Oposisi Rusia Kian Melemah, Partai Liberal Bernasib Suram

Grazhdanskaya Platforma berdiri sejak 2012 oleh adik Irina Prokhorova (kiri), miliarder Rusia Mikhail Prokhorov, beberapa bulan setelah ia mengajukan diri sebagai calon independen dalam pemilihan presiden Rusia. Foto: ITAR-TASS

Grazhdanskaya Platforma berdiri sejak 2012 oleh adik Irina Prokhorova (kiri), miliarder Rusia Mikhail Prokhorov, beberapa bulan setelah ia mengajukan diri sebagai calon independen dalam pemilihan presiden Rusia. Foto: ITAR-TASS

Grazhdanskaya Platforma, salah satu dari partai kunci oposisi pemerintahan Rusia saat ini, harus kehilangan pemimpinnya. Sang ketua partai Irina Prokhorova mengumumkan pengunduran diri dengan alasan perbedaan pendapat terkait aneksasi Krimea dalam internal partai.

Grazhdanskaya Platforma (Platform Sipil) didirikan oleh adik Irina Prokhorova, miliarder Rusia Mikhail Prokhorov. Partai tersebut berdiri sejak 2012, beberapa bulan setelah Mikhail Prokhorov mengajukan diri sebagai calon independen dalam pemilihan presiden Rusia dan mendapatkan 7,98 persen suara serta menduduki peringkat ketiga.

Partai ini menganut ideologi liberalisme. Mereka mengusulkan wacana pengurangan masa jabatan presiden dari enam tahun menjadi empat tahun dan presiden Rusia hanya boleh menjalankan dua kali masa jabatan seumur hidup. Saat ini presiden Rusia boleh dipilih maksimum dua kali berturut-turut, setelah berganti ia boleh mengajukan diri kembali, seperti Vladimir Putin.

Grazhdanskaya Platforma juga mengajukan perubahan sistem pemilihan kepala daerah, pejabat pemerintahan daerah, dan anggota Dewan Federasi Rusia menjadi dipilih secara langsung oleh rakyat berdasarkan asas kompetisi. Selain itu, pengajuan calon dapat dilakukan secara independen tanpa seleksi tambahan bagi calon peserta.

Prokhorov ingin Grazhdanskaya Platforma menjadi kekuatan politik terbesar kedua di Rusia setelah partai Edinaya Rossiya (Rusia Bersatu) yang berkuasa saat ini. Ia mengatakan partai ini harus menjadi partai profesional yang kompak, serta mendorong para pemimpin masyarakat sipil untuk ikut serta dalam pemilihan pejabat negara di Rusia.

Namun, Prokhorov perlahan mulai melepas misi politiknya yang ambisius. Pada musim panas 2013 lalu, ia tidak mengajukan diri sebagai kandidat Walikota Moskow, dan pada musim semi 2014 ia malah mengundurkan diri dari jabatan ketua partai. Irina Prokhorova, kakak Mikhail Prokhorov, kemudian masuk menggantikan dirinya. Irina adalah seorang ahli sastra, redaktur utama majalah dan pemilik jurnal New Literary Observer. Baru beberapa bulan menjabat, Irina mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua partai.

Irina Prokhorova menjelaskan keputusan tersebut diambil karena ia berselisih pendapat mengenai dukungan partai terhadap aneksasi Krimea. “Mayoritas cabang-cabang partai mendukung bersatunya Krimea ke Rusia. Sebagai seorang cendekiawan, saya tidak menyetujui dukungan tersebut. itu menyebabkan perpecahan di dalam partai. Ini adalah situasi yang sangat sulit bagi saya, karena hati nurani dan kewajiban saya mengalami pertentangan. Saya tidak bisa menyampaikan pendapat saya secara terbuka karena itu menentang mayoritas suara partai,” terang Irina dalam rapat partai Grazhdanskaya Platforma minggu lalu.

