Pakar Militer Rusia: Tak Akan Ada Bentrokan di Ukraina

Seorang wanita mengibarkan bendera Rusia sementara para tentara bersenjata berjaga di dekat kendaraan militer Rusia di luar pos perbatasan kota Balaclava, Krimea, 1 Maret 2014. Kredit: Reuters

Seorang wanita mengibarkan bendera Rusia sementara para tentara bersenjata berjaga di dekat kendaraan militer Rusia di luar pos perbatasan kota Balaclava, Krimea, 1 Maret 2014. Kredit: Reuters

Sejak Rusia mulai mengirim kekuatan bersenjata ke wilayah Ukraina, banyak spekulasi tentang skenario seperti apa yang mungkin terjadi di di Ukraina. Pakar militer Rusia menyatakan desas-desus mengenai kemungkinan invasi besar-besaran adalah hal yang berlebihan.

Pavel Felgengauer, pakar militer Rusia, berpendapat Rusia akan mengalami kerugian serius jika mengirim pasukan ke Ukraina. Felgengauer membandingkan situasi di Ukraina dengan Perang Chechnya. Perang antara Chechnya dan Rusia tersebut berakhir dengan kemerdekaan Chechnya. “Perang Chechnya akan terlihat seperti piknik. Rakyat Chechen hanya berjumlah satu juta jiwa, sementara Ukraina memiliki 40 juta penduduk dan sekarang mereka bersatu karena memiliki musuh untuk dilawan bersama,” kata Felgengauer. Felgengauer juga yakin bahwa dalam hal kampanye militer, Barat akan memberi sanksi ekonomi terhadap Rusia.

Sementara itu, Kepala Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Ruslan Pukhov yakin bahwa pasukan Ukraina tidak mungkin bisa melakukan perlawanan bersenjata terhadap tentara Rusia. Menurut Pukhov, angkatan bersenjata Ukraina yang dibentuk pada tahun 1992 setelah keruntuhan Uni Soviet dulu memiliki tentara dalam jumlah besar serta senjata terbaik. Namun, selama 22 tahun terakhir kualitas mereka telah menurun. “Kekuatan mereka terus merosot. Senjata-senjata terbaik dijual ke luar negeri, misalnya ke Georgia. Sekarang angkatan bersenjata Ukraina tidak lagi menjadi kekuatan serius yang perlu diperhitungkan,” kata Pukhov. Pukhov menambahkan, selama 20 tahun terakhir angkatan bersenjata Rusia cukup terlatih dengan ikut mengambil bagian dalam beberapa konflik bersenjata, sementara hal tersebut tidak dilakukan oleh tentara Ukraina.

Pakar militer Igor Korotchenko, pemimpin redaksi majalah National Defence, berpendapat bahwa tentara dan lembaga penegak hukum Ukraina tidak harus mengikuti perintah pihak berwenang Ukraina yang baru untuk terlibat bentrokan dengan prajurit Rusia. “Tidak peduli bagaimana pun perasaan mereka tentang Yanukovych, ia masih presiden yang terpilih secara sah. Itu sebabnya, perintah yang dikeluarkan oleh Presiden Interim Olexander Turchynov kepada pasukan Ukraina melanggar hukum. Perintah itu tidak sah, oleh karena itu tentara Ukraina tidak harus mengikuti perintah tersebut dan harus tetap tinggal di barak. Hal yang sama juga berlaku untuk penegak hukum lainnya,” ungkap Korotchenko.

Korotchenko juga berpendapat, keputusan Dewan Federasi untuk mengizinkan penggunaan pasukan tidak berarti invasi militer ke Ukraina. Korotchenko menyerukan untuk berhati-hati dengan laporan media tentang unit-unit militer Rusia, selain yang dimiliki Armada Laut Hitam, yang diduga sudah ada di Ukraina. “Sebuah perang informasi sedang dilancarkan terhadap Rusia dan semua pemberitaan seperti ini harus ditangani dengan hati-hati. Faktanya adalah Putin telah diberikan hak yang sah untuk mengirim pasukan ke Ukraina. Kita tunggu saja langkah-langkah resmi dari Departemen Pertahanan Rusia. Mengenai kemungkinan operasi militer, saya pikir itu hanya akan terjadi di Krimea, meskipun saya juga tidak memungkiri kemungkinan keterlibatan yang lebih luas. Semuanya tergantung pada bagaimana situasi akan berkembang,” ungkap Korotchenko.

Korotchenko menyimpulkan tentara Ukraina saat ini tidak dalam keadaan siap tempur. “Angkatan bersenjata Ukraina saat ini tidak dapat melakukan operasi tempur. Hampir semua unit, mungkin kecuali unit tujuan khusus dan pasukan penerjun payung, benar-benar tidak mampu melakukan operasi militer aktif. Mereka duduk-duduk saja di barak ketika Yanukovych sedang digulingkan, sementara di bagian barat Ukraina para pendukung oposisi bisa mendapatkan senjata. Itu sebabnya saya tidak akan mempertimbangkan angkatan bersenjata Ukraina sebagai kekuatan militer,” tutur Korotchenko.

Sementara itu, Kepala Pusat Prediksi Militer, Anatoly Tsyganok, percaya bahwa situasi saat ini tidak akan menjadi bentrokan militer yang nyata. “Kami telah menghentikan situasi di udara. Sekarang kami perlu menunggu apa yang akan dilakukan NATO dan Cina. Kami tertarik untuk bekerja sama dengan Cina yang tidak terlalu condong ke arah otoritas revolusioner di Ukraina,” ungkap Kolonel Tsyganok.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Gazeta.ru.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.