AS, ‘Musuh’ Bersama Warga Rusia yang Perkuat Nasionalisme

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat memiliki tempat yang unik di benak warga Rusia. Negara adidaya tersebut merupakan gabungan citra musuh yang ideal sekaligus sebuah cita-cita.

Ilustrasi oleh Aleksei Iorsh.

Dalam beberapa bulan terakhir, sentimen anti-AS di Rusia meningkat. Jajak pendapat yang dilakukan Levada Center menunjukkan ketidaksukaan masyarakat Rusia terhadap AS pada Mei 2014 mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah. Saat ini, 71 persen warga Rusia menyatakan tidak suka terhadap AS, sementara pada awal 1990-an angkanya di bawah 10 persen.

Hal ini tidak mengejutkan. Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an ketika Uni Soviet baru memasuki periode revolusi liberal, AS adalah cita-cita bagi Rusia, sebuah model negara yang ingin ditiru. Rusia menunjukkan itikad baik dengan melucuti senjata sendiri, menarik pasukan dari Eropa, serta mengumumkan fasilitas dan teknologi militer yang sebelumnya dirahasiakan. Secara umum, Rusia memperlihatkan tanda-tanda jatuh cinta pada AS. Negara tersebut ingin “kembali ke keluarga bangsa beradab”, yaitu menjadi bagian dari dunia Barat yang dipimpin oleh AS.

Namun, “perlu dua orang untuk berdansa” dan sayangnya Rusia dan AS tidak dapat berdansa bersama karena AS malah ingin “bertinju”. AS berupaya menggantikan Rusia di Eropa Timur setelah menjadi satu-satunya kekuatan adidaya dunia.

Reformasi liberal yang awalnya bertujuan membawa Rusia lebih dekat dengan negara-negara Barat dan mengubah kehidupan perpolitikan dan bisnis internasional malah berakibat bencana sosio-ekonomi. Cita-cita liberal dikaitkan erat dengan AS, sehingga kekecewaan atas reformasi pun menjadi kekecewaan terhadap AS.

Kekecewaan itu tumbuh perlahan, berawal pada tingkat elit. Sejak 1995, banyak elit Rusia yang mulai melihat AS sebagai ancaman keamanan bagi Rusia, bersamaan dengan fase pertama ekspansi NATO ke arah timur dan saat itu Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Rusia turun drastis.

Namun, ketika itu ancaman tersebut belum terasa di ranah politik, apalagi para penguasa Rusia saat itu berhaluan liberal. Media terus mengumandangkan “kembali ke keluarga bangsa beradab”. Akibatnya, sentimen anti-Amerika di tengah masyarakat umum yang sibuk mencari penghidupan dan bergantung pada informasi yang disajikan oleh media, masih jauh lebih kecil dibanding yang ada di kalangan kaum elit.

Situasi yang ambigu ini berubah pada akhir 1990-an, ketika dua krisis terjadi berurutan dan meruntuhkan fondasi revolusi liberal serta membangun landasan untuk revolusi balasan. Krisis moneter pada Agustus 1998 menggoyahkan keyakinan Rusia bahwa reformasi liberal akan membuat orang lebih sejahtera. Krisis Kosovo dan pemboman Beograd oleh NATO pada 1999 jelas menunjukkan bahwa posisi internasional Rusia sama sekali belum membaik. Di sisi lain, Rusia telah kehilangan status negara adidaya. Saat itulah perubahan ke arah konservatisme dimulai. Kefrustrasian kaum elit akhirnya tak tertahankan hingga merambah layar televisi. Pesan yang disiarkan oleh media pun berubah drastis dan masyarakat umum pun mulai menlancarkan sentimen anti-Amerika.

Kemudian, ideologi nasional Rusia pun berubah, didasarkan pada konfrontasi dan perlawanan terhadap sisi yang lain, suatu pihak asing.

AS adalah pihak asing ideal. Ia adalah ‘antitesis’ yang berada jauh dari daratan Rusia. Memupuk kebencian terhadap AS tidak menghadirkan ancaman bagi politik dalam negeri Rusia. Selain itu, AS juga masih memiliki ambisi imperial masa lalu. Warga Rusia yang terlahir di masa Soviet masih ingat permusuhan antara dua negara adidaya ini. Sementara orang dewasa pada periode 2000-an sudah disisipi ideologi baru yang dibawa Vladimir Putin, yang membangun kebanggaan akan sejarah Rusia, termasuk periode Soviet. Semua itu cukup untuk menjadikan AS sesosok lawan di alam kesadaran kolektif warga Rusia.

Generasi baru Rusia memiliki patriotisme yang lebih kuat. Jiwa nasionalisme mereka terbentuk ketika AS menjadi “lawan” yang menentukan posisi Rusia di dunia. Hal itu membuat anti-Amerikanisme menjadi bagian yang integral dari rasa nasionalisme itu.

Generasi Rusia yang lebih muda, yang tumbuh di periode 2000-an yang relatif sejahtera, pada awalnya cukup netral terhadap AS. Namun, setiap krisis baru dalam hubungan internasional, termasuk krisis Ukraina saat ini, menumbuhkan jiwa anti-Amerikanisme dalam benak pemuda Rusia.

Bagi pemerintah Rusia sendiri, memiliki musuh ideal seperti AS adalah hal yang baik. Saat Rusia menghadapi kesulitan, pemerintah dapat dengan mudah mengungkit konsep anti-Amerikanisme untuk menjelaskan situasi pada masyarakat. Jika perlu, histeria anti-Amerika dapat dengan mudah dicambuk untuk menarik massa yang besar. Ini menjelaskan mengapa sentimen anti-Amerika saat ini berada dalam kondisi tertinggi sepanjang sejarah seperti yang ditunjukkan jajak pendapat baru-baru ini.

Eduard Ponarin, PhD., Kepala Laboratorium Kajian Sosiologi Komparatif Higher School of Economics.

Catatan editor:

Periode revolusi liberal yang penulis paparkan meliputi reformasi politik dan ekonomi perestroika di Uni Soviet (1986-1991) di masa Gorbachev dan serangkaian reformasi ekonomi yang terjadi di Rusia (1991-1994) di bawah pemerintahan Yeltsin-Gaidar. Reformasi tersebut bertujuan menggantikan ekonomi rancangan Soviet yang telah ketinggalan zaman dan mengalami kemandekan sejak 1970-an, dengan model ekonomi pasar ala Barat. Namun, para pendukung reformasi tidak mempertimbangkan banyak aspek ekonomi Soviet, yang membuat Rusia benar-benar runtuh secara finansial pada 1998. Inflasi mencapai 200 persen setahun, negara berada dalam status gagal bayar, diikuti dengan kekecewaan publik terhadap reformasi liberal. 

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di RBC Daily.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.