Tanggapan Skeptis

Pakar politik Yuri Korgunyuk berpendapat bahwa partai tersebut akan kehilangan suara pemilihnya seiring kepergian Prokhorov bersaudara. Yuri juga menilai tidak ada tokoh politik lain yang mampu membuat partai Grazhdanskaya Platforma didengar di ranah politik Rusia kelak.

“Namun ini bukan berarti keluarga Prokhorov keluar dari politik untuk selamanya,” ujar Korgunyuk. Menurut Korgunyuk, keluarga Prokhorov adalah para politikus yang dibutuhkan oleh Rusia. “Mereka adalah oposisi terhormat yang dapat diandalkan. Prokhorov juga tidak pernah menyebut dirinya sebagai oposisi atau kontra, melainkan sebuah alternatif. Ketika negara membutuhkan seorang tokoh yang mengkonsolidasi semangat oposisi dari seluruh warga Rusia, maka Mikhail Prokhorov pun akan diminta kembali ke panggung politik. Itu mungkin akan terjadi menjelang pemilihan anggota lembaga legislatif bawah Rusia pada 2016 mendatang,” tutur Korgunyuk.

Keluarga Prokhorov tidak sepenuhnya meninggalkan Grazhdanskaya Platforma. “Mereka hanya memutuskan untuk berhenti dari jabatan pemimpin, tetapi tetap tinggal sebagai anggota partai,” ungkap pemimpin cabang Grazhdanskaya Platforma daerah Moskow yang juga merupakan kandidat anggota Duma Moskow Mikhail Vyshegorodtsev.

Wakil Presiden Pusat Teknologi Politik Aleksey Makarkin berpendapat kepergian Prokhorova dari jabatan pimpinan partai bukan berarti pembubaran Grazhdanskaya Plaftorma. “Itu hanya melemahkan pengaruh partai di masyarakat,” ujar Makarkin.

Menurut Makarkin, selisih pendapat perihal Krimea adalah penyebab eksternal Irina memutuskan berhenti. “Irina Prokhorova bukanlah seorang tokoh pilihan. Ia tidak pernah ikut serta dalam pemilihan apapun,” kata Makarkin. Makarkin menambahkan, Irina memang mendapat dukungan besar dari kaum cendekiawan, namun partai tidak membutuhkan seorang tokoh budaya, tapi lebih mengharapkan dukungan finansial dari adik Irina, Mikhail Prokhorov. “Keuangan partai mungkin sedang dalam kondisi yang tidak baik, sehingga minat Prokhorov terhadap partai tersebut jatuh,” terang Makarkin.

Sang pakar juga menilai Grazhdanskaya Platforma sebagai partai politik umum saat ini tidak mempunyai perpektif cemerlang di Rusia, meski mereka dipimpin oleh keluarga Prokhorov. “Saat ini partai oposisi liberal tidak populer di kalangan warga Rusia. Tendensi saat ini adalah gerakan antidunia Barat. Namun, seiring berjalannya waktu, mungkin kelak akan kembali muncul kebutuhan akan partai liberal di Rusia,” tutur Makarkin.

Minat warga Rusia terhadap partai oposisi mengalami penurunan drastis. Hal tersebut dipertegas oleh survei sosial Levada-Tsentra yang dilakukan di 45 wilayah Rusia pada Mei lalu. Para sosiolog menemukan bahwa jumlah warga Rusia yang menganggap Rusia tidak memerlukan politik oposisi mencapai 23 persen. Angka tersebut merupakan rekor jumlah terbesar selama satu dekade terakhir.

Kebutuhan akan gerakan oposisi pada 2014 tercatat sebesar 57 persen. Jumlah ini turun secara signifikan dari empat tahun terakhir selama pelaksanaan survei. Pada 2010, pendukung gerakan oposisi mencapai 67 persen, dan pada 2012 mencapai 72 persen. Dalam survei tahun ini, 20 persen peserta survei yang menolak menjawab.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.