Sepak Terjang Rusia di Kancah Internasional: Dari Suriah Hingga Urusan Nuklir

"Kami bersedia meningkatkan kemitraan segera setelah Washington siap untuk itu." Kredit: Reuters

"Kami bersedia meningkatkan kemitraan segera setelah Washington siap untuk itu." Kredit: Reuters

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memaparkan kesuksesan dan tantangan kebijakan internasional Rusia sepanjang 2013.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memaparkan hasil kerja Kementerian Luar Negeri Rusia sepanjang 2013 sekaligus rencana tahun ini dalam konferensi pers pada Selasa (21/1). Terdapat tujuh poin utama yakni terkait krisis Suriah, hubungan bilateral dengan Amerika Serikat, masalah nuklir Iran, situasi Ukraina, program nuklir Korea Utara, hubungan dengan Jepang dan kerjasama bebas visa ke wilayah Amerika Latin.

Krisis Suriah

Rusia akan ikut serta dalam konferensi Jenewa II, konferensi internasional untuk mengakhiri konflik berdarah di Suriah. “Kami hendak mengusulkan pendekatan dialog langsung antar-faksi di Suriah. Dialog tersebut harus dimulai tanpa prasyarat,” ujar Lavrov. Lavrov menambahkan, sebaiknya dialog Suriah mencakup semua pihak karena Koalisi Nasional hanya salah satu faksi oposisi Suriah, sedangkan ada beberapa kelompok oposisi lain yang beroperasi di Suriah.

Hubungan dengan Amerika Serikat

Kerjasama yang produktif antara Rusia dan Amerika Serikat pada beberapa isu internasional berpotensi menciptakan hubungan bilateral yang baik antar kedua negara. “Kami bersedia meningkatkan kemitraan segera setelah Washington siap untuk itu, dengan menjunjung rasa hormat terhadap kepentingan masing-masing, kesetaraan dan tidak mencampuri urusan internal satu sama lain,” kata Lavrov. Ia mengakui masih ada beberapa hal yang mengganggu hubungan Rusia dan AS, antara lain terkait penyebaran sistem pertahanan rudal global serta upaya penerapan hukum AS di luar perbatasan AS terhadap warga negara dan perusahaan-perusahaan Rusia.

Masalah nuklir Iran

Meski belum bisa menjamin terciptanya penyelesaian masalah nuklir Iran, Rusia bersama negara anggota P5+1 lain yakni Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris, Prancis dan Jerman, akan terus mencari solusi untuk menjaga keamanan regional. “Bersama dengan mitra kami di P5+1 dan rekan-rekan kami dari Iran, kami akan terus mencari solusi yang komprehensif untuk menjamin hak mutlak Iran dalam mengembangkan energi nuklir di bawah kontrol Badan Tenaga Atom Internasional, sekaligus menjamin keamanan semua negara di wilayah tersebut, termasuk Israel,” tutur Lavrov. 

Situasi di Ukraina

Terkait krisis politik di Ukraina, Moskow bersedia menjadi mediator antara pemerintah dan oposisi Ukraina, jika diminta. Namun, Lavrov menyatakan hingga kini belum ada permintaan untuk hal tersebut. “Kami yakin bahwa masalah internal setiap negara, termasuk Ukraina, harus diselesaikan melalui dialog dalam kerangka hukum konstitusi tanpa campur tangan pihak luar,” kata Lavrov.

Program nuklir Korea Utara

Ketika Perundingan Enam Negara (Six Party Talks) terkait masalah Korea Utara masih berlangsung, beberapa kelompok kerja dibuat dalam kerangka tersebut. Perundingan Enam Negara bertujuan mengakhiri program nuklir Korea Utara melalui negosiasi yang menyertakan Cina, Amerika Serikat, Korea Utara, Korea Selatan, Jepang dan Rusia. Rusia memimpin kelompok kerja untuk menyusun prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Timur Laut. Lavrov yakin bahwa Perundingan Enam Negara dapat dimulai kembali dalam kerangka kelompok kerja yang dipimpin Rusia. “Mungkin kita bisa memanfaatkan kelompok itu untuk memulai diskusi dan membangun kepercayaan. Kami telah menyampaikan hal ini kepada anggota Perundingan Enam Negara dengan harapan pembicaraan tersebut dapat segera dimulai kembali,” kata Lavrov. Ia menambahkan bahwa kemunculan negara-negara bersenjata nuklir baru tidak dapat diterima Rusia.

Hubungan dengan Jepang

Beberapa minggu lagi, Tokyo akan menjadi tuan rumah konsultasi mengenai pakta perdamaian antara Rusia dan Jepang untuk putaran pertama. “Seperti yang telah disepakati kedua belah pihak, delegasi kami akan membahas beberapa aspek historis terkait masalah ini. Ini merupakan titik awal yang sangat penting bagi setiap substansi diskusi,” kata Lavrov. Dia menambahkan bahwa pengakuan hasil Perang Dunia II, seperti yang tercantum dalam Piagam PBB, merupakan langkah pertama yang wajib dilakukan demi tercapainya penyelesaian yang harus diterima oleh kedua belah pihak. “Kami akan terus mengupayakan hal ini dengan sabar dan teliti,” ujar Lavrov.

Perjalanan bebas visa ke Amerika Latin

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yakin bahwa dalam waktu dekat masyarakat Rusia dapat melakukan perjalanan tanpa visa ke semua negara anggota Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC). Saat ini, ada 11 negara Amerika Latin yang memiliki perjanjian perjalanan bebas visa dengan Rusia. Lavrov menambahkan, Rusia baru saja menyelesaikan prosedur kerjasama perjanjian perjalanan bebas visa dengan Paraguay. 

Artikel ini berdasarkan laporan oleh kantor berita RIA Novosti.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.