Hubungan Rusia-Indonesia Semakin Menguat

Vladimir Putin dan Susilo Bambang Yudhoyono di PTT APEC di Bali, Indonesia. Kredit: AP.

Vladimir Putin dan Susilo Bambang Yudhoyono di PTT APEC di Bali, Indonesia. Kredit: AP.

Hubungan antara Rusia-Indonesia semakin menguat seiring dengan meningkatnya minat Moskow terhadap Asia-Pasifik.

 

Karena kedua negara ini sama-sama menjadi anggota G20 dan APEC, ada manfaat yang dapat dipetik dari hubungan bilateral serta kerjasama multilateral di antara keduanya.

Kecondongan pandangan sosialis dari presiden Indonesia pertama Soekarno dan misi Uni Soviet dalam membantu negara-negara yang baru merdeka untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada mantan penjajah mereka menyebabkan hubungan Moskow-Jakarta diawali dengan baik. Jejak-jejak peninggalan persahabatan Indonesia-Rusia pada tahun 1950-an dan 1960-an jelas terlihat di berbagai wilayah Jakarta.

Hubungan antara kedua negara memburuk ketika Jenderal Suharto menggulingkan Soekarno dan kemudian mengambil langkah keras terhadap Partai Komunis Indonesia, atau PKI. Indonesia, yang bergantung hampir secara eksklusif pada senjata Soviet, menghadapi embargo dari pemasok utamanya selama tiga tahun setelahnya. Hubungan ini secara bertahap merangkak menuju normal pada era 1970-an dan 1980-an ketika Jakarta, sebagai anggota pendiri ASEAN, menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih ramah di kawasan sendiri selain juga terhadap kekuatan-kekuatan global utama.

Sejak masa jabatan pertama Vladimir Putin sebagai presiden, hubungan politik dan kerjasama diplomatik antara Rusia dan Indonesia sekali lagi mulai tumbuh. Tetapi seiring dengan gesernya pusat gravitasi ekonomi ke Asia, “perdagangan” telah menjadi kata kunci dalam hubungan bilateral. Perdagangan bilateral antara kedua negara menyentuh US $3 miliar pada 2012. Angka tersebut tipis di bawah satu miliar untuk sebagian besar dekade pertama abad baru, tapi prakarsa seperti Dewan Bisnis Rusia-Indonesia dan komisi pemerintah ke pemerintah telah mengakibatkan pertumbuhan perdagangan. Kedua negara sudah menetapkan target perdagangan sebesar $7 miliar pada tahun 2018.

“Trend kebangkitan selanjutnya dalam perkembangan perdagangan Rusia-Indonesia di masa mendatang dapat dilihat dari pelaksanaan berbagai projek investasi bisnis Rusia di Indonesia dan didorong oleh intensifikasi kerja sama ekonomis, ilmiah, militer, teknis, informasi dan budaya,” demikian menurut dewan bisnis di situs mereka.

SSJ-100 dan pariwisata

Kedua negara ini telah mengidentifikasi listrik, minyak dan gas, ruang angkasa, pembuatan kapal, dan pariwisata sebagai bidang-bidang utama kerja sama ekonomi.

Setelah ditetapkan bahwa kesalahan manusialah yang menyebabkan kecelakaan tragis Sukhoi Superjet-100 (SSJ-100) di Jawa Barat pada bulan Mei 2012, pemerintah Indonesia memberi lampu hijau untuk pembelian pesawat terbang buatan Rusia.

Sky Aviation, penyedia layanan penerbangan carteran di Indonesia, mulai menggunakan SSJ-100 pada bulan Maret tahun ini dan berencana untuk menggunakan pesawat tersebut pada penerbangan ke tempat-tempat seperti Pontianak di Kalimantan, Palembang di Sumatera, dan Natuna Ranai di Batam.

Pariwisata juga merupakan bidang lain yang memiliki potensi besar. Warga Rusia termasuk di antara orang-orang terakhir di Eropa yang mengenal Bali, tapi pulau ini menjanjikan untuk menjadi salah satu lokasi idaman baru bagi wisatawan yang ingin melarikan diri dari kerasnya musim dingin Rusia. Lebih dari 10 ribu wisatawan Rusia mengunjungi Bali tahun lalu, tapi sebagian besar para pengunjung itu – termasuk Oleg Danilov, seorang pengusaha di kota Vladivostok – lebih memilih untuk menjadi salah satu “pelopor” yang telah menemukan “pulau surgawi” itu.

Warga di tempat-tempat seperti Bali sangat ingin menyambut lebih banyak wisatawan Rusia. “Mereka tidak terlalu kaku dalam pengeluaran mereka dan cenderung berbelanja lebih royal daripada wisatawan Eropa lainnya,” kata Cok Bagus, operator tur yang berbasis di Denpasar. “Sebagian besar hotel senang menjamu wisatawan Rusia karena mereka tampaknya siap untuk berbelanja.”

Danilov juga pernah ke Jawa dan menemukan Indonesia sebagai tujuan wisata yang menyegarkan karena tak terlalu dikomersialisasikan. “Saya jenuh dengan Thailand dan salah satu alasan saya mulai datang ke sini adalah untuk menghindari melihat banyak rombongan wisatawan dari negara asal saya.”

BRIICS?

Kerjasama politik multilateral antara Rusia dan Indonesia juga akan mendapat dorongan besar, jika pengelompokan negara Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) memutuskan untuk mengundang Indonesia untuk menjadi anggotanya. PDB Indonesia telah secara konsisten tumbuh sekitar 6 persen per tahun selama beberapa tahun terakhir. Dengan pertumbuhan kelas menengah yang sekarang berada di angka 45 juta orang, namun diharapkan naik dua kali lipat dalam dua dekade mendatang, McKinsey memprediksi negara Indonesia akan berada di posisi ketujuh terbesar di ekonomi dunia pada tahun 2030.

Analis politik mengatakan bahwa negara Indonesia memiliki klaim terbaik untuk menjadi anggota BRICS, mengingat landasan ekonominya yang kuat dan hubungan politiknya yang baik dengan kelima anggota yang ada. Analis lainnya berpendapat bahwa jika sebuah negara Muslim akan dimasukkan ke dalam kelompok tersebut, negara itu haruslah Indonesia, mengingat tradisi liberal dan progresif di negara itu.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan secara tak resmi bahwa negara ini akan menyambut undangan untuk masuk ke dalam pengelompokan tersebut. “Kami akan perlu memastikan bahwa ada konsensus di antara para anggotanya,” kata pejabat itu kepada RBTH Indonesia pada kondisi anonimitas karena ia tidak berwenang berbicara kepada media. “Dari apa yang kami tangkap, Rusia, Brazil, dan India tampaknya antusias dengan gagasan ini,” kata pejabat itu, seraya menambahkan bahwa belum ada proses resmi yang telah dimulai.

Dengan Rusia ingin memperluas kehadirannya di kawasan Asia-Pasifik, Indonesia, dengan pasarnya yang besar, sumber dayanya yang luas dan potensinya yang menjanjikan, terlihat siap untuk menjadi mitra alami untuk Moskow.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.