Gorbachev: Perselisihan Rusia dan Barat Rugikan Semua Pihak

Mikhail Gorbachev saat menghadiri World Forum on Enterprise and the Environment di Oxford, Inggris, 27 Juni 2010. Foto: Features/Fotodom

Mikhail Gorbachev saat menghadiri World Forum on Enterprise and the Environment di Oxford, Inggris, 27 Juni 2010. Foto: Features/Fotodom

Menjelang peringatan runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November mendatang, RBTH dan Rossiyskaya Gazeta mewawancarai Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet yang mencetuskan penghancuran tembok yang membelah Jerman barat dan Jerman Timur tersebut. Gorbachev bertutur mengenai situasi kala itu dan membandingkannya dengan situasi saat ini.

 

RBTH: Pada musim panas 1989, Anda bertemu dengan Kanselir Kohl dan sempat ditanyai pendapat mengenai Tembok Berlin. Ketika itu Anda menjawab, “Tidak ada yang abadi di bawah naungan Bulan. Tembok ini bisa saja hilang jika fondasi ideologi yang menciptakan tembok tersebut runtuh. Saya tidak melihat ada masalah besar di sini.” Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada November 1989, tembok tersebut runtuh.

Sebenarnya, bagaimana Anda memperkirakan perkembangan keadaan kala itu?

Mikhail Gorbachev (M.G.): Pada musim panas tersebut, baik saya maupun Helmut Kohl tidak menyangka semua itu akan berlangsung dengan cepat. Kami tidak pernah menduga Tembok Berlin akan runtuh di bulan November, dan selang beberapa waktu kemudian Jerman Barat dan Jerman Timur pun memutuskan untuk bersatu.

Dalam hal ini, saya bukannya mau mengejar gelar ‘pahlawan’. Hal seperti itu memang wajar terjadi dalam sejarah. Sejarah akan menghukum mereka yang terlambat, namun sejarah akan menghukum mereka yang berusaha menghalangi jalannya lebih berat.

Mempertahankan rezim ‘tirai besi’ adalah sebuah kesalahan besar. Oleh karena itu, kami tidak pernah memberikan tekanan apapun pada Jerman Timur. Ketika situasi berkembang dengan sangat cepat, para petinggi Uni Soviet dengan satu suara—hal ini yang saya ingin tekankan—mengambil keputusan untuk tidak ikut campur dalam proses internal di Republik Demokrasi Jerman (Jerman Timur). Pasukan kami tidak akan bergerak dari pangkalannya, apapun yang terjadi. Hingga saat ini saya yakin bahwa itu adalah keputusan yang tepat.

RBTH: Anda sempat dilimpahi tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah terkait perkembangan situasi dunia. Peran dunia internasional terhadap masalah di Jerman, yang didukung oleh para penguasa adidaya dan pemerintah negara lain, menunjukan tingginya rasa tanggung jawab dan “kualitas” politikus generasi itu. Anda memperlihatkan bahwa hal tersebut dapat dilakukan jika itu semua dituntun dengan apa yang Anda definisikan sebagai “pemikiran baru”.

Menurut Anda, seberapa besar para pemimpin adidaya saat ini mampu menyelesaikan berbagai masalah aktual melalui jalan damai? Dan apa saja perubahan yang terjadi setelah 25 tahun perjalanan pencarian jawaban atas tantangan geopolitik?

M.G.: Reunifikasi Jerman bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari proses penghentian Perang Dingin. Jalan untuk mewujudkan persatuan itu telah dibuka oleh restrukturisasi dan demokrasi di negara kami. Tanpa kedua faktor tersebut, Eropa masih akan berkutat puluhan tahun lagi dalam keadaan dingin dan tercerai-berai, dan saya yakin akan berkali-kali lebih sulit bagi Eropa untuk dapat keluar dari kondisi seperti itu.

