Ulyukaev: Fokus Politik dan Ekonomi Global Beralih ke Asia-Pasifik

Sumber: Konstantin Zavrazhin / Rossiyskaya gazeta

Sumber: Konstantin Zavrazhin / Rossiyskaya gazeta

Mikhail Tsyganov, koresponden RIA Novosti memperoleh kesempatan untuk berbincang dengan Alexey Ulyukaev, Menteri Pengembangan Ekonomi Federasi Rusia di sela-sela pertemuan APEC di Bali. Berikut petikan wawancara eksklusif untuk Russia Beyond the Headlines.

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat dunia, menjadi tuan rumah pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) untuk kedua kalinya. Berlokasi di Bali, agenda akbar internasional ini sukses digelar pada 1 hingga 8 Oktober 2013 lalu, diikuti oleh 21 kepala negara atau pemerintahan negara-negara Asia-Pasifik anggota APEC.  

Pada 1994 di kawasan pinggir ibu kota, para perwakilan negara yang tergabung dalam APEC merumuskan Bogor Goals. Di dalamnya, berisi cita-cita bagi terciptanya  liberalisasi perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik sebelum tahun 2010 untuk anggota Ekonomi Maju dan sebelum tahun 2020 untuk anggota Ekonomi Berkembang. Untuk mencapai Bogor Goals itu sendiri, APEC melandaskan kerjasama yang dibangun pada tiga pilar, yaitu liberalisasi perdagangan dan investasi, fasilitasi bisnis, dan kerjasama ekonomi dan teknik (ECOTECH).

Mikhail Tsyganov, koresponden RIA Novosti memperoleh kesempatan untuk berbincang dengan Alexey Ulyukaev, Menteri Pengembangan Ekonomi Federasi Rusia di sela-sela pertemuan APEC di Bali. Berikut petikan wawancara eksklusif untuk Russia Beyond the Headlines:

T: Mr. Ulyukaev, masa kepemimpinan Indonesia di APEC telah selesai. Bagaimana Anda menilainya dari sudut pandang kepentingan Rusia? Prioritas apa yang menjadi pusat perhatian Rusia dalam pertemuan APEC ini?

J: Menurut saya, tahun ini berhasil dengan baik. Kita bergerak maju cukup banyak dalam mempererat hubungan kita dengan ekonomi Asia-Pasifik. Ini mengacu pada terwujudnya perdagangan bebas dengan sejumlah ekonomi regional dan pengembangan proyek-proyek dengan investasi berskala besar.

Negara anggota Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) dan negara-negara lain yang berada di kedua sisi Pasifik adalah rekan yang penting bagi kita. Dalam pertemuan-pertemuan tingkat menteri sebelum Pertemuan APEC ini, kami tidak hanya beranggapan, melainkan sudah melihat sendiri bahwa pertemuan Bali ini akan menjadi langkah maju yang nyata.

T: Bagaimana Anda menilai perkembangan hubungan bilateral antara Rusia dan Indonesia?

J: Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia. Alasannya, Indonesia memiliki populasi yang besar, muda serta prospek ekonomi yang sangat bagus. Kami menganggap Indonesia sebagai rekan perdagangan yang penting. Hubungan bilateral kita pun berkembang secara positif. Meski ekonomi dunia mengalami kesulitan yang cukup serius dan volume perdagangan dengan rekan-rekan kita dari negara lain menurun, hubungan antar kedua negara tampak cukup baik. Kami puas dengan perkembangan mereka.

Selain mendorong perdagangan, kami juga gembira dengan berbagai proyek investasi, terutama di bidang infrastruktur, transportasi, dan industri pertambangan. Salah satu prioritas kami, mempromosikan Sukhoi SuperJet-100 Rusia ke pasar Indonesia. Kedua negara memahami bahwa proyek ini akan membuahkan hasil yang baik bagi kedua pihak.

Kami juga berencana mengembangkan kerja sama dalam bidang transportasi rel kereta api. Seandainya berhasil, tentunya akan memberi dampak positif pada pertumbuhan ekonomi baik di Indonesia maupun Rusia.

T: Secara umum, bagaimana Anda menilai pentingnya kerja Rusia di APEC dan pentingnya menerima keputusan mereka untuk ekonomi dan perdagangan asing Rusia?

