Dokter Anak: Kondisi Jalur Gaza Berpengaruh Buruk bagi Mental Anak

Dokter Lyudmila Al-Farraa: Saya sendiri dokter anak dan saya melihat bagaimana kejadian berpengaruh sangat buruk bagi kondisi mental anak-anak. Sementara, bantuan psikologi tidak ada sama sekali. Foto: AP

Dokter Lyudmila Al-Farraa: Saya sendiri dokter anak dan saya melihat bagaimana kejadian berpengaruh sangat buruk bagi kondisi mental anak-anak. Sementara, bantuan psikologi tidak ada sama sekali. Foto: AP

Selama 14 tahun menetap di Jalur Gaza, Lyudmila Al-Farra, seorang dokter anak di Poliklinik Pusat Khan-Yunis, telah melewati dua kali serangan militer Israel. Dalam wawancaranya bersama RBTH, Lyudmila bercerita mengenai situasi kemanusiaan di Jalur Gaza. Menurut Lyudmila, perang berkepanjangan di Timur Tengah membuat warga sipil di Jalur Gaza jauh lebih menderita dibanding para tentara.

Apakah jumlah tenaga medis di rumah sakit tempat Anda bekerja mampu menangani semua orang yang terluka?

Jelas tidak, kami sangat kekurangan tenaga medis dan perlengkapan kesehatan di sini. Bahkan peralatan pengobatan paling sederhana seperti perban dan obat sirup untuk anak-anak pun tidak ada. Pasokan obat dan tenaga medis berjumlah sangat minim, sedangkan jumlah korban luka sangat banyak. Kami yang sedikit ini tidak dapat memberikan pengobatan bagi mereka semua, bahkan sekedar pengobatan standar.

Situasi yang mencekam semakin diperburuk dengan masalah suplai tenaga listrik. Banyak stasiun pembangkit listrik yang hancur, sehingga di sini kami hanya bisa mendapat listrik dari pukul 15.00 sampai 17.00. Selebihnya tidak ada listrik sama sekali, jadi terpaksa kami bekerja di bawah sorotan senter kecil dan cahaya lilin. Tentu saja sulit memberikan pengobatan yang sesuai standar dalam keadaaan seperti itu.

Bagaimana situasi kemanusiaan di Jalur Gaza saat ini?

Jumlah pengungsi saat ini telah mencapai 250 ribu jiwa. Rumah mereka hancur, sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke sekolah-sekolah. Tak ada tenda untuk para pengungsi, mereka terpaksa tidur di atas matras. Mereka juga tidak punya air, roti, dan pakaian ganti.

Sebentar lagi mereka akan segera diminta keluar dari sekolah, karena anak-anak akan mulai bersekolah kembali. Tapi sementara ini hal tersebut belum dilakukan. Kami bahkan tidak tahu, apa mereka benar-benar bisa mulai sekolah pada 1 September nanti.

Beberapa orang terpaksa tidur di matras di pinggir jalan. Seperempat penduduk Jalur Gaza terpaksa tinggal di tempat terbuka, beratapkan langit.

Sebenarnya adakah tempat berlindung aman di Jalur Gaza? Bagaimana mereka dapat berlindung dari serangan bom?

Rumah kami termasuk tinggi, sehingga kami dapat melihat laut dan sekeliling Jalur Gaza. Kami sering melihat pesawat jet terbang dan meluncurkan bom, setelah itu rumah mulai bergetar dan debu berterbangan di mana-mana. Banyak srpihan yang terbang hingga ke rumah kami.

Lyudmila Al-Farraa adalah seorang dokter anak di Poliklinik Pusat Khan-Yunis. Suaminya adalah warga negara Palestina dan mereka memiliki tiga orang anak. Foto: Arsip RBTH

Jalur Gaza sangatlah kecil, hanya seluas 350 kilometer persegi, dan permukiman di sini sangat padat. Itu membuat tidak ada tempat berlindung yang aman bagi seluruh penduduk di sini. Pada 2009-2010, Israel hanya membom bangunan pemerintah, tapi saat ini mereka membom rumah-rumah warga dan sekolah.

Banyak orang berusaha pergi dari sini, tapi malah jatuh ke dalam perangkap. Bank-bank tutup, sehingga mengambil uang pun mustahil dilakukan. Kedutaan Besar Ukraina berjanji mengirimkan pesawat bantuan evakuasi untuk kami, tetapi itu tidak dapat mereka lakukan. Sementara, Kedutaan Besar Rusia telah berhasil melakukan evakuasi darurat bagi warga negaranya. Selama tiga konflik Jalur Gaza sebelumnya, Kedutaan Besar Rusia tidak hanya membantu warga negaranya, tetapi juga warga negara bekas Uni Soviet seperti Ukraina, Kazakhstan, dan Belarusia. Sebagian besar pendatang yang tinggal di Jalur Gaza berasal dari Ukraina dan Rusia. Sangat disayangkan sampai saat ini Kedutaan Besar Ukraina belum memenuhi janji mereka.

Bagaimana reaksi anak-anak menanggapi keadaan di Jalur Gaza saat ini?

Anak-anak di sini sudah terbiasa dengan serangan bom. Anak kecil tentu ketakutan saat mendengar suara jet tempur yang terbang di atas kota, mereka meringis, menangis, dan berteriak. Saya sendiri dokter anak dan saya melihat bagaimana kejadian berpengaruh sangat buruk bagi kondisi mental anak-anak. Sementara, bantuan psikologi tidak ada sama sekali.

Kami punya kenalan seorang dokter spesialis anestesi. Ia memiliki lima anak perempuan. Tiga orang anaknya sedang bermain di dekat rumah bersama kakeknya saat pesawat Israel terbang melewati mereka. Mereka tidak melakukan apa-apa, hanya sedang bermain. Lalu, pesawat menjatuhkan bom pada mereka. Ajaibnya, ketiga anak tersebut masih hidup, meski dua di antaranya harus dibawa ke rumah sakit akibat patah tulang kaki dan pendarahan dalam.

Hal yang paling menakutkan dari situasi ini adalah banyak anak-anak yang menjadi cacat akibat serangan militer tersebut. Rata-rata mereka terluka akibat serpihan bangunan yang hancur akibat serangan bom tersebut. bahkan ada keluarga yang empat sampai lima anaknya menjadi cacat.

Jalan keluar apa yang Anda lihat untuk konflik berkepanjangan ini?

Saya sudah 14 tahun tinggal di sini. Saya tahu betul orang Arab bukanlah teroris, mereka adalah bangsa yang cinta damai. Di setiap negara selalu ada kelompok radikal, namun mereka tidak merepresentasikan penduduk negara tersebut, karena 90 persen dari jumlah penduduk adalah warga sipil.

Di Jalur Gaza banyak sekali keluarga yang memiliki banyak anak. Tentu mereka tidak ingin perang terus berlangsung, mereka semua ingin perdamaian. Tapi baik Hamas maupun Israel tak mau mengalah dan berkompromi.

Kami yang berada di Jalur Gaza bernasib sama seperti warga Israel, menderita akibat serangan bom. Bedanya, kami tidak duduk di tempat perlindungan. Kami melihat semua yang terjadi lewat jendela rumah kami.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.