Poroshenko Umumkan Gencatan Senjata Sementara di Ukraina

Layanan pers kepresidenan Rusia juga menjelaskan bahwa Putin dan Poroshenko telah menyepakati gencatan senjata sementara. Foto: Reuters

Layanan pers kepresidenan Rusia juga menjelaskan bahwa Putin dan Poroshenko telah menyepakati gencatan senjata sementara. Foto: Reuters

Setelah berbincang melalu telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengumumkan gencatan senjata sementara di wilayah Donbas. Hal tersebut disampaikan dalam situs resmi milik Poroshenko. Para ahli Rusia menilai saat ini sudah terlambat untuk mengakhiri pertumpahan darah. Keputusan tersebut dianggap menunjukan kelemahan Poroshenko dan bisa merugikan karir politik presiden Ukraina tersebut.

Sebelumnya, sekretaris pers Putin Dmitry Peskov mengonfirmasi terjadinya bahwa Putin dan Poroshenko telah berbincang melalui telepon. Namun, menurut Peskov mereka tidak berbicara tentang kesepakatan gencatan senjata antara pemimpin kedua negara. Menurut Peskov, Putin dan Poroshenko hanya membahas strategi untuk mengatasi krisis di Ukraina timur.

Pada Rabu (3/9) pagi, situs resmi dan halaman Twitter Poroshenko menerbitkan pernyataan bahwa Kiev akan menghentikan total semua aksi militer di wilayah konflik.

“Hasil pembicaraan tersebut berupa kesepakatan untuk gencatan senjata permanen di wilayah Donbas. Kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk mewujudkan perdamaian,” demikian tertulis di situs Poroshenko.

Layanan pers kepresidenan Rusia juga menjelaskan bahwa Putin dan Poroshenko telah menyepakati gencatan senjata sementara.

Namun, pemimpin Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk meragukan bahwa semua unit militer akan mematuhi perintah Poroshenko untuk menghentikan pertempuran. “Poroshenko tidak mampu mengontrol pasukan lawan, mereka juga tidak mau tunduk pada keputusan yang dibuat pemerintah Ukraina,” kata Kepala Departemen Informasi Politik Internasional dari Departemen Pertahanan Republik Rakyat Donetsk Vladislav Brig pada RIA Novosti. Brig mengaku tidak tahu jika apakah telah tercapai kesepakatan gencatan senjata dengan pihak Donetsk atau belum.

Alasan Poroshenko

Wakil Direktur Institut untuk Studi Amerika Serikat dan Kanada Pavel Zolotarev menyampaikan keputusan gencatan senjata ini sudah lama dinantikan. “Sejumlah alasan politik internal Ukraina mendorong Poroshenko untuk mengambil langkah ini, termasuk jumlah korban militer dan warga sipil yang tak terhitung,” kata Zolotarev pada RBTH.

Menurut Zolotarev, penggantian pemimpin di republik yang memisahkan diri berperan penting dalam penerapan keputusan tersebut. “Mereka bisa benar-benar menjadi tak terkendali di sana. Saya rasa hal ini telah dibahas dalam pembicaraan antara Putin dan Poroshenko,” kata Zolotarev

Zolotarev juga yakin bahwa kedatangan kapal perang AS dan Prancis ke Laut Hitam tidak memengaruhi keputusan Rusia. “Ini bukan pertama kalinya kapal-kapal seperti itu datang ke Laut Hitam dan kehadiran kapal-kapal ini tidak memiliki pengaruh sama sekali. Mereka hanya hendak memamerkan bendera dan menunjukkan sejauh mana Ukraina memiliki dukungan dari sekutu-sekutunya anggota NATO, antara lain Bulgaria, Rumania, Turki, serta mitra aliansi Atlantik Utara, yaitu Georgia, dan ... sebenarnya hampir semua negara. Namun demikian, Rusia sama sekali tidak takut dengan demonstrasi ini,” kata Zolotarev.

Menurut ahli militer independen Viktor Litovkin, tekanan untuk memerintahkan gencatan senjata yang dihadapi Poroshenko tidak hanya datang dari Rusia, tetapi juga karena serangkaian kegagalan tentara Ukraina dalam pertempuran di daerah Donetsk dan Lugansk. “Tentara Ukraina mengalami kemunduran selama beberapa pekan terakhir. Fakta dasar yang memainkan peran dalam keputusan Poroshenko adalah ketidakmampuan dan keengganan Ukraina untuk terus berperang melawan rakyatnya sendiri, tidak seperti apa yang kita lihat dengan Garda Nasional dan batalion, yang ditugaskan oleh para oligarki,” kata Litovkin.

Ia menekankan bahwa ketidakpuasan publik terhadap Nezalezhnaya sedang meningkat. Ukraina tidak ingin mengirim anak-anak mereka berperang hanya untuk melihat mereka kembali dalam peti mati atau dengan cacat fisik dan psikologi.

“Aspek keuangan, ekonomi, dan logistik dari perekonomian Ukraina juga berperan besar dalam keputusan tersebut. Selain itu, telah terjadi kegagalan dalam tiga mobilisasi perang. Ukraina di ambang keruntuhan ekonomi,” kata Litovkin.

Menurut Litovkin, Poroshenko ingin tampil sebagai pembawa damai bagi KTT NATO mendatang di Wales dan menunjukkan bahwa dukungan NATO memiliki kontribusi penting terhadap pencapaian gencatan senjata di Ukraina timur.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya adalah pertanyaan besar. Gencatan senjata ini harus terus dipertahankan. Akan ada banyak faktor yang dapat mengganggu penerapan gencatan senjata, termasuk tindakan radikal nasionalis Ukraina. Status Novorossiya adalah subyek negosiasi. Ada kemungkinan Novorossiya memperoleh status khusus di Ukraina, sehingga daerah ini akan memiliki otonomi maksimum. Bahasa Rusia bisa menjadi bahasa nasional dan warga setempat memiliki kemampuan untuk memilih pemimpin mereka sendiri, serta membentuk aparat kepolisian dan penegak hukum mereka sendiri,” tambah Litovkin.

Artikel Terkait

Putin Ingin Bernegosiasi dengan Pihak Ukraina, Selain Poroshenko

Peskov: Tak Ada Pasukan Rusia di Ukraina

Ukraina Berpotensi Jadi Sekutu Non-NATO Utama AS

Obama: Angkatan Udara AS Akan Siaga di Pangkalan Udara Estonia

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.