‘Pemikiran baru’ adalah pengakuan bahwa ancaman global—yang pada saat itu berupa ancaman perang nuklir—hanya dapat disingkirkan dengan upaya bersama. Itu menandakan pentingnya usaha untuk membangun kembali hubungan baik antarnegara di dunia, melakukan dialog, serta mencari jalan untuk menghentikan perlombaan persenjataan. Kita perlu mengakui kebebasan seluruh masyarakat untuk memilih, mempertimbangkan kepentingan satu sama lain, serta berupaya membangun hubungan kerja sama dan mempererat kontak satu sama lain untuk menghindari terjadinya konflik dan peperangan di Eropa.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi dasar dari Piagam Paris untuk Eropa Baru yang dikeluarkan pada 1990. Piagam tersebut merupakan salah satu dokumen politik terpenting yang telah disepakati oleh semua negara Eropa, AS, dan Kanada. Dokumen tersebut perlu ditindaklanjuti dengan langkah konkret untuk mengembangkan dan mewujudkan mekanisme kerja sama, mekanisme pencegahan konflik, serta kejelasan posisi dokumen tersebut. Contohnya, kala itu sempat muncul ide mengenai pembentukan Dewan Keamanan Eropa. Saya tak ingin menentang generasi pemimpin waktu itu ataupun generasi pemimpin selanjutnya. Namun fakta adalah fakta, bahwa itu semua tidak dilakukan. Pertumbuhan Eropa yang tidak selaras, bisa dikatakan, juga didorong oleh melemahnya Rusia di era 1990-an.

Kini kita mau tak mau harus mengakui bahwa krisis politik Eropa dan dunia sudah ada di pelupuk mata. Salah satu penyebab krisis tersebut, meski ini bukan satu-satunya, adalah keengganan pihak Barat untuk memperhitungkan sudut pandang serta kepentingan Rusia yang sah terkait keamanan negaranya. Rusia dielu-elukan dengan kata-kata manis, terutama pada masa kepemimpinan Yeltsin. Namun dalam tindakan, Rusia tidak diperhitungkan. Hal yang saya maksud di sini adalah perluasan NATO, rencana penggunaan sistem pertahanan rudal di Eropa, dan tindakan Barat di wilayah-wilayah yang penting bagi Rusia seperti Yugoslavia, Irak, Georgia, dan Ukraina. Mereka dengan jelas mengatakan, “Itu bukan urusan Anda (Rusia)!”. Hasilnya, muncul gesekan kecil yang akhirnya menjadi besar.

Saya menyarankan para pemimpin Barat untuk lebih berhati-hati menganalisa situasi, bukan malah menyalahkan Rusia atas semua yang terjadi. Mengingat kembali seperti apa Eropa yang berhasil kami ciptakan di awal era 1990-an, saya prihatin melihat bagaimana Eropa diubah dalam beberapa tahun terakhir.

RBTH: Bagi setiap orang Rusia dan Ukraina, hubungan bilateral antara kedua negara saat ini merupakan tema yang sensitif. Sebagai orang yang memiliki darah Rusia dan Ukraina, Anda menulis dalam epilog buku Anda, “After Kremlin”, bahwa semua yang sedang terjadi saat ini membuat Anda sedih.

Menurut Anda, bagaimana jalan keluar untuk menyelesaikan krisis Ukraina? Lalu, bagaimana prediksi Anda terkait perkembangan hubungan Rusia dengan Ukraina, Eropa, dan AS dalam beberapa tahun mendatang?

M.G.: Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi jelas dalam waktu dekat. Tapi tentu Kesepakatan Minsk dari pertemuan pada 5 September dan 19 September lalu harus dilaksanakan secara penuh.

Situasi nyata yang terjadi saat ini terlihat rentan. Gencatan senjata terus-menerus dilanggar. Namun dalam beberapa hari terakhir tercipta kesan bahwa proses tengah berjalan, dimulai dengan terciptanya zona demiliterisasi, penarikan kembali persenjataan berat, serta adanya kunjungan berkala dari pihak pengawas (OSCE), termasuk dari Rusia.

