Segitiga Strategis di Timur: Cina-Rusia-AS

Lukisan oleh Niyaz Karim

Lukisan oleh Niyaz Karim

Ahli militer dan politik internasional sepakat bahwa hubungan Rusia-AS dan China-AS dewasa ini semakin penting peran dan pengaruhnya dalam tata hubungan global. Namun kira-kira tantangan apa yang bisa mempengaruhi terjalinnya kemitraan strategis tiga negara besar tersebut?

Kita semua tahu produktifitas China telah melampaui Amerika Serikat dalam berbagai bidang industri maupun volume ekspor. Nilai pendapatan domestik bruto (PDB) diproyeksikan akan menyamai AS pada 2016-2018 dan pada 2025 khusus untuk belanja militer. 

Sementara Amerika Serikat masih berjuang pulih dari krisis dan menyesuaikan diri kepada perkembangan dunia yang kini polisentris. Upaya AS mengonsolidasikan dunia yang unipolar terbukti gagal. Di sektor militer, AS sedang menarik pasukannya dari Iraq dan bersiap meninggalkan Afghanistan yang tidak bisa dipungkuri sebagai dampak dari membesarnya defisit anggaran dalam negerinya.

Menurut perkiraan, AS akan harus meminjam 30 sen dari setiap dolar pengeluaran warganya tahun ini. Pinjaman itu terutama diperoleh dari China.

Meski masalah ekonomi selalu menjadi prioritas dalam negosiasi terkini antara AS dengan China, Washington juga cemas terhadap kebijakan Beijing untuk memperkuat militer. Berkat kekuatan militernya, China sekarang mampu mempertahankan  wilayahnya sendiri. Bahkan mulai mengembangkan kemampuan militer yang memungkinkannya memperluas “lingkaran keamanan”-hingga ke kawasan Pasifik.

Amerika Serikat melakukan antisipasi dengan kebijakan baru pertahanan yang keluar awal tahun ini. Kebijakan itu membawa perubahan penting dalam strategi militer negara itu karena untuk pertama kalinya menyebut China, bersama Iran, sebagai musuh potensial Amerika.

Menurut Sergei Rogov, direktur Institut Amerika Serikat dan Kanada di Akademi Sains Moskow, “Permusuhan antara AS-China mulai muncul di lingkungan saling ketergantungan dua negara”.

“Pembangunan militer China bergerak maju begitu pesat. Tentaranya mempersenjatai diri kembali dan mereka melakukannya tanpa mengurangi jumlah personil atau senjata. Pada 15-20 tahun silam China memiliki 8 ribu dan 10 ribu tank 15-20, dan jumlah ini belum berubah. Bedanya pada 1990-an tank-tank itu terdiri dari bermacam varian T-55, sekarang sekitar 30–40 persennya adalah Tipe 96 atau Tipe 99– generasi peralatan lapis baja yang benar-benar mutakhir. Pesawat tua seperti J-8 berangsur-angsur digantikan J-11 yang baru,” ujar Aleksander Khramchikhin, wakil direktur Institut Analisis Politik dan Militer di Moskow.

Singkatnya, Amerika khawatir karena sistem komando militer Pentagon dan saluran pengumpulan dan pemrosesan informasi intelejen nasional 80 persen bergantung pada komponen ruang angkasa. Padahal tanpa dukungan satelit, senjata modern berteknologi tinggi dengan bom cerdas dan rudal jelajah berpresisi tinggi menjadi tidak lebih sekedar setumpuk logam tidak berguna.

Ahli senjata dan intelejen Amerika meyakini bahwa, jika terjadi krisis, China akan melakukan serangan cyber dan menggunakan senjata antisatelit. Menurut Departemen Pertahanan AS, strategi militer dan informasi tentara China mendukung penggunaan kelompok tugas khusus cyber yang mampu menyerang jaringan komputer musuh. Komputasi perang adalah mata pelajaran wajib dalam latihan militer China.

Setelah keberhasilan pasukan koalisi di Kuwait, Beijing bergegas mengembangkan program anti-senjata satelit – dan program ini memiliki keragaman yang mengagumkan. Sebagai contoh, Angkatan Udara China, yang bertanggung jawab untuk mengoordinasi pekerjaan seluruh spektrum teknologi militer ruang angkasa, mampu secara proaktif mendukung penggunaan satelit “konvensional” dalam skala besar yang ditempatkan di orbit “tersembunyi”. Penggunaan satelit mini yang murah secara masif sebagai senjata penyerangan juga sudah direncanakan.

Rogov dengan meyakinkan berpendapat tentang kemungkinan posisi Rusia dalam situasi ini: “Yang ingin kita lakukan dalam segitiga ‘Rusia-China-AS’ adalah berusaha menjaga hubungan yang kuat dengan Beijing dan Washington, tanpa bersekutu dengan Amerika untuk melawan China atau dengan China untuk melawan Amerika.”

Pakar dari Rusia ini mengungkapkan optimisme yang tidak berlebihan terkait hubungan Rusia-Amerika. “Walaupun tidak signifikan, interaksi Rusia-AS sudah hampir kembali ke keadaan pra-krisis. Jadi, saya pikir upaya ‘pengaturan ulang’ ini berhasil, meski tidak dilakukan lagi. Yang menjadi masalah sekarang adalah agenda ke depan bagi hubungan Rusia-Amerika,” kata Rogov.

Bagaimanapun juga, masuknya Rusia ke proses modern global dapat diharapkan menjaga stabilitas hubungan strategis antara Barat dan Timur terus. 

Penulis

Andrei Kislyakov adalah pakar masalah militer dan ruang angkasa Rusia yang terpandang.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Artikel Terkait

Doktrin Eksepsionalisme Amerika yang Berbahaya

Akankah China Mengungguli Rusia dalam Kompetisi Ruang Angkasa?

Russia Arms Expo 2013: Lima Produk Baru Terbaik Rusia

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.