J: Semua keputusan itu sangat penting, karena fokus perdagangan dan ekonomi dunia kini beralih ke Asia Pasifik. Semuanya soal ekonomi: pertumbuhan ekonomi di wilayah ini memberikan volume perdagangan dan Gross Domestic Product (GDP) dunia yang besar. Karena itu, membentuk ikatan yang erat dengan ekonomi regional menjadi sebuah mekanisme untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia yang sedang melalui periode cukup sulit.

Selain itu, kami juga sangat tertarik untuk mempererat jaringan antara Timur Jauh Rusia dengan sejumlah rekan APEC, terutama China, Jepang, dan Korea Selatan. Saya baru saja berdiskusi dengan Menteri Perdagangan Republik Korea. Mereka sedang fokus pada isu-isu penting seperti pengembangan komunikasi rel kereta api, logistik, transportasi kontainer, industri motor, dan pembangunan kapal termasuk kapal untuk tujuan khusus (memasang semacam undakan/panggung untuk hasil minyak dan gas di papan tersendiri). Proyek-proyek berskala besar ini dapat menyediakan lapangan kerja dan pengenaan pajak serta meningkatkan pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) negara-negara peserta.

T: Anda ikut serta dalam Dialog Para Pemimpin dengan Badan Penasihat Bisnis APEC (ABAC). Apa saja pertanyaan utama di sana dan apa pentingnya pertanyaan tersebut bagi pengembangan hubungan ekonomi antar negara-negara anggota APEC?

J: Isu utama yang dibahas dalam dialog tersebut adalah bagaimana menciptakan kondisi terbaik untuk perdagangan. Secara khusus, saya turut aktif dalam diskusi soal penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan. Saat ini, topik tersebut benar-benar relevan karena banyak negara yang menghadapi kesulitan dalam menggunakan mata uang global kemudian beralih ke mata uang bilateral.

Sebagai contoh, kita sudah memiliki hubungan serupa dengan China. Kita juga terus berusaha memperluas skema yang sama ke negara-negara regional lainnya, terutama Vietnam dan India. Ini merupakan vektor yang baru sekaligus penting bagi kita.

T: Bagaimana pendapat Anda soal pembahasan negosiasi World Trade Organization (WTO) saat ini? Apa saja harapan utama dari Ministerial Meeting WTO yang akan diadakan di Bali, pada bulan Desember mendatang?

J: Sebenarnya ini bukan pertanyaan yang mudah. Ministerial Conference ke-9 nanti harus bisa menjawab satu pertanyaan yang sangat penting, yaitu apakah kita akan berhasil menggalakkan perdagangan bebas dalam kerangka Doha Round atau tidak. Isu ini dibahas secara aktif di sela-sela pertemuan walaupun tidak termasuk di dalam topik khusus pertemuan APEC. Perdagangan bebas sangatlah penting. Namun bukan rahasia lagi bahwa kami menghadapi sejumlah masalah di sini, di Bali. Tetapi menurut saya, meski terdapat berbagai rintangan, kami akan bisa menemukan keputusan yang berimbang.

T: Bagaimana keputusan-keputusan yang diambil di Pertemuan APEC dapat mempengaruhi integrasi Rusia ke Asia Pasifik?

J: Sebenarnya ini adalah salah satu langkah integrasi dan kami ingin mencapai hasil yang lebih baik. Kami sendiri juga mengadakan forum serupa dan telah mempersiapkan diri sejak lama. Dalam kerangka Timur Jauh, berbagai proyek investasi sedang kami jalankan dan rencanakan. Misalnya dalam peningkatan infrastruktur, kami menyatukan Rusia dan wilayah Asia Pasifik secara fisik melalui pembangunan rel kereta api Trans-Siberian, logistik transportasi kontainer, transportasi udara dan sistem informasi.

Menurut saya, masa depan kita akan sangat bergantung pada perkembangan komunikasi. Pengembangan wilayah perdagangan bebas, khususnya di bidang komunikasi, termasuk bidang kerja sama lain yang menjanjikan.

Kami baru saja selesai berdiskusi dengan partner kerja dari Vietnam. Saat ini negaranya tengah mengusahakan pembentukan FreeTrade Area (FTA) dengan Satuan Pabean Rusia, Belarusia, dan Kazakhstan. Tak lama lagi, akan ada negosiasi putaran keempat mengenai isu ini. Kami berharap, negosiasi dengan proses panjang dan melelahkan ini akan segera menghasilkan keputusan.

Artikel Terkait

Negara-Negara APEC Tidak Terburu-Buru Sepakati Liberalisasi Perdagangan

Ekonomi Rusia Jadi yang Terbesar di Eropa

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.