Rusia Tak Inginkan Perpecahan di Ukraina

Para pakar politik menilai bahwa Kremlin jelas tidak akan membiarkan Novorossiya mengalami kekalahan militer, karena jika Donetsk dan Lugansk takluk, seluruh Ukraina akan berubah menjadi pos terdepan Barat untuk melawan Rusia. Foto: AP

Para pakar politik menilai bahwa Kremlin jelas tidak akan membiarkan Novorossiya mengalami kekalahan militer, karena jika Donetsk dan Lugansk takluk, seluruh Ukraina akan berubah menjadi pos terdepan Barat untuk melawan Rusia. Foto: AP

Moskow ingin menjaga kesatuan Ukraina, jika pemerintah Ukraina mau mendengarkan suara dari wilayah tenggara yang pro-Rusia. Kremlin memang mendukung otonomi khusus untuk Donbas, tetapi Rusia tetap ingin Donbas menjadi menjadi bagian Ukraina. Tujuan utama upaya ini adalah mencegah Ukraina menjadi anggota NATO dan menjaga status nonbloknya.

Moskow secara resmi menyatakan bahwa Kiev harus mendengarkan suara dari Novorossiya (Rusia Baru), wilayah tenggara Ukraina yang populasinya didominasi penutur bahasa Rusia dan secara tradisional lebih dekat dengan Rusia. Inilah mengapa Kremlin berupaya mewujudkan negosiasi langsung antara Kiev dan perwakilan republik pecahan tenggara itu, untuk mencapai kesepakatan mengenai prinsip pemerintahan Ukraina di masa mendatang.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negosiasi substantif dan sungguh-sungguh harus segera dilaksanakan. “Tidak hanya terkait isu-isu teknis, tetapi juga mengenai organisasi politik masyarakat dan pemerintah di Ukraina tenggara sebagai bagian dari negara, untuk menjamin kepentingan hukum penduduk wilayah tersebut,” kata Putin.

Berdasarkan hasil negosiasi yang telah dilakukan, Ukraina mungkin akan menjadi sebuah konfederasi. Hal itu dibicarakan oleh para perwakilan Donbass dalam pertemuan pada Senin (19) di Minsk. Mereka mengusulkan agar wilayah yang baru menyatakan diri sebagai republik diberi status khusus, dengan angkatan bersenjata dan sistem yudisialnya sendiri, serta hak perdagangan luar negeri yang khusus, termasuk hak untuk bergabung dengan Serikat Pabean. Dalam kasus ini, akan ada batas-batas cukai domestik antara berbagai bagian Ukraina, hal yang tidak aneh di dalam sebuah konfederasi. Sebaliknya, pemerintah Novorossiya harus berjanji untuk melakukan segala upaya untuk mendukung perdamaian dan menjaga keutuhan ruang ekonomi, budaya, dan politik di Ukraina.

Di saat yang sama, Moskow sangat menentang perpecahan Ukraina. Ini ditunjukkan dengan pernyataan Putin yang meminta Novorossiya untuk menjaga kesatuan wilayah formal Ukraina.

Menurut Sergey Markedonov, profesor bidang Humaniora di Universitas Negeri Rusia, bagi Rusia tidak jadi soal bagaimana perjanjian damai antara Kiev dan Novorossiya diformalisasi. “Pertanyaan tentang status adalah hal sekunder, tidak jadi soal apakah proses ini disebut federalisasi atau konfederasi. Proses ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu Ukraina menjadi sebuah negara penopang namun tidak menjadi alat untuk mengurung atau menekan Rusia,” kata Markedonov. Ia menambahkan, satu-satunya cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan memastikan bahwa wilayah penutur bahasa Rusia tetap menjadi bagian dari Ukraina, yang akan menjadi lawan seimbang bagi elit anti-Rusia di barat Ukraina, dan memberi mereka peralatan untuk memonitor kebijakan negara dalam bidang hubungan luar negeri, ekonomi, bahkan pendidikan.

Para pakar politik menilai bahwa Kremlin jelas tidak akan membiarkan Novorossiya mengalami kekalahan militer, karena jika Donetsk dan Lugansk takluk, seluruh Ukraina akan berubah menjadi pos terdepan Barat untuk melawan Rusia.

Ukraina kini berperan penting bukan untuk dirinya sendiri, tetapi bagi hubungan Rusia dengan Barat. Status Ukraina yang netral sangat penting bagi Kremlin. Poin ini telah terjelaskan dengan gamblang oleh berbagai pernyataan pejabat Rusia. “Jika pemerintah Ukraina mengabaikan netralitas, konsekuensinya akan sangat besar. Seruan untuk penghapusan status non-blok Ukraina telah menyebabkan kecemasan tersendiri di Moskow, mengingat adanya rencana NATO untuk memindahkan infrastrukturnya mendekati perbatasan Rusia,” jelas seorang sumber diplomatik Rusia kepada Kommersant. Maka, upaya oleh pemerintah Kiev untuk meninggalkan status nonblok mungkin akan merusak peluang untuk mencapai penyelesaian.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.