Putin Serukan Pembentukan Tatanan Dunia Baru

Menurut Putin, tata dunia unipolar telah terbukti sulit dipertahankan bagi kekuatan dunia yang hegemonis. Foto: Sergei Gutaev/RIA Novosti

Menurut Putin, tata dunia unipolar telah terbukti sulit dipertahankan bagi kekuatan dunia yang hegemonis. Foto: Sergei Gutaev/RIA Novosti

Presiden Rusia Vladimir Putin menyarankan pembentukan tata dunia baru untuk mencegah terjadinya beragam konflik di masa depan. Putin beranggapan berbagai konflik yang muncul dewasa ini terutama disebabkan oleh Amerika Serikat, yang kebijakannya menghancurkan sistem keamanan global dan serangkaian kudeta di Timur Tengah dan Ukraina. Putin menegaskan kembali sikap Rusia dan berseru pada Barat agar segera melakukan dialog untuk memecahkan masalah yang ada saat ini.

Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Amerika Serikat sebagai penyebab hancurnya sistem keamanan internasional. Ia menyarankan pembangunan sistem hubungan internasional baru untuk mencegah konflik global dan antarnegara. Pemimpin Rusia tersebut menyampaikan hal ini pada Jumat (24/10) lalu di Sochi dalam pertemuan Klub Diskusi Internasional Valdai yang menghadirkan para ahli dari berbagai negara.

Menurut Putin, Moskow tak bermaksud mengisolasi diri dalam kebijakan luar negerinya, meski Rusia harus menghadapi perang sanksi dan memburuknya hubungan dengan Barat akibat konflik Ukraina. “Kremlin tetap terbuka terhadap dialog dan normalisasi hubungan ekonomi. Rusia juga bersedia mengikuti diskusi substantif mengenai pelucutan senjata nuklir,” kata Putin.

Kebijakan AS dan Tatanan Dunia Baru

Menurut Putin, tata dunia unipolar telah terbukti sulit dipertahankan bagi kekuatan dunia yang hegemonis. Struktur yang labil ini terbukti tidak mampu melawan ancaman-ancaman seperti konflik regional, terorisme, penyelundupan obat terlarang, ekstremisme keagamaan, chauvinisme, dan neo-Nazisme secara efektif. “Pada akhirnya, dunia unipolar hanyalah kedok kediktatoran terhadap rakyat dan negara lain,” ujar sang Presiden.

Dewasa ini tidak ada jaminan bahwa sistem keamanan global dan regional yang ada mampu memberi perlindungan terhadap guncangan di masa mendatang.

Presiden Institut Studi Strategis Alexander Konovalov menerangkan, sebelumnya tata dunia baru yang membentuk peraturan permainan dan tindak-tanduk kekuatan dunia adalah hasil dari hasil perang besar. Para pemenang perang bertemu di Yalta dan Postdam untuk membuat sejumlah aturan hubungan baru: prinsip perbatasan yang tak boleh dilanggar, prinsip penentuan kedaulatan, serta pembentukan Persatuan Bangsa-Bangsa.

Menurut Konovalov, ada kebutuhan yang mendesak akan sebuah sistem baru, tapi tidak ada perang baru yang dapat menghasilkan tata dunia baru. “Perang Dingin telah usai, tetapi tidak ada perjanjian damai dan tidak ada prinsip-prinsip hubungan bersama yang disetujui. Kita harus menyusun hal tersebut, tapi tidak ada yang tahu siapa yang seharusnya menetapkan tata dunia baru ini,” ujar Konovalov.

Ukraina dan Konflik Mendatang

Direktur Pusat Carnegie Moskow Dmitry Trenin menilai, pidato Putin di Munich berbeda dengan pidato terbarunya di Sochi. Pada 2007, Putin hanya memprotes kebijakan AS. Kini Rusia secara aktif menentang kebijakan Washington di Ukraina dan Suriah. Topik kunci pidato tersebut adalah bahwa dunia unipolar tidak mempertimbangkan kepentingan Rusia, dan Moskow akan mempertahankan sikap terkait sejumlah isu yang penting bagi mereka.

“Rusia tidak bermaksud berperan sebagai kekuatan adidaya atau hakim dunia, tetapi Rusia akan mempertahankan posisinya,” terang Trenin.

Dalam pidatonya, Putin mengingatkan kemungkinan peningkatan konflik regional dengan keterlibatan langsung ataupun tidak langsung dari kekuatan global. “Tidak hanya kontradiksi tradisional antarnegara yang akan menjadi faktor risiko, tetapi juga ketidakstabilan internal dari negara tertentu, terutama mereka yang berada dalam persimpangan kepentingan geopolitik negara-negara besar,” ujar presiden Rusia itu.

Menurut Putin, konflik Ukrania merupakan contoh dari situasi tersebut. Rusia mengingatkan ketergesaan pengambilan keputusan oleh para pemimpin Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa, yang sangat berisiko terutama bagi Rusia sebagai mitra dagang terbesar Ukraina.     

“Tetapi waktu itu mereka tak mau mendengarkan kami. Mereka bilang, ‘Ini bukan urusanmu.’ Dan alih-alih dialog yang kompleks dan beradab, mereka malah menyelesaikan masalah ini dengan kudeta. Mereka menjerumuskan negara mereka sendiri ke dalam kekacauan, ke dalam tatanan ekonomi dan sosial yang hancur, dan ke dalam perang sipil dengan jumlah korban yang luar biasa besar,” ujar Putin.

 

“Rupanya, mereka terus-menerus ingin memperbarui warna revolusi, menganggap diri sebagai seniman jenius, tidak bisa berhenti, dan sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya,” kata sang presiden.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.