Jika kita berhasil mempererat hubungan tersebut, maka itu akan menjadi pencapaian yang sangat besar, namun itu hanya langkah pertama. Perlu diakui bahwa hubungan antara Rusia dan Ukraina mengalami kerusakan yang berat. Kita tak boleh membiarkan hubungan itu berubah menjadi pengasingan satu sama lain bagi bangsa kami. Dalam hal ini, tanggung jawab besar terletak pada para pemimpin kita, Presiden Putin dan Poroshenko. Mereka harus memberi contoh. Kedua pihak perlu menekan intensitas emosi masing-masing. Siapa yang benar, siapa yang salah, itu urusan nanti. Sekarang yang penting adalah melakukan dialog terkait masalah konkret yang ada di depan mata.

Usaha menormalkan kembali kehidupan di daerah-daerah yang paling menderita akibat konflik, mengesampingkan sejenak masalah status daerah tertentu di Ukraina, dan usaha lain sebenarnya dapat dilakukan oleh Ukraina, Rusia, dan Barat, baik secara bersama-sama ataupun terpisah.

Mikhail Gorbachev saat menghadiri Cinema for Peace di Berlin pada 15 Agustus 2010. Foto: DPA/Vostok-Photo 

Ukraina perlu melakukan banyak hal agar perdamaian dapat terwujud di negaranya, agar setiap orang di sana dapat merasakan menjadi warga negara yang hak dan kepentingannya terjamin dengan baik. Upaya pemberian jaminan konstitusi dan hak tidak sebanyak upaya yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata sehari-hari para warga sipil. Saya sarankan, selain mengadakan pemilu, Ukraina perlu segera melakukan pertemuan antara perwakilan seluruh region dan lapisan masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, semua pihak dapat dengan bebas mengangkat dan membahas semua masalah yang mereka hadapi.

Terkait hubungan Rusia dengan Barat, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah keluar dari logika saling menyalahkan dan perang sanksi. Menurut saya, Rusia telah melakukan langkah tersebut dengan menolak untuk memberikan reaksi balasan atas pemberlakuan sanksi Barat yang terakhir. Kini keputusan di tangan mitra kami. Saya pikir, mereka perlu membatalkan sanksi-sanksi perorangan. Bagaimana bisa melakukan dialog, sementara Anda “menghukum” para pengambil keputusan yang berpengaruh terhadap politik negara? Berbicara satu sama lain adalah hal yang penting. Sayangnya, aksioma ini benar-benar telah terlupakan.

Saya yakin ketika dialog berhasil dipulihkan kembali, akan muncul titik-titik persinggungan. Cukup perhatikan keadaan sekitar: dunia menjadi tegang, tantangan menyeluruh, dan sejumlah besar masalah yang terjadi, semua itu bisa diselesaikan hanya dengan upaya bersama. Perselisihan antara Rusia dan Uni Eropa merugikan semua pihak. Perselisihan itu terus melemahkan Eropa, saat persaingan global terus tumbuh dan “pusat gravitasi” kebijakan dunia lain terus menguat.

Kita tidak boleh lepas tangan atas masalah ini, ataupun tertarik masuk dalam perang dingin yang baru. Ancaman menyeluruh terhadap keamanan kita belum hilang. Beberapa waktu terakhir, muncul gerakan ekstem yang sangat berbahaya yaitu organisasi ISIS. Masalah ekologi, kemiskinan, migrasi dan epidemi semakin meruncing. Ini bukan hal yang mudah, namun tidak ada jalan lain selain menghadapinya bersama-sama.

Artikel Terkait

Pertemuan NATO Berpotensi Memprovokasi Rusia

Rencana FBI Antisipasi Invasi Tentara Soviet ke Alaska Saat Masa Perang Dingin Terkuak

Tantangan Diplomasi Rusia Setelah Masa Perang Dingin

Rusia dan Barat di Ambang Perang Dingin

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.