Tragedi MH17 Versi Rusia, Ukraina, dan Donetsk

Seorang ibu menangis di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur seraya menunggu informasi mengenai jatuhnya peswat. Foto: Reuters

Seorang ibu menangis di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur seraya menunggu informasi mengenai jatuhnya peswat. Foto: Reuters

Pesawat MH17 Malaysia Airlines yang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur jatuh di daerah Ukraina tenggara pada Kamis (17/7) malam. Berdasarkan informasi yang beredar di media massa, kontak dengan MH-17 hilang saat pesawat itu berada 50 kilometer dari perbatasan Ukraina dan Rusia. Beragam versi tentang tragedi itu pun bermunculan.

Versi Militan Donetsk: Kami tidak memiliki senjata semacam itu

Penasihat Menteri Dalam Negeri Ukraina Anton Gerasyenko—dalam akun Facebooknya—menyatakan bahwa pesawat jatuh setelah terkena peluru kendali misil BUK. Sementara secara terpisah, Jaksa Agung Ukraina Vitaliy Yarema menjelaskan bahwa para militan Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk tidak memiliki sistem peluru kendali BUK dan S-300 dalam persenjataannya.

“Tentara Ukraina melaporkan pada Presiden Ukraina bahwa para militan itu tidak mempunyai sistem peluru kendali BUK dan S-300. Tidak ada temuan senjata itu di pihak militan,” ujar Yarema.

Pemerintah Republik Rakyat Donetsk (RRD) pun menyangkal keterlibatannya dalam peristiwa tersebut. “Para militan tidak memiliki senjata yang dapat menjatuhkan pesawat dari ketinggian sepuluh kilometer. Kami hanya memiliki sistem peluncur rudal yang dapat mencapai ketinggian maksimal tiga sampai empat kilometer saja,” ujar Juru Bicara Perdana Menteri RRD Sergei Kavtaradze, yang menuding angkatan bersenjata Ukraina sebagai pihak yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut.

Versi Kiev: Ini adalah tindakan terorisme

Lembaga Pengendalian Ruang Udara Ukraina menilai kecelakaan ini merupakan kejadian naas. Hal tersebut diumumkan oleh juru bicara lembaga itu pada media Jerman, Welt-Online.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko dengan keras menyatakan bahwa kejadian itu bukanlah insiden atau pun kecelakaan, melainkan sebuah tindakan terorisme. Pernyataan itu dikutip Juru Bicara Presiden Ukraina Svyatoslav Tsegolko dalam akun Twitternya. Pemerintah Ukraina menyatakan ada kemungkinan pesawat MH17 terkena tembakan rudal di wilayah Rusia dan menegaskan angkatan udara Ukraina sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa penembakan di daerah jatuhnya pesawat MH17.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor pers Poroshenko, Presiden Ukraina menuduh Rusia telah memasok personil militer dan senjata” ke kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina timur dan menyatakan bahwa ia melihat campur tangan Moskow di balik insiden ini. 

“Setelah operasi yang dilakukan Angkatan Darat Ukraina, para tentara bayaran dan 'saudara besar' mereka (Rusia -red) beralih melakukan aksi militer tersembunyi terhadap negara kita,” kata Poroshenko. Hari ini seluruh dunia telah melihat wajah sesungguhnya dari sang agresor (pihak yang menyerang pihak lain terlebih dahulu -red). Menembak jatuh sebuah pesawat sipil adalah tindakan terorisme internasional yang ditujukan terhadap seluruh dunia.

Versi Rusia: Kiev harus bertanggung jawab

Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan, pada Kamis (17/7) stasiun radar Rusia 9c18 Kupol sempat mendeteksi adanya rudal dari sistem peluncur BUK-M1 di wilayah Desa Styl yang terletak 30 kilometer di selatan Donetsk.

