Moskow dan Kiev Mulai Negosiasi Mencari Solusi Konflik

Uni Eropa siap mencabut keputusan mengenai sanksi dan memulihkan hubungan kerja sama dengan Rusia, jika Rusia proaktif dan mulai membantu mencari solusi untuk krisis Ukraina. Foto: Reuters

Uni Eropa siap mencabut keputusan mengenai sanksi dan memulihkan hubungan kerja sama dengan Rusia, jika Rusia proaktif dan mulai membantu mencari solusi untuk krisis Ukraina. Foto: Reuters

Negosiasi tiga pihak mengenai situasi di wilayah Donbass telah berlangsung di Minsk, Kamis (31/7). Pertemuan tersebut dihadiri Duta Besar Rusia untuk Ukraina Mikhail Zurabov dan Mantan Presiden Ukraina Leonid Kuchma, serta perwakilan dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa sebagai mediator. Para pengamat ragu hasil negosiasi tersebut dapat mengakhiri perang saudara di Ukraina.

Bagi Rusia, negosiasi tersebut merupakan sarana perlindungan dari tekanan dunia Barat. AS dan Uni Eropa menyalahkan sikap Moskow yang tidak koorperatif dalam permasalahan di Ukraina dan mereka kembali memberikan satu paket sanksi terhadap Rusia.

Presiden Dewan Eropa Herman van Rompuy mengatakan Uni Eropa siap mencabut keputusan mengenai sanksi dan memulihkan hubungan kerja sama dengan Rusia, jika Rusia proaktif dan mulai membantu mencari solusi untuk krisis Ukraina. Peluang itu pun terbuka saat Kiev sudah setuju bernegosiasi.

Selain itu, Moskow dapat memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menyampaikan suara rakyat Ukraina timur pada pemerintah Ukraina dan membahas kembali perihal federalisasi Ukraina dan pengguna bahasa Rusia di negara tersebut. Namun, menurut Direktur Institut Persemakmuran Negara Merdeka Filial Ukraina Denis Denisov, posisi Rusia lemah dan kecil kemungkinan mereka akan didengar. “Salah satu penyebabnya adalah negosiator perwakilan Rusia yang dinilai lemah,” ujar Denisov pada koresponden RBTH.

Beberapa pengamat ahli yakin bahwa Mikhail Zurabov memiliki hubungan bisnis yang dekat dengan Petro Poroshenko. Dulu Poroshenko adalah pengusaha yang membiayai sejumlah kegiatan Kedutaan Rusia dan Zurabov yang melobi Poroshenko dan pabrik-pabriknya yang berada di Rusia. Zurabov juga dinilai bertanggung jawab atas keterlambatan reaksi Rusia terhadap gerakan Maidan.

Butuh Waktu

Ahli politik Rusia yang merupakan profesor di Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia Dmitry Evstafev menilai, perwakilan Ukraina menghadiri pertemuan di Minsk sekedar untuk menciptakan perdamaian sementara. Meski Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyatakan bahwa Ukraina telah mengajukan rencana melakukan dialog dengan para separatis di depan perwakilan internasional, motif Ukraina sebenarnya bersifat taktikal. Evstafev berpendapat hal itu dilakukan karena saat ini, Ukraina tidak memiliki persenjataan dan kemampuan finansial yang cukup untuk melanjutkan operasi antiteroris mereka. “Serangan umum pasukan Ukraina pada 26-28 Juli lalu menunjukan bahwa Kiev sudah kehabisan persenjataan dan dana. Pasukan Ukraina tidak akan mampu mempertahankan daerah yang sudah mereka rebut sebelumnya. Kekuatan militer Ukraina bisa dipulihkan pada tahap mobilisasi ketiga, namun itu akan terjadi paling cepat pada 20-23 Agustus. Oleh sebab itu Ukraina membutuhkan ‘masa tenang’,” terang Evstafev pada koresponden RBTH.

Terlebih lagi, anggaran Ukraina sudah kosong dan Menteri Keuangan Ukraina Aleksander Shlapak mengatakan mulai 1 Agustus mereka tidak dapat lagi membiayai angkatan bersenjata Ukraina. Solusi terbaik untuk situasi ini tentu bukan perdamaian sementara untuk memulihkan kekuatan, melainkan pemberhentian operasi antiteroris secara permanen. Namun, Ukraina tidak mampu dan tidak mau melakukan itu. Petro Poroshenko mendapat tekanan yang sangat besar dari masyarakatnya yang radikal, yang hanya mau mengakhiri peperangan dengan pengambilan kembali Donbass dan Lugansk.

Belarusia selaku tuan rumah negosiasi juga mendapatkan keuntungan dari pertemuan tersebut. “Jika semua pihak dapat duduk bersama dan melakukan negosiasi, maka Lukashenko memperoleh modal simbolis yang membuat Belarusia diapresiasi sebagai pencipta perdamaian di Rusia, Ukraina maupun Uni Eropa,” ujar ahli politik asal Belarusia Aleksey Dzermant pada RTBH. Beberapa pengamat berpendapat Moskow dan Kiev dapat menemukan kesepakatan perihal transit barang dagang Ukraina yang diembargo oleh Rusia melalui Belarusia untuk dibawa masuk ke pasar Rusia.

Perwakilan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk kemungkinan tidak akan hadir di Minsk, karena mereka tidak menganggap Kiev sebagai “musuh”. Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Donetsk Andrey Purgin mengatakan status pertemuan di Minsk pun tidak cukup tinggi dan peserta pertemuan harus memusatkan perhatian pada solusi permasalahan konkret lain. “Pertemuan itu bukan negosiasi penuh, melainkan hanya sebuah konsultasi. Prioritas utama dalam konsultasi itu adalah pertukaran tawanan perang  dengan prinsip “pertukaran seluruhnya”. Jumlah tentara Ukraina yang dijadikan tawanan ialah setidaknya 350 orang,” kata Purgin. Andrey Purgin juga tidak yakin bahwa negosiasi tersebut akan menghentikan pertumpahan darah di Donbass, karena untuk itu pihak Ukraina harus menunjukkan keinginannya secara politik dan maksud baik mereka. “Saat ini hal-hal tersebut belum terlihat,” kata Purgin.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.