Krisis Ukraina Tingkatkan Popularitas Presiden Chechnya

Presiden Chechnya Ramzan Kadirov. Foto: RIA Novosti

Presiden Chechnya Ramzan Kadirov. Foto: RIA Novosti

Presiden Chechnya Ramzan Kadirov memanfaatkan krisis Ukraina sebagai momentum untuk meningkatkan popularitas Republik Chechnya di mata publik. Saat para politikus Rusia sangat berhati-hati menjawab pertanyaan tentang Ukraina, Kadirov malah berinisiatif memaparkan pandangannya pada publik terkait hal tersebut.

Media massa Ukraina dan Barat meyakini bahwa rakyat Chechnya yang dipimpin oleh Kadirov aktif berjuang bersama milisi Donbas. Pemerintah Ukraina menyebarkan foto-foto milisi berperawakan Kaukasus dan menyatakan bahwa mereka adalah “Chechensiy”, sebutan untuk orang Chechnya. Padahal, para pejuang di Donbas terdiri dari simpatisan dari seluruh Kaukasus, termasuk dari Osetia Selatan. Kadirov menyangkal bahwa gerakan simpatisan ”Chechensiy” ke Ukraina tersebut terjadi atas perintahnya. Menurut Kadirov, penduduk Chechnya yang bergabung dengan milisi Donbas datang atas inisiatif pribadi. Selain itu Kadirov juga menilai Rusia harus melindungi para penduduk berbahasa Rusia di Donbas. Kini, ia mengaku siap mengirimkan 74 ribu sukarelawan Chechnya ke Ukraina, hanya menunggu perintah dari Putin.

Bila perintah tersebut dikirim, maka semua usaha Kiev untuk menaklukkan Donbas menjadi sia-sia. Sepersepuluh dari jumlah sukarelawan yang disebutkan oleh Kadirov saja sudah cukup untuk mengusir tentara Ukraina sekaligus menggagalkan operasi antiteroris mereka, serta memaksa mereka meninggalkan Republik Donetsk dan Lugansk, yang telah mendeklarasikan kemerdekaan mereka sendiri. Namun karena alasan politik, kecil kemungkinan Putin akan mengirim perintah seperti itu. Moskow kini sedang mencari jalan tengah untuk mencapai kesepakatan dengan Kiev secara baik-baik.

Salah satu keterlibatan Kadirov yang sensasional dalam konflik Ukraina adalah membantu pembebasan para wartawan media Rusia LifeNews. Dua orang koresponden media tersebut disandera oleh pasukan Ukraina pada Minggu (18/5) lalu di wilayah Republik Rakyat Donetsk. Pemerintah Ukraina menyatakan mereka terlibat terorisme dan memberi tekanan psikologis, menginterogasi mereka dengan kepala tertutup, serta mengancam akan menembak mati kedua wartawan tersebut.

Dalam perbincangan dengan RBTH, para pengamat menilai bahwa Kiev ingin menakut-nakuti para wartawan Rusia yang bekerja di Ukraina Timur-Selatan. Tindakan tersebut merendahkan Vladimir Putin serta memaksa Putin untuk mengambil keputusan yang lebih agresif. Namun, pada Senin (26/5), dengan bantuan Kadirov dan insiatif beberapa perwakilan pemerintahan Ukraina yang bertentangan dengan keinginan kelompok mayoritas, para wartawan akhirnya dibebaskan. Lalu muncul rumor di Rusia bahwa mereka dibebaskan karena Kadirov menawarkan sesuatu kepada Kiev yang tidak bisa mereka tolak.

Seberapa jauh keterlibatan pemimpin Chechnya dalam kasus tersebut sampai saat ini masih belum jelas. “Peran Kadirov dalam pembebasan wartawan tersebut masih perlu diselidiki. Tentu saja ia ikut berperan aktif, namun tidak bisa dipungkiri ada sumbangsih besar yang dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai Twitter ataupun Instagram, yang tidak kita ketahui” kata ahli politik sekaligus spesialis di bidang Kaukasus Nikolay Silaev kepada koresponden RBTH. Fakta bahwa para wartawan itu dikirim ke Grozniy dan bukan ke Moskow setelah pembebasan menunjukkan siapa yang mempunyai andil utama dalam pembebasan tersebut.

Kebanggaan

Para oposisi Kadirov menilai inisiatif Kadiov dalam konflik di Ukraina bertujuan untuk mencari muka di depan Vladimir Putin. Tetapi pada kenyataannya, peran aktif tersebut itu memiliki dampak politik secara eksternal dan internal. Hal itu tak hanya berdampak bagi Kadirov seorang, tetapi juga seluruh penduduk Chechnya.

Silaev menyatakan, peran aktif dalam konflik Ukraina membuat Rusia menjadi pemain politik besar di wilayah negara-negara bekas Uni Soviet, serta menunjukkan pengaruh Rusia di mancanegara. “Ramzan sedang disibukkan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan diaspora Chechnya di mancanegara,” ujar Silaev. Bukan rahasia bahwa Kadirov menempatkan dirinya sebagai “bapak bangsa” dan sudah bertahun-tahun berusaha melawan para pemberontak di luar negeri, termasuk Akhmed Zakaev, aktivis pemberontakan Chechnya yang berada di Inggris. Ramzan menilai para pengusaha Chechnya di luar negeri membantu Zakaev dalam gerakan pemberontakan Chechnya dengan melakukan investasi di wilayah tersebut. Dengan membebaskan wartawan asal Rusia dari tawanan Ukraina, Kadirov tidak hanya menunjukkan kemampuannya, tetapi juga menunjukkan kepada Chechensiy kesempatan untuk mempertahankan kepentingan para sekutunya yang berada di luar kabinet pemerintahan Kremlin.

Dampak politik internal akibat pembebasan wartawan yang disandera tak kalah penting. Kadirov sudah bertahun-tahun berjuang menghilangkan ketegangan antara warga keturunan Rusia dan Chechensiy, yang kadang dianggap bukan bagian dari Rusia. Beberapa tahun terakhir ini banyak terjadi skandal sehubungan ketegangan tersebut.

“Beberapa Chechensiy yang berbenturan dengan situasi itu mulai mengalami “Xenofobia” (ketakutan terhadap orang-orang yang dianggap asing). Ramzan Kadirov berusaha menyelesaikan masalah tersebut, dan ternyata berhasil,” ujar Silaev.

Komentar pembaca terhadap artikel terkait Chechnya sangat menarik untuk diamati. Tadinya mereka mengkritik mengkritik setiap langkah Kadirov, namun setelah aksi pembebasan wartawan, banyak yang malah mengungkapkan rasa bangga dan terima kasih pada Kadirov.

Seberapa lama hal ini dapat bertahan tergantung pada tindakan Kadirov kelak, termasuk dalam konflik Ukraina.

Artikel Terkait

Pasang Surut Popularitas Vladimir Putin

Putin Implementasikan Doktrin Asia

Bangsa Cossack Ikut Perjuangkan Kemerdekaan Ukraina Timur

Skenario Rusia untuk Ukraina Setelah ‘Revolusi’

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.