Moskow dan Washington Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Lawan ISIS

Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berdiskusi dalam pertemuan selama tiga jam di Paris. Foto: Eduard Pesov/MFA Russia

Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berdiskusi dalam pertemuan selama tiga jam di Paris. Foto: Eduard Pesov/MFA Russia

Dalam pertemuan selama tiga jam di Paris, Menteri Luar Negeri Rusia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperluas kerja sama melawan milisi ISIS. Mereka juga mencapai kesepakatan mengenai penanganan krisis politik di Ukraina. Menurut pakar Rusia, perubahan kebijakan sanksi akan meningkatkan keikutsertaan Moskow dalam perang melawan terorisme.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry di Paris pada Selasa (14/10) lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memperluas kerja sama melawan teroris di wilayah Timur Tengah.

Lavrov mengakui bahwa pertemuan dengan Kerry menghasilkan sesuatu, meski AS belum bersedia mencabut sanksi terhadap Rusia. Secara umum, kedua diplomat bersikap positif setelah pembicaraan tersebut. Mereka setuju bahwa Rusia dan Amerika Serikat harus menyelesaikan perselisihan di antara mereka, namun tetap fokus berupaya mencari pijakan yang sama.

Pertukaran Intelejen

Moskow dan Washington sepakat meningkatkan pertukaran intelijen untuk melawan kelompok radikal ISIS yang telah menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah. John Kerry, mengutip Sergey Lavrov, mengatakan bahwa terdapat sekitar 500 warga Rusia yang saat ini ikut berperang dalam pasukan ISIS.

“Bagaimanapun juga, Rusia dan AS dapat meningkatkan kerja sama untuk berperang melawan teror yang kini tengah menjadi ancaman utama di Timur Tengah, dan perang melawan virus Ebola,” tutur Lavrov.

Dalam tulisan seorang ahli militer independen, Dimitri Litovkin, Rusia dan Amerika Serikat menunjukan bentuk kerja sama yang mirip seperti yang telah mereka lakukan di awal operasi NATO di Afghanistan pada 2001. “Layanan intelijen kedua negara tersebut sangat interaktif dalam melawan Taliban sejak 2001. Hal serupa akan diterapkan untuk melawan ISIS,” kata Litovkin.

Namun Litovkin mengingatkan bahwa banyak hal yang telah berubah dari hubungan antara Moskow dan Washington sejak 2001. Oleh karena itu, masih terlalu dini mengharapkan kerja sama yang mendalam, bahkan dalam perang melawan musuh bersama. “Pencabutan sanksi jelas akan meningkatkan penyelidikan dan bantuan Rusia dalam perang melawan ISIS.”

Upaya Diplomasi AS

Di malam sebelum pertemuan antara Lavrov dan Kerry, beberapa sumber media Rusia melaporkan bahwa tujuan Menteri Luar Negeri AS di Paris adalah untuk meyakinkan Moskow agar menekan milisi di Ukraina tenggara sehingga mereka bersedia menyerahkan beberapa titik perbatasan pada Kiev, serta membujuk pemimpin Suriah Bashar Assad untuk mundur dari jabatannya.

Namun, Ketua Dewan Presidium Kebijakan Pertahanan dan Luar Negeri Rusia Fyodor Lukyanov menyatakan tak ada pengumuman penting setelah pertemuan tersebut. “Saya rasa pemerintahan Obama tak akan mampu mengubah keadaan ataupun persepsi masyarakat AS mengenai kebijakan luar negeri pemerintah mereka dalam waktu yang tersisa sebelum pemilihan kongres. Situasi saat ini agak tidak menyenangkan bagi Obama. Di mata masyarakat AS, tampaknya ia tidak cukup keras pada Moskow,” papar Lukyanov.

Lukyanov berasumsi tujuan utama pembicaraan tersebut adalah untuk mendukung komunikasi dan dialog dua arah demi pemecahan permasalahan genting kebijakan dunia.

“Hal yang paling menakutkan sekarang adalah hilangnya komunikasi, karena ini akan mengakibatkan hilangnya jalinan tindakan dan kepentingan yang ditunjukkan kedua negara untuk mengatasi masalah keamanan internasional,” kata Lukyanov. “Tapi saat ini masih belum ada perjanjian nyata antara Amerika Serikat dan Rusia, dan sepertinya itu memang tidak akan ada,” ujar sang pakar.

Tak Mungkin Tanpa Pencabutan Sanksi

Sikap Moskow untuk memperbaharui kerja sama dengan Washington juga ditekankan kembali oleh Perdana Menteri Rusia Dmitri Medvedev dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi AS CNBC. Menurut Medvedev, sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia menyebabkan rusaknya hubungan Rusia dan Amerika Serikat, sementara pembicaraan mengenai cara memperbaiki kembali hubungan tanpa mencabut sanksi terlebih dahulu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan sekarang ini.

“Tentu saja, tidak,” kata Medvedev. “Jelas tidak mungkin. Jujur saja, kami bukanlah pihak yang membuat sanksi tersebut. Para mitra kami di dunia internasional yang membuatnya. Kami di Rusia cuma bisa berharap biar Tuhan yang jadi hakimnya.”

Medvedev menyampaikan Rusia tentu akan mampu menghadapi sanksi dari Barat. “Saya yakin lambat laun sanksi ini akan sepenuhnya hilang. Tapi kerusakan yang ditimbulkan pada hubungan kami sangat jelas,” ujar Medvedev.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.