Malaysia Airlines MH17 yang terbang dengan rute Amsterdam-Kuala Lumpur jatuh di Donetskaya Oblast, Ukraina, Kamis (17/7). Pesawat tersebut mengangkut 283 penumpang dan 15 awak pesawat.

Berdasarkan data dari Malaysia Airlines, terdapat 154 warga Belanda, 27 warga Australia, 11 warga Indonesia, 6 warga Inggris, 4 warga Jerman dan Belgia, 3 warga Filipina, dan 1 warga Kanada. Masih ada 41 orang yang belum diketahui kewarganegaraannya. Menurut kabar, ada 23 warga AS juga di pesawat tersebut. Sedangkan seluruh awak pesawat berasal dari Malaysia.

Kementerian Pertahanan Rusia juga menjelaskan ada teknologi khusus milik sistem pertahanan udara BUK-M1 dalam satu divisi yang dapat saling menginformasikan sasaran rudalnya masing-masing. Mereka menyampaikan bahwa peluncuran rudal itu dapat dilakukan dari seluruh sistem peluncur BUK-M1, baik yang ada di Desa Avdeevka (delapan kilometer sebelah utara Donestk) atau dari Gruzsko-Zarkhansk (25 kilometer sebelah timur Donetsk).

Angkatan bersenjata Rusia tidak memiliki sistem peluncur rudal jenis BUK-M1 seperti yang sekarang sedang gencar diberitakan. Sistem peluncur rudal milik tentara kami adalah BUK-M2 yang dengan kasat mata dapat langsung dibedakan oleh orang yang berpengalaman dalam urusan militer. Sistem peluncur rudal BUK-M1 merupakan persenjataan yang sekarang dimiliki oleh angkatan bersenjata Ukraina,” ujar Kolonel Angkatan Bersenjata Rusia dan pakar militer Viktor Litovkin. Ia juga menjelaskan bahwa di perbatasan Ukraina-Rusia memang terdapat BUK-M2, tetapi lokasi jatuhnya pesawat MH17 relatif jauh dari Rusia, dan jangkauan rudal BUK-M2 hanya 30 kilometer.

“Lokasi jatuh MH17 berjarak 50 kilometer dari perbatasan kami dan pesawat tidak hancur di udara, mereka masih berusaha mendarat setidaknya 100 kilometer sebelum akhirnya jatuh. Hal ini dibuktikan oleh pernyataan saksi mata yang melihat pesawat tidak hancur di udara, melainkan jatuh ke darat,” kata Litovkin.

Pergulatan di Udara

Sebuah media online Rusia Dni.ru menyatakan ada kemungkinan MH17 bertabrakan dengan Su-25 di udara. “Ada saksi mata yang melihat pesawat Boeing 777 tersebut diserang oleh pesawat jet angkatan udara Ukraina. Setelah itu pesawat terbelah menjadi dua di udara dan jatuh di wilayah RRD. Saat ini sedang dilakukan pencarian bagian pesawat itu,” tulis media Rusia itu dengan menyertakan link konferensi pers di Republik Rakyat Lugansk (RRL),

Seseorang yang mengaku sebagai warga negara Spanyol yang bekerja di salah satu menara pemantau Bandara Borispol Ukraina menulis dalam akun Twitternya bahwa ada dua pesawat Angkatan Udara Ukraina yang terdeteksi terbang dekat pesawat MH17 selama beberapa menit sebelum akhirnya jatuh.

“Pesawat tempur terbang di dekat Boeing 777 selama tiga menit sebelum akhirnya menghilang dari radar, hanya tiga menit. Tak lama setelah MH17 hilang dari radar, pemerintah Ukraina memberitahu kami bahwa pesawat itu jatuh. Bagaimana mereka bisa mengetahui secepat itu?”, tulis orang Spanyol itu di akun Twitternya.

Setelah beberapa lama akun pria bernama Carlos itu dihapus, tapi versi cached-nya masih dapat di lihat di sini. Belum diketahui apakah ia benar-benar seorang dispatcher dari bandara Ukraina atau bukan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.