Proyek South Stream dalam Kondisi Kritis

Tugas Rusia di tahap ini adalah memperkuat dan mempertahankan dukungan negara Uni Eropa terhadap proyek South Stream. Foto: Reuters

Tugas Rusia di tahap ini adalah memperkuat dan mempertahankan dukungan negara Uni Eropa terhadap proyek South Stream. Foto: Reuters

Bulgaria dan Serbia baru saja menyatakan keluar dari proyek pembangunan jalur pipa gas South Stream. Bulgaria, anggota proyek yang paling lemah dan bergantung pada subsidi dari Eropa, terus mendapat tekanan dari Brussel dan Washington, sehingga akhirnya memutuskan mundur dari proyek. Meski demikian, bukan berarti proyek South Stream akan dibatalkan. Dampak tekanan dari AS dan Belgia tersebut pun hanya bersifat sementara.

Pemerintah Austria dan Serbia pun telah menyatakan tanggapannya mengenai kelanjutan proyek jalur pipa South Stream. Juru bicara Kanselir Austria mengumumkan bahwa mereka akan menyerahkan kelanjutan realisasi proyek itu kepada Komisi Eropa dengan negara-negara lain.

Perdana Menteri Italia Matteo Renzi menjadi pelopor dalam membuat pernyataan sikap. Negara-negara lain yang akan dilalui pipa dalam proyek South Stream yakni Bulgaria, Serbia, Hungaria, Slovenia, Kroasia dan Austria pun akan segera menyusul.

Jelas, krisis Ukraina dan kian memburuknya hubungan Rusia dengan Barat punya andil terkait kondisi ini. Sikap Komisi Eropa yang tidak tegas membuat Brussel dengan mudah memanfaatkan situasi terkait proyek pembangunan jalur pipa ini dengan isi kontrak “Paket Energi Ketiga”.

Isu yang tak kalah penting ialah konsep penjaminan kebutuhan energi Eropa. Meski dalam kontrak “Paket Energi Ketiga” tertulis bahwa produksi dan transportasi gas tidak boleh dilakukan oleh perusahaan yang sama, namun kenyataannya belum ada kondisi yang memaksakan pemisahan tersebut. Situasi saat ini merupakan momen untuk menguji kesiapan Rusia menerima syarat yang diajukan Uni Eropa, dan bila itu benar terjadi, maka Brussel akan berusaha melakukan perubahan melalui dialog bidang energi.

Dukungan semu realisasi proyek jalur pipa gas ini tak perlu dilihat sebagai ancaman bagi Moskow, karena hal itu dilakukan Barat demi mendapatkan kekuasaan di Ukraina belaka. Tentu Eropa mengkhawatirkan nasib perekonomian Ukraina, namun kepedulian mereka tidak akan sebesar kepedulian terhadap nasibnya sendiri.

Usaha Eropa menghukum Rusia dengan menghentikan proyek ini tidak menyamai usaha untuk memaksa Rusia masuk ke dalam permainan mereka. Sementara bagi AS, tekanan kepada Bulgaria dan Serbia merupakan cara mereka untuk melakukan pertarungan politik melawan Rusia.

Ada hal yang harus diingat untuk mempertahankan posisi Rusia dalam dialog dengan Uni Eropa yakni bahwa negara-negara Eropa tidak memiliki suara yang bulat dalam mengambil posisi dan sejak dulu mereka memang berniat untuk menekan, bahkan menghalangi perkembangan perusahaan Rusia yang bergerak dalam bidang yang sama dengan perusahaan Eropa, contohnya pembelian perusahaan minyak Hungaria MOL oleh perusahaan migas Rusia Surgutneftigaz. Kemungkinan besar hal tersebut akan kembali terulang pada Gazprom di negara-negara Baltik.

Akibat penundaan realisasi proyek pipa gas ini, pilihan untuk membangun pipa gas melewati Turki menjadi pertimbangan, meski sebenarnya Turki bukan negara Uni Eropa. Turki menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam skenario tersebut. Setiap proyek pengiriman gas ke Eropa Selatan dan Timur tampaknya mengharuskan keikutsertaan Turki dalam perjanjian ini. Ketika proyek South Stream terancam, Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov langsung melakukan kunjungan ke Ankara.

Pengerjaan proyek Yuznokavkazskiy Koridor telah berjalan, namun itu tidak dapat dijadikan pengganti proyek South Stream, karena tidak mencakup negara-negara yang rencananya akan dilalui pipa gas Rusia kelak, dan kapasitasnya pun berbeda hingga dua kali lipat. Proyek South Stream mencapai 63 miliar meter kubik, sementara Yuznokavkazskiy Koridor berkapasitas 30 miliar meter kubik. Cadangan gasnya tidak terlalu besar, lapangan Azerbaijan pun hanya bisa mengirimkan sepuluh miliar meter kubik pertahunnya. Namun, Turkmenistan masih belum yakin mengenai kelanjutan proyek South Stream karena adanya sengketa Laut Kaspia dan resiko yang berhubungan dengan posisi negara Iran. Masuknya lapangan migas di Irak Utara sebagai sumber daya proyek Nabucco dapat menjadi kunci untuk masalah yang dialami di South Stream.

Tugas Rusia di tahap ini adalah memperkuat dan mempertahankan dukungan negara Uni Eropa terhadap proyek South Stream. Selain itu, perlu ada kesepakatan pencapaian kepentingan bersama bersama Turki dan mencari solusi atas ketidakjelasan status Laut Kaspia.

Sementara, keputusan pemerintah Bulgaria keluar dari proyek South Stream sebenarnya berhubungan erat dengan perpecahan koalisi penguasa di negara tersebut serta tuntutan dari Ketua Gerakan Keadilan dan Kebebasan Lyutvi Mestan yang pro-Turki untuk melakukan pemilihan parlemen darurat.

Bulgaria kemungkinan akan mengadakan pemilihan parlemen darurat dan pemenang pemilu akan berkesempatan untuk merebut tampuk kepemimpinan dari Boyko Borisov. Penghentian proyek stasiun tenaga nuklir di kota Belene dan pipa minyak Burgas Aleksandrupolis tentu memberi resiko yang sangat besar pada proyek South Stream.

Penulis merupakan doktor bidang sejarah dan dosen di jurusan Sejarah Era Baru dan Modern, Sekolah Tinggi Ekonomi, Perm, Rusia.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Foreign Policy.

Artikel Terkait

Rusia dan Tiongkok Kembangkan Teknologi Navigasi Gabungan

NATO dan Rusia Bertemu di Brussel

Oposisi di Rusia Hadapi Masa Sulit

Moskow dan Beijing Berpotensi Jadi Sekutu Politik

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.