Lukyanov: Hubungan Rusia-Barat Akan Rusak untuk Waktu yang Lama

Analis dan editor politik majalah Russia in Global Politics Fyodor Lukyanov meyakini bahwa selama kurang lebih 20 tahun kemerdekaannya, Ukraina masih belum memiliki kesatuan yang kuat. Foto: Vladimir Stakheev

Analis dan editor politik majalah Russia in Global Politics Fyodor Lukyanov meyakini bahwa selama kurang lebih 20 tahun kemerdekaannya, Ukraina masih belum memiliki kesatuan yang kuat. Foto: Vladimir Stakheev

Analis dan editor politik majalah Russia in Global Politics Fyodor Lukyanov berpendapat bahwa krisis Ukraina disebabkan oleh kelemahan pemerintah dan tindakan ceroboh rezim yang menggantikan mantan Presiden Yanukovich. Ia juga yakin Rusia akan segera menghentikan kerja sama dengan Barat.

Konflik di Ukraina timur dan konsekuensi internasional yang muncul adalah topik utama kuliah yang disampaikan oleh Fyodor Lukyanov, seorang pakar Rusia berpengaruh dan pemimpin redaksi majalah Russia in Global Politics, pada Jumat (6/9) di Perpustakaan Kesusastraan Asing Moskow. Pertemuan dengan Lukyanov diselenggarakan sebagai bagian dari Kongres Penerjemah Sastra Internasional ketiga yang dihadiri penerjemah dari 55 negara.

Dalam kuliahnya, Lukyanov mengungkapkan harapannya bahwa gencatan senjata yang disepakati pada hari sebelumnya antara kaum milisi dan tentara Ukraina akan bertahan. Meski masih ada kesulitan yang menghadang, menurut Lukyanov konflik tersebut akan diselesaikan melalui jalur politik, alih-alih militer. Lukyanov menilai  fakta bahwa Rusia dan Ukraina “hampir berperang” adalah pertanda kegagalan total kebijakan-kebijakan Rusia, Barat, dan Ukraina. Lukyanov menjelaskan banyak pihak yang gegabah, terbawa situasi politik, dan cenderung melupakan betapa dekat dan bersaudara kedua negara ini bagi satu sama lain.

Kegagalan Sistem Negara Bagian

Lukyanov meyakini bahwa selama kurang lebih 20 tahun kemerdekaannya, Ukraina masih belum memiliki kesatuan yang kuat. Itulah alasan utama di balik kekacauan yang mengguncang negara tersebut, semua hal dapat menjadi percik api yang membakar sumbunya. “Jika melihat situasi saat ini, betapa menggelikannya saat mengingat ini semua bermula karena Yanukovich tidak mau menandatangani perjanjian kerja sama dengan Uni Eropa, dokumen ruwet yang membosankan setebal 900 halaman yang saya kira tidak pernah dibaca oleh orang-orang di Ukraina,” kata Lukyanov.

Menurut Lukyanov, penyebab mendasar yang sebenarnya dari konflik ini adalah kontradiksi yang terakumulasi dalam masyarakat Ukraina selama bertahun-tahun. Ini bukan hanya perselisihan antara wilayah barat negara itu, yang cenderung berpihak ke Eropa, dan wilayah timur yang pro-Rusia. Ini jauh lebih rumit: masyarakat Ukraina telah dan terus terbagi-bagi berdasarkan banyak parameter, termasuk parameter sosial. “Di Ukraina, kekuasaan oligarki telah berubah menjadi fondasi model negara,” jelas Lukyanov. “Hal yang paling luar biasa adalah Maidan dan revolusinya yang telah menyapu dan menghancurkan semua hal, namun kekuasaan oligarki masih ada dan orang-orang yang kita lihat di politik Ukraina sekarang adalah orang-orang yang sama yang telah, selama 20 tahun terakhir, membawa negara ini ke keadaannya yang sekarang,” lanjut Lukyanov.

Di saat yang sama, lanjut sang pakar, hubungan Rusia dengan Barat juga mulai berubah. Untuk waktu yang lama, Rusia mengupayakan kerja sama dan aliansi dengan dunia Barat dan Putin, yang sekarang banyak dianggap musuh bebuyutan Barat, mengawali masa kekuasaannya sebagai politikus dengan begitu mengupayakan kerja sama dengan AS dan Eropa. Akan tetapi, ternyata Rusia dan Barat gagal menemui kesepakatan. Barat ingin Rusia untuk mengikuti modelnya, yang tidak dapat diterima oleh para pemimpin Rusia, karena ambisi mereka dan karena Rusia adalah negara yang terlalu besar untuk sekadar menjadi negara Eropa biasa. Kesalahpahaman dari kedua belah pihak pun muncul di awal krisis Ukraina. Hubungan antara Rusia dan Barat memanas dan berbagai upaya untuk mendekatkan mereka telah gagal. Yang terjadi selanjutnya adalah “tarik-menarik” antara Eropa dan Rusia, dengan masing-masing pihak berusaha untuk menjadikan Ukraina berada di bawah pengaruhnya. Lukyanov kecewa dengan kedua pihak. “Tindakan kekuatan luar, baik Rusia maupun Eropa, bisa dikatakan tidak membangun. Masing-masing berkeras pada posisinya, ‘Tidak, aku tidak akan pergi’, dan akhirnya kita mendapatkan apa yang sekarang terjadi,” papar Lukyanov.

Terkait tindakan Rusia di Krimea, Lukyanov menyebutnya sebagai tindakan pragmatis. Jika Kiev diambil alih sepenuhnya oleh rezim anti-Rusia, yaitu rezim yang melengserkan Yanukovich dan yang berkuasa sekarang, isu penarikan Armada Laut Hitam Rusia dari Sevastopol pasti akan segera muncul. “Dengan berbagai alasan yang tidak ada kaitannya dengan Ukraina, Rusia merasa tidak mungkin pihaknya menarik diri dari Krimea dan kehilangan kapabilitas proyeksi kekuatan di selatan,” jelas Lukyanov. Bergabungnya Krimea menyebabkan efek domino, yang diprovokasi oleh otoritas Kiev sendiri. Alih-alih segera bekerja untuk menyatukan negara, mereka mengambil sikap yang tidak membangun dengan seolah berkata, “Maidan telah menang. Semua yang   melawan Maidan harus tutup mulut.” Sikap tersebut terang memantik protes di wilayah timur negara itu. Protes tersebut kemudian berkembang menjadi konfrontasi yang memaksa keterlibatan Rusia. Akibatnya, pertumpahan darah pun tak terhindarkan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.