Tragedi Odessa, Kronologi Menurut Saksi Mata

Rekaman video dan kesaksian para saksi mata menimbulkan pertanyaan baru mengenai kebakaran yang mematikan. Foto: AP

Rekaman video dan kesaksian para saksi mata menimbulkan pertanyaan baru mengenai kebakaran yang mematikan. Foto: AP

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dengan tegas mengutuk kelompok radikal nasional atas keterlibatan mereka dalam tragedi yang terjadi di Odessa, Ukraina. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi topik yang paling dibicarakan di media massa Rusia. Penyelidikan kasus pun terus berlangsung hingga saat ini.

Potongan kronologi tragedi terus bermunculan setiap hari di media massa, namun latar belakang insiden tersebut tetap belum jelas. Laporan pertama dari lokasi kebakaran, yang menewaskan setidaknya 46 orang, membuktikan bahwa sebagian besar korban diracun menggunakan karbon monoksida. Jumlah korban terus bertambah seiring merebaknya informasi tentang penggunaan senjata api dan kekerasan lain dalam tragedi tersebut.

Berikut kronologi peristiwa berdarah di Odessa pada Jumat (2/5), yang dapat direkonstruksi dari beberapa video, laporan saksi mata, dan pemberitaan di media massa.

Pawai yang Berakhir Rusuh

Euromaidan, aksi protes massa di Kiev dan kota-kota lain di Ukraina yang dimulai sejak 21 November 2013, merupakan respon atas dibatalkannya penandatanganan perjanjian kerjasama Ukraina dengan Uni Eropa oleh pemerintahan Ukraina saat itu.

Pada sore hari di Cathedral Square, Odessa, penggemar klub sepak bola Chernomorets (Odessa) dan Metallist (Kharkov) berjalan beriringan ke arah stadion Chernomorets, tempat kedua tim akan melangsungkan pertandingan sepakbola. Sebagian besar fans memegang bendera Ukraina di tangan mereka. Beberapa penduduk lokal mengira barisan penggemar ini sebagai demonstran pendukung Ukraina bersatu. Para penduduk pun lalu bergabung dengan pawai.

Menurut versi yang berbeda, pawai “Demi Rusia Bersatu” telah direncanakan sebelumnya dan penggemar sepakbola Odessa dan Kharkov bergabung dengan aktivis Euromaidan.

Tiba-tiba, iring-iringan tersebut diserang oleh sekelompok massa pendukung federalisasi Ukraina yang mengenakan topeng dan memiliki gada serta pistol nonmematikan di tangan mereka. Beberapa saksi mengatakan bahwa kedua belah pihak memiliki senjata api. Pendukung Euromaidan yang berjumlah beberapa ribu orang tentu unggul dalam jumlah dibanding pendukung federalisasi yang hanya berjumlah 300-400 orang. Para polisi mencoba untuk memisahkan kedua belah pihak dengan membentuk pagar betis, tapi tidak berhasil.

Sumber: Vitaly Umanets/YouTube

Beberapa orang yang mengenakan pita merah di lengan, dari penampilannya, merupakan provokator yang memainkan peran khusus dalam peristiwa ini. Pita itu digunakan oleh pendukung Euromaidan dan Anti-Maidan, serta sebagian polisi. Orang-orang berpita merah, menurut laporan saksi mata, melepaskan tembakan dan kemudian melemparkan peledak (petasan berat) dari atap Trade Union House.

Akibatnya, para aktivis pro-Ukraina menerobos ke lapangan Kulikovo Ploshad, tempat kamp Anti-Maidan berada, dan membakar kamp tersebut.

Kebakaran di Trade Union House

Video yang direkam oleh salah satu peserta dalam peristiwa ini membuktikan bahwa kebakaran di Trade Union House justru terjadi beberapa menit setelah kamp para pendukung federalisasi dibakar. Salah satu video memperlihatkan bagaimana api muncul serentak di pintu masuk bangunan dan di salah satu jendela lantai lima.

Sumber: YouTube

Penyebab kebakaran masih belum jelas. Penyidik memperkirakan paket bahan peledak atau cerawat membakar panel plastik di tempat itu, namun masih belum jelas dari sisi mana benda tersebut dilempar.

Pemadam kebakaran tiba di tempat kejadian 40 menit setelah kebakaran berlangsung. Di gedung tersebut tidak ada air atau alat pemadam. Para aktivis Euromaidan menyandera bangunan dengan mengepung bangunan dan bahkan, menurut laporan saksi di forum internet, mereka memotong selang pemadam kebakaran, yang mempersulit petugas memadamkan api. Beberapa pendukung Ukraina bersatu pun menembaki jendela-jendela gedung yang terbakar.

Sumber: Roman Heysin/YouTube

Para aktivis Euromaidan membantu ‘musuh’ mereka keluar dari api, tapi kemudian menghajar mereka. Menurut beberapa informasi, beberapa orang dibawa rumah sakit, namun sebagian tewas akibat dipukuli.

Pada hari Selasa (6/5), muncul video di internet yang memperlihatkan para pendukung Ukraina bersatu masuk ke Trade Union House dengan tongkat dan rantai.

Sumber: Pauk Anasi/YouTube

Korban Bergelimpangan

Sumber-sumber resmi, media massa, dan blogger menyatakan jumlah korban dengan angka yang berbeda-beda. Kantor Kejaksaan Wilayah Odessa mengumumkan korban tewas akibat kebakaran berjumlah 46 orang. Blogger menulis jumlah korban tewas mencapai 217 orang. Sementara, situs berita Odessa, Timer, mengutip informasi dari aparat penegak hukum dan ahli forensik, menyatakan korban tewas berjumlah 116 orang.

Menurut data resmi, para korban mati lemas akibat karbon monoksida. Namun, Timer mengutip ahli forensik yang menyebutkan enam korban tewas akibat luka yang disebabkan oleh senjata api.

Sumber: YouTube

Penyidik menemukan jasad yang hangus di lantai II dan III bangunan, padahal api terpusat di lantai I. Di beberapa kamar tempat korban ditemukan pun tak ada tanda-tanda kebakaran. Berdasarkan video dan foto-foto yang dipublikasikan blogger, luka yang disebabkan oleh senjata api jelas terlihat pada jasad beberapa korban dan beberapa jasad bergelimang bubuk pemadam kebakaran, padahal menurut saksi mata, benda itu tak ada dalam bangunan.

Deputi Perwakilan Rakyat Ukraina Vladimir Ariev menyatakan bahwa korban di Trade Union House tidak diracun menggunakan karbon monoksida, melainkan oleh gas beracun lain yang serupa dengan klorin yang dilepaskan ke dalam gedung. Wakil Perdana Menteri Sementara Ukraina Viktor Yerema juga sepakat dengan versi tersebut. “Saya berada di lokasi kejadian dan melihat sejumlah besar orang tewas secara mendadak dengan sangat cepat. Artinya, ada sejenis bahan terbakar yang menyebarkan gas, dan gas ini berdampak sangat cepat pada orang-orang yang langsung kehilangan kesadaran dan meninggal di tempat. Jenis gas dan jenis bahan yang terbakar belum diketahui, pihak ahli masih menyelidiki,” ungkap Yerema dalam konferensi pers pada Sabtu (3/5).

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.