Rusia dan Iran Siap Saling Dukung

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif (kiri) dalam pertemuan di Moskow bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Foto: Flickr

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif (kiri) dalam pertemuan di Moskow bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Foto: Flickr

Pada Jumat (29/8) lalu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif berkunjung ke Moskow. Kedatangan tersebut merupakan kujungan Zarif yang ketiga ke Rusia tahun ini. Hal itu menunjukkan bahwa Teheran memiliki hubungan sangat baik dengan Rusia.

Dalam pertemuan di Moskow bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, terdapat pembicaraan mengenai pendalaman hubungan kerja sama perdagangan dan ekonomi Rusia dengan negara-negara Islam, penurunan ketegangan seputar program nuklir Iran, serta kondisi di Suriah dan Irak.

Tujuan utama Zarif bertemu Lavrov adalah mempersiapkan kunjungan resmi Presiden Iran Hassan Rouhani ke Rusia. Kunjungan tersebut rencananya akan dilakukan pada Senin (29/9) mendatang, untuk mengikuti pertemuan negara sekitar Laut Kaspia ke-4 yang diselenggarakan di Astrakhan, Rusia.

Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri membahas isu-isu bilateral secara luas, termasuk usaha pengembangan kerja sama perdagangan dan ekonomi. Sebelum itu, Menteri Energi Rusia Aleksander Novak dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh telah menandatangani memorandum kesepakatan bilateral berjangka lima tahun pada Selasa (5/8) lalu di Moskow. Adapun Javad Zarif mengatakan bahwa sejumlah kesepakatan dan kontrak konkret antara Rusia dan Iran akan dibuat pada 9-10 September mendatang di Teheran, dalam pertemuan Komisi Bilateral Rusia-Iran bidang kerja sama ekonomi dan perdagangan.

Paket kerja sama bisnis Rusia-Iran terdiri dari tiga proyek utama. Pertama adalah kontrak jual beli minyak bumi bernilai 20 miliar dolar AS dan suplai 500 ribu barel minyak mentah Iran per hari. Minyak tersebut akan dibayar menggunakan produk industri Rusia dan jasa teknisi dan tenaga ahli Rusia.

Kedua adalah proyek “Jembatan Energi” yang bernilai 8-10 miliar dolar AS. Proyek ini meliputi ekspor 500 megawatt energi listrik Rusia ke Iran, pembangunan kapasitas pembangkit baru, serta modernisasi seluruh jaringan penghantar listrik Iran.

Ketiga ialah proyek jalur kereta api senilai satu miliar euro, yang berisi modernisasi dan elektrifikasi jalur kereta api Iran. Hal itu dapat menurunkan biaya operasi dan meningkatkan arus transportasi serta logistik kereta api Iran.

Lavrov memperkirakan, jika ketiga proyek tersebut terlaksana, Rusia dan Iran tidak hanya mampu mencapai tingkat kerja sama sebelum pemberian sanksi pada kedua negara tersebut, namun bahkan melampauinya. Selain itu, saat Rusia memberlakukan embargo produk pangan dari Eropa dan AS, Iran memasok sayur dan buah-buahan ke pasar domestik Rusia.

“Sanksi-sanksi itu adalah sarana tidak sah untuk menekan dan mengekang politik Rusia dari luar. Sanksi tersebut bertentangan dengan norma dunia internasional,” ujar Zarif. Selain itu, Zarif menilai pemberian sanksi tersebut tidak efektif. “Sanksi tidak akan memberikan hasil apa pun. Mereka hanya dapat menekan rakyat, tidak lebih. Saya pikir rakyat Rusia sudah siap menerima tekanan tersebut demi melindungi hak-hak mereka,” lanjut Menteri Iran tersebut.

Zarif berterima kasih pada Lavrov atas sikap positif pemerintahan Rusia dalam perundingan P5 + 1 dan atas bantuan Rusia pada Iran dalam menyelesaikan masalah program nuklir di Iran.

Sehubungan dengan hal itu, Lavrov mengatakan bahwa Rusia mengambil keputusan tersebut karena menghormati hak Iran untuk melakukan kegiatan nuklir secara damai dan mengembangkan program tersebut di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). “Kami berharap kelanjutan perundingan Iran dalam format ‘6+1’ dapat mencapai kesepakatan seperti itu,” ujar Lavrov.

Bersamaan dengan itu, Lavrov mengingatkan bahwa tidak ada satu pun peserta perundingan P5 + 1 lain yang boleh mengambil keuntungan sendiri. Lavrov mengatakan bahwa pembaharuan proses perundingan program nuklir Iran dapat terjadi atas gerakan aktif Rusia memasukkan prinsip timbal-balik dan penyelesaian secara bertahap dalam setiap perundingan. “Prinsip timbal-balik dan penyelesaian secara bertahap yang menjadi dasar dari paket usulan Rusia pada November lalu dalam perundingan dengan Iran berhasil mewujudkan penyelesaian program nuklir Iran tahap awal,” kata Lavrov. Paket usulan Rusia ini membuka perspektif nyata penemuan jalan keluar penyelesaian jangka panjang dan dapat diandalkan untuk masalah nuklir Iran pada November 2014 mendatang.

Artikel Terkait

Moskow dan Riyadh Sepakati Kerja Sama Bidang Nuklir

Irak Membeli Sistem Peluncur Roket Multilaras Rusia

Peran Moskow dalam Penyelesaian Krisis Gaza

Rusia Siap Jual Rudal S-300 ke Iran

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.