NATO Mulai Susun Kebijakan untuk ‘Membendung’ Rusia

Dalam pertemuan NATO di Wales belum lama ini, para pemimpin NATO banyak membicarakan ‘pencegahan agar Rusia tidak bergerak lebih jauh’. Namun, mereka mengatakan tidak berniat mengarahkan rudal ke Rusia. Sebaliknya, mereka ingin mempertahankan dialog politik dengan Moskow, bahkan di bawah kondisi hubungan yang membeku.

Ilustrasi oleh Sergei Yolkin.

Berkenaan dengan keputusan untuk menyebarkan Pasukan Reaksi Cepat (Rapid Reaction Force) di perbatasan Rusia, ahli militer melihat ini sebagai sikap demonstratif, bukan ancaman nyata.

Deklarasi akhir KTT tersebut menyatakan bahwa NATO berkomitmen bekerja sama dengan Rusia dan mengembangkan hubungan konstruktif dengan Rusia. Interaksi dengan Moskow, seperti yang tercantum dalam dokumen, memproyeksikan penguatan rasa saling percaya, keterbukaan, dan pertumbuhan saling pengertian mengenai kekuatan nuklir nonstrategis di Eropa, yang harus didasarkan pada kepentingan bersama keamanan Eropa. “Kami menyesal saat ini kondisi tidak memungkinkan untuk mengembangkan hubungan tersebut,” demikian bunyi deklarasi tersebut. Namun, dalam pernyataan tersebut juga tertulis bahwa saluran politik masih tetap terbuka.

Moskow sendiri tidak hendak memutuskan hubungan dialog dengan NATO. "Kami siap bekerja sama dengan aliansi asalkan mereka akan mempertimbangkan kepentingan nasional Rusia," kata Alexander Grushko, Perwakilan Tetap Rusia untuk NATO.

Namun, dalam pertemuan tersebut anggota NATO tidak berhenti sebatas mengecam posisi Rusia. Beberapa keputusan diambil terkait langkah-langkah konkret penangkalan aksi Rusia, yang membangkitkan kenangan akan Perang Dingin. "Kami telah menyepakati Rencana Aksi Siaga untuk memperkuat pertahanan kolektif NATO. Ini merupakan demonstrasi solidaritas dan tekad kami,” kata Sekretaris Jenderal NATO Demisioner Anders Fogh Rasmussen pada konferensi pers setelah pertemuan NATO.

Dalam rencana tersebut, negara-negara NATO akan mempertahankan kelompok yang diperkuat di perbatasan timur aliansi. "Kami akan mempertahankan kehadiran pasukan yang berkesinambungan di darat, laut, dan udara negara-negara bagian timur aliansi secara berotasi," tambah Rasmussen.

Selain itu, sekutu NATO berjanji meningkatkan anggaran pertahanan mereka, dan sebagian uang ini akan dialokasikan untuk menciptakan Pasukan Reaksi Cepat yang akan berlokasi sedekat mungkin dengan perbatasan Rusia seperti di negara-negara Baltik, Polandia, dan Rumania. Perdana Menteri Inggris David Cameron mengakui bahwa dari pangkalan-pangkalan baru ini Rusia dapat dijangkau dengan mudah. “Ini merupakan kelanjutan dari kebijakan menekan Moskow untuk memaksa Kremlin berhenti mendukung separatis di timur Ukraina,” kata Cameron.

Reaksi Rusia cukup dapat diprediksi. Menurut Duta Besar Grushko, seperti dikutip RIA Novosti, "Krisis Ukraina telah dimanfaatkan tidak hanya untuk memperkuat hubungan antara Ukraina dan NATO, tetapi juga untuk ‘memperkuat cengkraman NATO’ di perbatasan Rusia.”

Pasukan Reaksi Cepat yang Tak Bergerak

Sementara itu, para ahli Rusia mengatakan ancaman militer yang digaungkan oleh NATO tak perlu dibesar-besarkan. Presiden Institut Studi Strategis Alexander Konovalov menekankan bahwa NATO tidak terlalu terdesak menempatkan Pasukan Reaksi Cepat di perbatasan dengan Rusia. "Bagi NATO, ini adalah cara untuk menunjukkan pada negara-negara Eropa Timur dan Tengah mengenai tekad blok tersebut untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan pasal kelima dari Washington Treaty, yang menyatakan ‘Serangan terhadap satu negara, berarti serangan terhadap semua’,” ujar Konovalov.

Menurut Konovalov, ini adalah "masa keemasan" bagi anggota NATO Eropa Timur. "Mereka telah berusaha, selama beberapa tahun untuk membuktikan bahwa perlindungan mereka memerlukan pengeluaran lebih banyak uang, dan bahwa ada kebutuhan untuk bertindak tegas karena Rusia jauh lebih berbahaya daripada kelihatannya," kata sang ahli. "Ini adalah saat yang tepat bagi mereka dan mereka mengambil keuntungan dari momen ini untuk mendapatkan sebanyak mungkin janji dari Eropa Lama dan Amerika Serikat, serta aksi nyata untuk menjamin keamanan mereka," lanjut Konovalov

Namun, Konovalov menilai secara umum pembentukan Pasukan Reaksi Cepat serta kemungkinan pendirian pangkalan militer tidak lebih dari sekedar sinyal untuk Rusia. Solusi ini juga tidak memiliki efek material terhadap keseimbangan kekuasaan di Eropa, malah lebih merupakan kebisingan daripada kegiatan nyata. Menurut Konovalov, perkembangan masa depan hubungan Rusia dan NATO tergantung pada reaksi yang kini mungkin diambil Moskow.

"Pernyataan Rasmussen tidak lebih dari sebuah demonstrasi bahwa NATO sedang berubah dalam menanggapi tantangan dan ancaman terhadap anggota barunya,” ujar Viktor Litovkin, seorang ahli militer yang independen pada RBTH. “Dalam beberapa tahun terakhir, blok NATO tidak memiliki raison d'etre (alasan keberadaan -red.) yang nyata. Tidak ada ancaman. Di sisi lain, ini adalah isyarat untuk menenangkan "anggota baru" aliansi di Eropa Timur dan negara-negara Baltik yang paranoid terhadap Rusia. Ini adalah jenis pernyataan yang aneh, bahwa NATO tidak meninggalkan akan miliknya sendiri. Namun, bagaimana semua ini akan dilaksanakan dalam praktiknya menimbulkan banyak pertanyaan,” kata Litovkin.

Menurut Litovkin, Pasukan Reaksi Cepat terkesan memiliki mobilitas tinggi, namun sesungguhnya hal tersebut sulit untuk dijamin. Litovkin mengingatkan bahwa NATO tidak memiliki pesawat angkut militer sendiri. “Transportasi pasukan NATO ke Irak dan Afghanistan disediakan oleh perusahaan Rusia-Ukraina Volga-Dnepr. Amerika Serikat tidak akan membantu karena mereka juga kekurangan pesawat angkut militer untuk mereka sendiri, oleh karena itu mereka menyewanya dari Rusia,” papar Litovkin.

Artikel Terkait

Wakil Sekjen NATO: NATO Bekukan Hubungan dengan Rusia Hingga Moskow Penuhi Kewajiban Internasional

Lavrov: Pernyataan Obama Mengenai Amandemen Kesepakatan Rusia-NATO Tak Benar

NATO Akan Menempatkan Pasukan di Perbatasan Rusia

Kedutaan Besar Rusia di Uni Emirat Arab Kicaukan Ledekan untuk NATO

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.