Rusia Tidak Percaya Revolusi Maidan Dapat Tingkatkan Stabilitas di Ukraina

Seorang warga di Kiev mensurvei keadaan pascakonfrontasi di Maidan. Kredit: AFP/East News

Seorang warga di Kiev mensurvei keadaan pascakonfrontasi di Maidan. Kredit: AFP/East News

Demonstrasi di Maidan, alun-alun kota Kiev, Ukraina yang dimulai sejak 21 November 2012 lalu menyebabkan penggulingan kekuasaan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych dan pembentukan pemerintahan revolusioner Ukraina.

Rusia menilai, penggulingan Yanukovych tidak akan mewujudkan stabilitas, malah mungkin akan menciptakan perpecahan yang lebih besar jika para pemberontak terus menekan tuntutan mereka.

Konflik di Ukraina dan penggulingan Yanukovych dipicu penolakan pemerintah Ukraina untuk menandatangi perjanjian dagang dengan Uni Eropa. Pemerintah Ukraina yang dipimpin Yanukovych memilih menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Rusia. Hal tersebut diprotes oleh pihak oposisi dan menyebabkan kerusuhan yang menelan puluhan korban jiwa. Parlemen Ukraina lantas memutuskan untuk memberhentikan Viktor Yanukovych dari jabatannya sebagai presiden.

Rusia khawatir revolusi tersebut akan menjadi kemenangan bagi kaum ekstremis dan ultranasionalis Ukraina. “Para ekstremis telah mengambil alih Kiev dan daerah Barat Ukraina dan sekarang para anggota oposisi biasa, termasuk Yulia Tymoshenko yang telah dibebaskan, akan menemukan diri mereka berada di luar proses revolusi,” kata Mikhail Margelov, Ketua Komite Kebijakan Luar Negeri dari Dewan Federasi Rusia.

Beberapa analis politik Rusia menyatakan bahwa Brussel dan Washington berperan dalam membuat demonstrasi di Maidan menjadi radikal. Negara-negara Barat memberi tekanan pada Yanukovich untuk menggulingkannya. “Alasan utama kemenangan pemberontak adalah ketidakmampuan Yanukovych menggunakan kekuatan terhadap pemberontak bersenjata. Pemberontakan terjadi dengan dukungan politik yang kuat dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, bahkan juga tampaknya dengan manajemen operasional langsung dari sana,” kata analis politik Rusia Sergei Markov.

Pernyataan bahwa aksi radikal di Maidan juga mengejutkan dan membingungkan para elit politik Uni Eropa dan Amerika Serikat terasa berlebihan. Kesamaan posisi mereka terhadap Yanukovych sudah muncul setelah Konferensi Keamanan di Munich pada awal Februari lalu.

Ada asumsi bahwa pihak oposisi di Ukraina dan pihak Barat sepakat untuk tidak menyeberangi batasan politis tertentu. “Maidan tidak akan melakukan hal yang eksplisit untuk memeras Eropa dan Rusia. Langkah paling logis yang mungkin mereka lakukan adalah menahan beberapa stasiun kompresor gas pada bulan Januari dan Februari,” kata Konstantin Simonov, Direktur Jenderal Dana Ketahanan Energi Nasional.

Revolusi tidak hanya menghancurkan Yanukovych, tetapi juga lembaga-lembaga negara Ukraina yang lemah. Revolusi juga memperburuk pertentangan antara kubu barat dan timur Ukraina. Pemilihan presiden yang dilaksanakan lebih cepat yakni pada bulan Mei mungkin tidak dapat membantu menstabilkan situasi. “Saya tak bisa membayangkan bagaimana pemenang pemilihan presiden akan diakui di seluruh negeri dalam keadaan seperti itu. Jika pemenangnya wakil dari Timur, Barat tidak akan menerimanya. Begitu pula sebaliknya,” kata Konstantin Zatulin, Direktur Institut Persemakmuran Negara-negara Merdeka (Commonwealth of Independent States/CIS).

Posisi Moskow

Sejak awal Moskow telah mengambil posisi yang jelas terkait konflik di Ukraina. Rusia secara ketat mengandalkan prinsip-prinsip hukum internasional dan mengingatkan bahwa di negara demokratis sikap masyarakat terhadap otoritas harus dinyatakan melalui kotak suara, bukan dengan bom Molotov. Rusia juga tidak percaya pada kelangsungan hidup Ukraina pascarevolusi, terutama jika golongan ultranasionalis Ukraina yang mengirim militan untuk aksi di Maidan akan mendapat bagian dalam pemerintahan.

Moskow tidak sabar menanti “reformasi” elit Ukraina, tetapi saat ini Rusia harus mempertahankan kepentingannya terhadap Ukraina. Oleh karena itu, Rusia memutuskan untuk menahan isu jumlah pinjaman baru untuk Ukraina setidaknya sampai terbentuknya otoritas baru yang sah di negara itu. “Situasi politik telah berubah, maka kami perlu memahami pemerintah macam apa yang akan bekerjasama dengan kami. Kami akan menunggu kemunculan pemerintahan baru Ukrainia dan memahami kebijakan yang dibuat oleh pemerintah baru tersebut, setelah itu baru kami akan menentukan keputusan,” kata Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov.

Rusia mungkin akan mengambil sikap yang lebih aktif dalam urusan Ukraina sesudah Olimpiade Musim Dingin di Sochi selesai, apalagi setelah mendengar pernyataan tajam dari golongan radikal Ukraina mengenai niat mereka melarang saluran TV asing yang dianggap akan menyiarkan “cakupan bias dari fakta dan peristiwa serta seruan untuk separatisme” dan kemungkinan pelanggaran hak-hak warga Ukraina yang berbahasa Rusia oleh golongan tersebut. “Ada upaya untuk memisahkan Ukraina dari Rusia, misalnya dengan mempermasalahkan soal bahasa,” kata Leonid Slutsky, Kepala Komite Duma Negara CIS, Integrasi Eurasia dan Hubungan dengan Rekan Senegara. Slutsky menambahkan hal tersebut mendorong CIS untuk bekerjasama dengan para keluarga di Ukraina yang tidak ingin melepaskan diri dari bahasa Rusia dan Rusia itu sendiri, agar anak-anak dalam keluarga tersebut bisa mendapatkan pendidikan dan berbicara bahasa Rusia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.