Penempatan Misil Tiongkok di Dekat Perbatasan Rusia Diduga Menyasar AS

Misil balistik antarbenua DF-5B selama parade militer di Beijing.

Misil balistik antarbenua DF-5B selama parade militer di Beijing.

ZUMA Press/Global Look Press
Penempatan misil balistik antarbenua Dongfeng-41 milik Tiongkok di dekat perbatasan Rusia bisa jadi merupakan "peringatan" terhadap presiden AS yang baru saja dilantik, Donald Trump.

Senin (23/1) lalu, media milik pemerintah Tiongkok Global Times merilis berita bahwa misil balistik antarbenua (ICBM) Dongfeng-41 (DF-41) akan membuat Tiongkok “lebih dihargai”. Menurut laporan itu, misil yang mampu membawa 10 hingga 12 hulu ledak tersebut dikerahkan ke perbatasan Tiongkok-Rusia tanpa keterangan lebih lanjut.

Dua hari sebelumnya, berita mengenai keberadaan misil yang ditempatkan di Provinsi Heilongjiang tersebut sudah lebih dulu dirilis oleh media Hong Kong Pingguo Ribao. Padahal, berita yang membocorkan kemungkinan pengerahan misil ini sebenarnya sudah tersebar jauh sebelumnya.

Pada Desember 2016, foto-foto beberapa peluncur ICBM yang berada di jalanan Daqing di Heilongjiang, yang berbatasan dengan wilayah Primorye dan Khabarovsk, tersebar di forum-forum daring militer berbahasa Tiongkok.

Siapa pun dapat berasumsi bahwa pemilihan waktu publikasi berita Global Times (menlu Tiongkok membantah laporan penempatan misil balistik itu), yang bertepatan dengan momen pelantikan Donald Trump, ditujukan sebagai pesan terhadap presiden AS yang baru.

Trump diketahui sering membuat pernyataan dan sikap anti-Tiongkok sebelum dan sesudah pemilihan umum presiden.

Global Times secara jelas menyatakan dalam laporannya bahwa Beijing ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki sumber daya untuk mempertahankan kepentingan negara.

Reaksi Tenang Rusia

Pengerahan DF-41 di Heilongjiang tidak ditujukan untuk melawan Rusia.

Pertama, dengan penempatan yang begitu dekat dengan perbatasan Rusia, misil Tiongkok tersebut akan rentan terhadap serangan misil balistik jarak pendek, rudal jelajah, dan pesawat tempur milik Rusia.

Beijing juga tahu bahwa untuk menyerang Rusia, misil seperti DF-21 dan DF-26 akan lebih akurat dibandingkan DF-41.

Dari segala kemungkinan, lokasi penempatan DF-41 di Daqing (650 kilometer dari Vladivostok) ditujukan supaya AS tidak dapat merancang serangan misil balik.

Serangan semacam ini dapat disalahartikan oleh sistem peringatan misil Rusia sebagai serangan terhadap negara itu dan akan menimbulkan konsekuensi yang tak dapat diprediksi.

Selain itu, apabila AS menyerang dengan rudal jelajah atau rudal aviasi, mereka harus melintasi langit Rusia atau Korea Utara dan itu akan menjadi langkah yang berisiko.

Tiongkok sangat mungkin menempatkan misil di timur laut wilayahnya untuk mengurangi kemungkinan serangan dari sisi timur AS.

Pengerahan DF-41 tampaknya sudah diketahui oleh badan intelijen Rusia, yang dapat menjelaskan reaksi tenang dan cepat Kremlin terhadap informasi itu.

Mengurai DF-41

Hingga kini, Tiongkok sudah memiliki dua tipe ICBM yang dapat menjangkau AS, yaitu misil berbahan bakar cair dan berbahan bakar solid. Yang pertama dan terpenting adalah DF-5, misil berbahan bakar cair yang beberapa tahun belakangan telah diperbarui menjadi DF-5B.

Pembaruan sistem ini termasuk melengkapi misil dengan hulu ledak MIRV. Misil berbobot 180 ton ini disimpan di dalam terowongan dan membutuhkan hingga satu setengah jam untuk diluncurkan.

Yang kedua adalah DF-31 dan DF-31A, misil antarbenua berbahan bakar solid yang dapat digunakan sejak awal 2000-an. Mereka dapat disejajarkan dengan misil Topol-M.

DF-31A dianggap sebagai senjata pencegah senjata nuklir AS milik Tiongkok yang paling efektif. Namun, misil ini tidak mampu menampung cukup hulu ledak untuk mengatasi sistem pertahanan misil AS.

Sementara, DF-41 yang berbahan bakar solid dapat menantang AS dengan serius. Meskipun lebih berat dari DF-31, DF-41 lebih unggul dalam kemampuan tekologi siluman dan dan pergerakan.

Vasily Kashin adalah peneliti senior di Institut Studi Timur Jauh dan Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE) di Moskow.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.