Mantan PM Rusia: Pernyataan Obama Mengenai Ancaman Global Sungguh Dangkal

Mantan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Rusia Evgeniy Primakov. Foto: Olessia Kurliaieva/RG

Mantan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Rusia Evgeniy Primakov. Foto: Olessia Kurliaieva/RG

Dalam wawancara bersama Rossiyskaya Gazeta, Mantan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Rusia Evgeniy Primakov yang terkenal atas pembentukan kebijakan luar negeri Rusia modern, menjabarkan pendapatnya mengenai kemungkinan terjadinya kembali “Perang Dingin” dan apa sebenarnya ancaman terbesar bagi dunia saat ini.

Rossiyskaya Gazeta (R.G.): Lima tahun lalu Anda mengatakan bahwa kita perlu membina hubungan baik dengan Ukraina, kita tak boleh kehilangan Ukraina dalam kondisi politik apapun, dan Rusia harus mendekatkan diri dengan Ukraina secara berkelanjutan di semua bidang yang memungkinkan. Mengapa hal tersebut tidak berhasil diterapkan? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Evgeniy Primakov (E.P.): Saya tidak menyangkal pernyataan yang saya sebutkan lima tahun lalu kepada Anda tentang Ukraina. Kesepakatan dan pendekatan ke Ukraina seperti sebelumnya tetap merupakan kepentingan nasional pemerintah dan rakyat Rusia. Tidak ada yang berubah terkait hal tersebut. Akan tetapi, saat ini situasi di Ukraina sendiri dan daerah di sekitarnya telah berubah. Saya masih tetap optimis mengenai masa yang akan datang, meski saat ini optimisme saya cukup terbatas.

R.G.: Banyak yang mengatakan krisis Ukraina akan menciptakan “Perang Dingin” baru serta pembentukan poros kekuatan baru di dunia. Bagaimana menurut Anda?

E.P.: Menurut saya, Perang Dingin baru tentu dapat dihindari. Isolasi Rusia oleh Barat bukanlah “Perang Dingin” seperti yang terjadi pada masa lalu. Saat itu terdapat dua blok kekuatan negara yang berlawanan serta memiliki ideologi yang bertolak belakang. Blok tersebut dipimpin oleh AS dan Uni Soviet, yang menciptakan ketegangan situasi dan ancaman terjadinya peperangan sengit.

Saat ini, saya tidak melihat adanya indikasi hal itu akan terjadi. Namun, dunia memang mengalami perubahan sehubungan krisis Ukraina, dan hal itu tak boleh diabaikan. Rusia menunjukan diri sebagai negara yang melindungi kepentingan nasional di dunia multipolar. AS dan sekutu Eropanya tak menyukai hal tersebut, namun itulah tindakan sejarah yang objektif.

R.G.: Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa perang dunia ketiga sudah terjadi. Menurut Anda, apakah itu metafora?

E.P.: Saya tidak sependapat dengan mereka yang menilai bahwa perang dunia ketiga sudah berlangsung. Saya menilai Paus Fransiskus bukanlah seorang yang visioner.

R.G.: Menurut Anda, titik mana saja yang paling berbahaya bagi dunia dan Rusia dalam peta dunia?

E.P.: Jelas salah satu “titik terpanas” saat ini adalah wilayah yang menjadi incaran ISIS. Pertama, mereka layaknya sebuah magnet yang menarik semua aktivis Islam radikal dari negara-negara lain ke dalamnya. ISIS sudah mengendalikan sejumlah besar wilayah Irak dan Suriah, terutama Irak.

Kedua, tujuan organisasi tersebut tidak hanya sebatas pembentukan khilafah di salah satu negara Arab semata, melainkan menyebarkan ideologi mereka di seluruh wilayah muslim dunia. Seperti yang Anda tahu, wilayah tersebut sangatlah banyak

Ketiga, AS tak berhenti menjalankan politik piciknya untuk melikuidasi rezim Bashar Assad. Mereka tidak bersungguh-sungguh memperbaiki hubungannya dengan Iran dan mungkin, yang paling penting adalah mereka tidak berusaha merangkul para kaum Sunni untuk masuk ke dalam barisan perlawanan ISIS di Irak serta perbatasan-perbatasan di sekitarnya. Penyerangan sekali dua kali saja tak akan melumpuhkan ISIS. Perlu upaya dari seluruh dunia untuk menghancurkan kelompok teroris tersebut.

R.G.: Obama menyebut virus Ebola, aksi Rusia di Eropa, serta kelompok separatis ISIS merupakan ancaman global utama saat ini. Apa maksud Obama dari pernyataan tersebut?

E.P.: Biarkan pernyataan tersebut tetap berada di hati nurani Presiden Obama. Menurut saya, pernyataan tersebut bersifat dangkal.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Rossiyskaya Gazeta.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.