Pembangunan Masjid di Moskow Diprotes Warga, Mengapa?

Organisasi-organisasi muslim menyatakan ketidakpuasannya karena hanya ada empat masjid di Moskow, sementara masjid yang paling besar di pusat kota Moskow sedang dibangun kembali. Foto: RIA Novosti

Organisasi-organisasi muslim menyatakan ketidakpuasannya karena hanya ada empat masjid di Moskow, sementara masjid yang paling besar di pusat kota Moskow sedang dibangun kembali. Foto: RIA Novosti

Moskow dihuni oleh perwakilan semua agama besar di Rusia, namun sayangnya jumlah tempat ibadah di kota tersebut tidak sebanding dengan jumlah penganut agama-agama itu. Beberapa waktu belakangan, para penduduk Moskow yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan gereja-gereja Ortodoks, vihara, dan masjid baru melakukan aksi protes. Mengapa bisa demikian? RBTH menyingkap alasan mereka melancarkan gerakan protes tersebut.

Setiap hari raya agama Islam, puluhan ribu umat muslim berkumpul di sekitar Masjid Agung Moskow di daerah Prospekt Mira. Meski pemerintah Moskow sudah menyediakan empat area sebagai tempat pelaksanaan ibadah di luar empat masjid yang ada di Moskow atas permintaan organisasi-organisasi muslim setempat, tetap saja area tersebut tidak dapat menampung para umat yang hendak beribadah di sana. Akhirnya, banyak muslim yang terpaksa beribadah di pinggir jalan di depan masjid.

Organisasi-organisasi muslim menyatakan ketidakpuasannya karena hanya ada empat masjid di Moskow, dan masjid yang paling besar dari segi ukuran dan kapasitas—yang terletak di pusat kota Moskow di Prospekt Mira—sedang dibangun kembali agar bisa menampung lebih banyak jemaah dan sekaligus memperbaiki arah kiblat.

“Rusia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman ras dan kepercayaan. Selain saudara-saudara kami yang beragama Ortodoks, kami para umat Islam, Budha, dan penganut agama lain juga membutuhkan tempat beribadah,” ujar mufti Moskow dan region Sentral Rusia Albir Krganov pada Lenta.ru. Ia juga mengatakan bahwa lima masjid berukuran tidak besar di kota Moskow bisa memenuhi kebutuhan umat Muslim di Moskow. Hal itu dapat dirasakan ketika berlangsungnya ibadah salat Jumat. Empat masjid di Moskow hanya dapat menampung 10 ribu orang, dan masih ada 15-20 ribu orang lagi yang terpaksa beribadah di pinggir jalan.

Perwakilan agama Budha, salah satu agama yang cukup kental di Rusia, bahkan tidak memiliki satu pun tempat ibadah di Moskow. Namun Ketua Pusat Agama Budha Moskow Tri Dragotesnnosti Tatyana Odushpayak menyatakan pada M24.ru bahwa dua vihara baru akan dibangun di Moskow bagian barat dan utara mulai September. Keputusan pemberian lahan untuk pembangunan tempat beribadah tersebut diambil oleh Komisi Pertanahan dan Tata Letak Kota Moskow.

Sarat Aksi Protes

Demonstrasi aktif yang memprotes pembangunan masjid baru mulai berkembang pada 2010, yang dimulai dari aksi demo di distrik Tekstilshiki, Moskow bagian tenggara. Penduduk setempat menggelar aksi demo “Moi Dvor” (yang berarti “pekarangan saya”) dan mengutarakan ketidaksetujuan mereka akan rencana pembangunan komplek tempat ibadah Islam di salah satu ruas jalan mereka. Pada 2012, ketika muncul isu aka nada masjid baru distrik Mitino, penduduk setempat pun berbondong-bondong menentang hal tersebut.

“Saat ini jumlah masjid di Moskow sudah sesuai dengan kebutuhan penduduk kota, jadi untuk sementara pembangunan masjid tidak perlu dilakukan,” kata Vladimir Resin. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan sikap resmi pemerintah kota Moskow, yang menilai bahwa sebagian besar para pengunjung masjid pada waktu hari raya adalah para imigran asing atau penduduk sekitar pinggiran kota Moskow, bukan penduduk Moskow sendiri.

Akan tetapi Ketua Dewan Mufti Rusia Ravil Gaynutdin sudah berulang kali menyatakan bahwa masjid di ibukota sudah tidak mencukupi kebutuhan umat Islam di kota tersebut. Sehubungan dengan itu, ia telah melayangkan petisi pada pemerintah kota Moskow, namun hingga saat ini belum ada jawaban.

Gaynutdin memperkirakan seharusnya di setiap sepuluh divisi administratif (okrug) kota Moskow terdapat satu masjid. “Kami siap membangunnya. Petisi terkait hal tersebut sudah kami sampaikan pada pemerintah Moskow dan saat ini petisi kami sedang dalam tahap evaluasi,” kata Gaynutdin. Ia menyampaikan rencana pembangunan masjid dibuat berdasarkan kepentingan dan kebutuhan penduduk muslim yang telah menetap di region-region kota Moskow. “Akan tetapi perlu diperhitungkan kembali bahwa sejumlah pekerja migran sementara di Moskow pada akhirnya akan menetap, lalu mendapat registrasi permanen dan menjadi warga negara Rusia. Jika itu terjadi, maka jumlah penduduk beragama Islam di Moskow akan terus meningkat,” kata Gaynutdin pada RIA Novosti.

Perdebatan Alot

Masalah pembangunan tempat ibadah juga dialami oleh organisasi-organisasi agama Kristen Ortodoks. Pada 2011 lalu, sempat diluncurkan program pembangunan 200 buah gereja di Moskow. Kini rencana tersebut akan ditingkatkan dua kali lipat. Di daerah yang belum lama ini disatukan ke dalam kota Moskow rencananya akan dibangun 180 gereja tambahan. Hal tersebut diungkapkan oleh Vladimir Pesin, kurator program tersebut, sekaligus Penasihat Walikota Moskow dan Uskup Agung Moskow dan seluruh kawasan Rus (sebutan untuk Rusia pada zaman dulu).

“Angka 200 tidak pernah tertulis dalam keputusan pemerintah kota Moskow mengenai program pembangunan gereja. Terlebih lagi, program tersebut bersifat sukarela, dilaksanakan berdasarkan hasil sumbangan dan bergantung sepenuhnya pada permintaan warga sekitar,” terang Pesin pada RBTH.

Hampir segera setelah permulaan pelaksanaan program pembangunan gereja-gereja Kristen Ortodoks, muncul gerakan protes terhadap program tersebut. Gerakan perlawanan terhadap rencana pembangunan gereja Kristen Ortodoks, pada dasarnya berasal dari kelompok inisiatif warga Moskow dan organisasi masyarakat setempat.

Para penentang pembangunan gereja Kristen Ortodoks belum berhasil mencapai kesuksesan nyata. Sejauh ini, hanya ada peninjauan dan pembahasan kembali beberapa lahan pembangunan yang rencananya akan dilakukan di taman.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.