Putin: Ukraina Dikuasai Junta Militer

Operasi militer yang dilakukan tentara Ukraina di Slovyansk menawaskan lima orang milisi lokal dan melukai seorang polisi sebelum akhirnya serangan tersebut dihentikan. Foto: AP

Operasi militer yang dilakukan tentara Ukraina di Slovyansk menawaskan lima orang milisi lokal dan melukai seorang polisi sebelum akhirnya serangan tersebut dihentikan. Foto: AP

Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa operasi militer yang dilakukan tentara Ukraina di Slovyansk, yang telah menewaskan sedikitnya lima orang milisi lokal, tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Tindakan tersebut telah memperburuk hubungan Rusia-Ukraina. Pemimpin Rusia ini juga menegaskan bahwa Moskow tak bisa berhenti melakukan intervensi jika Ukraina terus melanggar hak-hak orang Rusia.

Kamis (24/4) lalu, angkatan bersenjata Ukraina menyerbu Slovyansk—sebuah wilayah di Ukraina yang berisi kubu pro-Rusia—menyusul serangan terhadap sebuah pos pemeriksaan milisi oleh para penyerang tak dikenal di pinggiran kota tersebut. Bentrokan itu mengakibatkan lima orang milisi tewas dan satu polisi terluka. Namun, serangan tersebut berhasil dihentikan.

Putin menyatakan ia memantau kejadian di Slovyansk melalui media. Dalam laporan RIA Novosti, Putin menyebut tindakan otoritas Kiev tersebut sebagai tindak pidana. “Jika benar pemerintah Kiev mulai menggunakan tentara untuk menyerang penduduk, jelas hal itu merupakan sebuah kejahatan yang sangat serius terhadap rakyat mereka sendiri,” ujar Putin.

Menurut Putin, tindakan tersebut akan berimplikasi terhadap hubungan bilateral antara Moskow dan Kiev. “Mereka adalah junta militer,” kata pemimpin Rusia tersebut seperti dilaporkan ITAR-TASS. Putin berpendapat, kejadian di Donetsk bukanlah fase konflik yang paling parah. "Orang-orang yang membuat keputusan tersebut akan mendapat konsekuensi,” ujar Putin.

Putin percaya bahwa dalam rangka menyelesaikan konflik, pihak berwenang Ukraina seharusnya membangun dialog internal dalam negeri, bukan merestui tindakan-tindakan pihak radikal.

“Kami mengambil bagian dalam pertemuan di Jenewa. Di sana ada kesepakatan yang ditandatangani, yang menetapkan pelucutan senjata kelompok radikal, gedung administrasi dan fasilitas umum yang dikuasai secara tidak sah harus dikembalikan, dan sebagainya. Tapi sekarang apa yang terjadi? Tidak ada 'Kubu Kanan' atau organisasi radikal lainnya yang dilucuti, dan tak seorang pun di Kiev yang telah dibebaskan. Sebaliknya, mereka malah mendukung kelompok-kelompok itu,” kata Putin.

Dalam sesi tanya-jawab yang disiarkan secara langsung di televisi pada Kamis (17/4) lalu, Putin memaparkan bahwa pemerintah baru Kiev bukannya membuat upaya untuk bernegosiasi, malah mulai mengancam menggunakan kekuatan militer untuk melawan rakyat, mengirim tank dan pesawat untuk menghadapi penduduk sipil. “Ini merupakan kejahatan sangat serius yang dilakukan oleh penguasa baru di Kiev,” kata Putin.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Moskovsky Komsomolets.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.