Bangsa Tatar-Krimea Dibayangi Trauma Terhadap Rusia

Pada Mei 1944, bangsa Tatar-Krimea bersama beberapa suku Krimea lain yakni Yunani, Bulgaria, dan Armenia, dideportasi dari Semenanjung Krimea. Foto: AP

Pada Mei 1944, bangsa Tatar-Krimea bersama beberapa suku Krimea lain yakni Yunani, Bulgaria, dan Armenia, dideportasi dari Semenanjung Krimea. Foto: AP

Peristiwa di Ukraina mendorong kemunculan berbagai isu lain. Perdebatan seputar Krimea mengundang pertentangan sengit antara Rusia dan Barat. Hubungan Rusia dan Barat mencapai titik terendah sejak berakhirnya masa perang dingin. Lalu, belakangan muncul isu yang tak kalah penting, yakni mengenai bangsa Tatar-Krimea.

Menurut ahli politik Aleksey Marakin, bangsa Tatar di Krimea menjadi masalah utama bagi Rusia di semenanjung tersebut. “Mereka adalah satu-satunya bagian penting masyarakat Krimea yang tidak sepakat bergabung dengan Rusia,” kata Marakin. Namun, para aktivis Tatar-Krimea menolak melakukan konfrontasi terang-terangan dengan Rusia.

Bangsa Tatar-Krimea adalah kelompok etnik Turk yang terbentuk di Krimea sekitar abad ke-13 hingga abad ke-17. Bangsa Tatar-Krimea mengidentifikasi dirinya sebagai Krimean. Tak banyak informasi yang diketahui mengenai asal-muasal bangsa Tatar-Krimea dan bangsa Tatar yang tinggal di Rusia. Sekretaris Keagamaan Muslim Krimea, Aider Ajimambetov, berpendapat Tatar-Krimea dan orang Tatar-Rusia adalah ‘saudara yang memiliki kesamaan sejarah’, tetapi mereka merupakan bangsa yang berbeda. Beberapa tokoh Krimean juga berpendapat serupa. Dilyara Seintilieva, seorang pensiunan dari kota Backhchisarai, menegaskan bahwa Tatar-Krimea dan Tatar dari Rusia terbentuk sendiri-sendiri di daerah yang sepenuhnya berbeda.

Kerajaan Tatar yang terletak di Rusia saat ini merupakan kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Moskow pada 1552-1556. Sedangkan Kerajaan Krimea berdiri pada 1441-1783 dan setelah itu mereka menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah dalam sebagian besar sejarahnya.

Pada 8 April 1783, Ratu Ekaterina II memutuskan menghapus Kerajaan Krimea. Sejak saat itu, dimulailah periode Rusia bagi bangsa Tatar-Krimea. Banyak bangsa Tatar-Krimea yang memilih pindah ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah pada 1790-1850.

Di tahun 1920-1930, pemerintahan Uni Soviet memberi kontribusi besar untuk perkembangan kebudayaan nasional Tatar-Krimea. Krimea menjadi daerah Republik Otonomi Sosialis Soviet dalam Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia. Krimea memiliki dua bahasa yaitu bahasa Rusia dan Tatar-Krimea.  Perkembangan sekolah-sekolah di republik otonomi itu terus didorong. Semua media cetak terbit dalam bahasa Tatar-Krimea. Namun, banyak tokoh intelektual Tatar-Krimea yang menjadi korban pada waktu “pembersihan besar-besaran” atau Bolshoi Teror di tahun 1937.

Pada Mei 1944, bangsa Tatar-Krimea bersama beberapa suku Krimea lain yakni Yunani, Bulgaria, dan Armenia, dideportasi dari Semenanjung Krimea. Kejadian itu menjadi tonggak sejarah penting bagi mereka. Kejadian tersebut mengukung dan mempersempit ruang gerak bangsa Tatar-Krimea. Hal itu juga memperkuat ketakutan mereka terhadap Rusia yang masih tersimpan hingga saat ini. Kedua hal itulah yang menyebabkan ketakutan bagi para Krimean saat Krimea memutuskan bergabung menjadi bagian dari Rusia. Yang lebih memprihatinkan, pada waktu Kruschev Thaw (sebutan informal untuk masa Soviet setelah Stalin), tidak seperti bangsa terhukum lainnya, bangsa Tatar-Krimea tidak pernah dikembalikan lagi ke tanah airnya sendiri. Sejak itu, mereka memperjuangan pemulangan ke tanah air, yang berhasil terwujud pada masa-masa akhir Perestroika.

Banyak ahli yang memandang masyarakat Tatar-Krimea sebagai ‘monolit’ (obyek sejarah) sekaligus kekuatan politik yang dibangun secara vertikal. Padahal sebenarnya tidak.

Saat ini Majelis adalah organisasi Krimean yang paling berpengaruh. Namun, tidak semua bangsa Tatar-Krimea menganggap Majelis sebagai satu-satunya juru bicara untuk kepentingan nasional mereka. Pada tahun 1990-an, Yuri Osmanov mencoba mendirikan Majelis alternatif lain. Majelis alternatif ini bertolak-belakang dengan majelis sebelumnya. Mereka mendukung pengembangan hubungan baik dengan Rusia. Pada 2006, kelompok aktivis Tatar-Krimea dibentuk oleh organisasi nonpemerintah Milly Firqa. Di tahun 2014, pimpinan organisasi tersebut, Waswi Abduraimov, mendukung pelaksanaan referendum pada Maret lalu, memosisikan diri sebagai pendukung integrasi Eurasia dan oposisi pemerintah baru di Kiev. Banyak juga Krimean yang bersikap pragmatik terkait isu ini, salah satunya Dilyara Seintilieva yang menyatakan pemerintah Rusia perlu menawarkan hak-hak istimewa bagi bangsa Tatar-Krimea.

Masalah Tatar-Krimea yang mencuat saat ini terbagai menjadi beberapa isu yakni masalah wilayah, perwakilan Tatar-Krimea di pemerintahan, hubungan dengan Ukraina, serta pembangunan hubungan agama dengan negara. Ajimambetova mengatakan, dukungan utama dari komite Mufti (pimpinan agama Muslim) Rusia terhadap bangsa Tatar-Krimea dalam waktu dekat ini adalah adaptasi terhadap hukum Rusia.

Semua masalah yang muncul tersebut bisa diselesaikan dengan baik jika ada keinginan dari kedua belah pihak. Jika mereka mau bersikap pragmatis, kerukunan antarsuku dan umat beragama di Krimea pun dapat terwujud.

Penulis

Sergey Markedonov adalah seorang dosen jurusan Hubungan Regional Mancanegara dan Politik Internasional di Rusia State University for the Humanities. Artikel ini dibuat bersama Andrey Raskin.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.