Di Balik Ancaman Sanksi Barat pada Rusia

Secara formal, tak ada negara yang akan merestui bergabungnya Krimea dengan Rusia. Kredit: Valeriy Melnikov/RIA Novosti

Secara formal, tak ada negara yang akan merestui bergabungnya Krimea dengan Rusia. Kredit: Valeriy Melnikov/RIA Novosti

Negara-negara G7 berniat untuk mulai melakukan pertemuan tanpa Rusia. Hal itu adalah bentuk reaksi keras pemimpin negara-negara G7 pada Rusia terkait Krimea. Negara Barat juga mengancam akan melakukan isolasi internasional secara penuh terhadap Rusia. Seberapa nyatakah ancaman itu?

Selesai sudah. Harapan Barat bahwa referendum Krimea hanyalah taktik untuk meningkatkan posisi tawar, telah menguap. Kini ancaman harus diberikan. Namun belum pernah ada sanksi yang efektif untuk menghukum Rusia, sebuah negara adidaya yang meliputi sebagian besar Eurasia, memiliki pengaruh di seluruh dunia dan sangat kaya akan sumber daya.

Sanggupkah Rusia menghadapi ancaman isolasi dari Barat? Isolasi sepenuhnya tentu saja tidak mungkin dilakukan. Pertama, mustahil dunia internasional dapat mengabaikan negara sebesar dan sepenting Rusia. Kedua, jika Barat memberi sanksi yang paling keras pun, dengan segala dampak negatif bagi mereka sendiri, tidak berarti blokade global akan terjadi. Banyak negara di Asia, Timur Tengah dan Amerika Latin yang telah menunggu-nunggu munculnya suatu negara yang dapat menggoyang dominasi AS, untuk pertama kalinya sejak 1980-an.

Secara formal, tak ada negara yang akan merestui bergabungnya Krimea dengan Rusia. Negara seperti Cina, Brasil, bahkan Iran pun tidak ingin terlihat mendukung sebuah negara dapat mencaplok wilayah negara lain yang diakui PBB. Namun, kenyataan bahwa Rusia dapat memainkan peran yang benar-benar independen di dunia internasional tanpa memedulikan reaksi Barat adalah hal yang menarik bagi banyak pihak. Hal ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan global. Beijing misalnya, sekarang memiliki prospek yang cukup besar untuk membuka diri terhadap kemungkinan tersebut.

Barat mungkin saja meluncurkan propaganda anti-Rusia, karena untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir, ada negara yang terang-terangan menolak mematuhi peraturan yang dibuat setelah Perang Dingin. Sanksi akan ditujukan untuk melemahkan ekonomi Rusia dan mungkin masih banyak pilihan sanksi lain yang akan diberikan untuk Rusia.

Namun, ada skenario lain yang mungkin saja terjadi. Reaksi awal tentu saja akan kuat. Tetapi jika Rusia mulai sungguh-sungguh mengalihkan fokusnya ke Timur, ahli strategi yang berpikiran realistis akan melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda. Mana yang lebih penting: penguasaan atas Ukraina yang sebenarnya bukan prioritas utama Amerika Serikat, atau pencegahan aliansi Rusia-Cina yang akan menghadirkan ancaman serius bagi posisi Amerika Serikat? Bisa saja, Ukraina yang merdeka pun ternyata tidak bernilai besar bagi Barat.

Penulis

Fyodor Lukyanov, Ketua Dewan Pengurus Badan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan dan Pemimpin Redaksi jurnal Russia in Global Affairs.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.