, hitam atau putih. Dalam gerak politiknya, tergambar jelas tragedi yang dialami oleh rakyat Palestina selama lebih dari setengah abad”.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.