Perang Media Barat dan Rusia Lewat Pemilihan Diksi

Standar ganda publikasi media Barat selalu mengerikan. Foto: Reuters

Standar ganda publikasi media Barat selalu mengerikan. Foto: Reuters

Dalam perang media antara Rusia dan Barat yang terus berlangsung, pemberitaan objektif tampaknya telah dikesampingkan dan pemilihan diksi pun dapat mendefinisikan posisi ideologis sebuah media.

Ketika sepuluh teroris menyerang Mumbai pada November 2008, saluran media Barat agak enggan menyebut mereka sebagai teroris. Para mujahid Pakistan itu secara kolektif disebut sebagai gunmen (kelompok bersenjata), bahkan dalam tulisan-tulisan opini. Kata teroris dianggap terlalu keras dan banyak media yang ragu menggunakannya.

Media Barat tidak mengklasifikasikan Kasab dan kawanannya sebagai militan, suatu istilah yang kini secara bebas telah diserap untuk menyebut kelompok penentang pemerintahan Kiev hasil kudeta di Ukraina bagian timur. Apa yang membuat penduduk dengan persenjataan buruk dan tidak terlatih—yang takut diserang oleh milisi sayap kanan dan pemerintahan yang tidak sah—dapat dikatakan sebagai kelompok militan? Mengapa tidak ada media Barat yang bahkan sekadar menyiratkan bahwa Sektor Kanan, sebuah organisasi yang secara terbuka mengaku neo-Nazi dan bertanggung jawab atas pembantaian di Odessa, adalah militan? Jangan salah, Sektor Kanan adalah kelompok yang sangat terlatih yang membantu AS melakukan kudeta di Kiev. Sepanjang kelompok ini berada di kubu pemerintahan Barat, media Barat tidak mungkin menyorot mereka atau mengutuk tindakan mereka.

Standar ganda publikasi media Barat selalu mengerikan. Kata Islami digunakan secara agak sembarangan di seluruh dunia dan demi kepentingan tuan-tuan mereka di luar negeri, sementara kelas penutur bahasa Inggris di India senang menggunakan istilah teroris Hindu. Saya ingin tahu mengapa Tentara Republikan Irlandia tidak pernah disebut sebagai teroris Katolik yang benar-benar memiliki alasan untuk melawan perlakuan buruk dari kaum Protestan. Bagaimanapun juga, Inggris membagi Irlandia berdasarkan alasan agama atau sektarian yang rapuh.

Ada satu masa ketika BBC dan saluran media Barat lain dihormati sebagai suara yang tidak memihak dan objektif dalam dunia jurnalisme. Periode itu sudah lama berlalu. Persekongkolan besar ketika saluran-saluran media di Barat menyampaikan kebohongan pemerintah George W. Bush bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal telah membuat mereka kehilangan kredibilitas. 

Selama berminggu-minggu, wartawan Barat berusaha membuktikan bahwa aktivis di Ukraina timur terdiri dari agen-agen Rusia, bahkan prajurit militer. Sekarang, New York Times yang berusaha menjadi mesin propaganda utama Gedung Putih pun bahkan menerbitkan sebuah artikel yang mengulas bahwa para demonstran antipemerintah itu bukanlah seperti yang dikatakan oleh AS dan Uni Eropa.

Media yang mendukung Moskow berperang dengan media pendukung Barat. Sayangnya, para jurnalis Barat yang begitu tekun dan terorganisasi malah menyampaikan berita bias dan palsu di kawasan-kawasan yang sedang kacau.

Ketika banyak korban jiwa yang tewas di Maidan pada Februari lalu, media Barat memberitakannya dengan sangat heboh. Sekarang telah diketahui bahwa presiden Ukraina yang terpilih tidak berada di belakang peristiwa itu, tidak ada yang mengulasnya. Di mana kutukan atas serangan di Odessa ketika para preman yang mengamuk membunuh masyarakat sipil, bahkan seorang perempuan hamil?

Masalah media saat ini adalah banyak publikasi dan editor yang memutuskan untuk menjadi tentara bayaran. Pemilihan diksi (pemilihan kata) yang selektif begitu selaras dengan kebijakan menyajikan propaganda. Saya akan tampak bodoh jika saya membantah bahwa beberapa saluran media Rusia juga menyebarkan propaganda. Tetapi, Rusia tidak pernah berlagak sebagai pembawa obor etika dan moralitas ke seluruh dunia.

Perlu suatu pijakan bersama agar kedua belah pihak dalam perang media ini kembali ke hal-hal yang mendasar: pemberitaan yang obyektif dan tidak memihak. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana pemilihan kata dapat digunakan untuk mengungkapkan netralitas dalam laporan yang sederhana. Perlu ada sebuah garis batas yang ditarik oleh kedua kubu.

Akankah menjadi kekeliruan bagi media Barat untuk menyebut orang-orang yang merebut gedung-gedung di Ukraina sebagai aktivis, alih-alih militan atau separatis? Dapatkah media swasta Rusia mencoba menghargai pandangan yang masuk akal jika pandangan tersebut berasal dari mereka yang pro-Barat? Di mana pers internasional, yang pada prinsipnya seharusnya netral, harus menarik sebuah garis batas?

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.