AS Siap Gunakan Nuklir untuk Lawan Korea Utara

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa segala ancaman dari negara yang dipimpin Kim Jong-un kepada AS dan aliansinya akan dibalas dengan “aksi militer besar-besaran.”

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa segala ancaman dari negara yang dipimpin Kim Jong-un kepada AS dan aliansinya akan dibalas dengan “aksi militer besar-besaran.”

ZUMA Press/Global Look Press
Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa Washington akan melawan Korea Utara dan melindungi negara beserta aliansinya dengan berbagai cara, termasuk nuklir.

Washington bersikeras akan melakukan reaksi balasan atas ancaman Korea Utara kepada AS dan aliansinya. Presiden AS Donald Trump, melalui pernyataan resmi Gedung Putih, mengatakan bahwa Washington siap melindungi negaranya beserta aliansinya dengan menggunakan segala yang tersedia, termasuk nuklir.

“Presiden Trump menegaskan komitmen AS untuk mempertahankan tanah air, wilayah, dan aliansinya dengan kemampuan diplomatik, konvensional, dan nuklir,” ujar pernyatan tersebut, seperti yang diberitakan Sputnik, Senin (4/9).

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa segala ancaman dari negara yang dipimpin Kim Jong-un kepada AS dan aliansinya akan dibalas dengan “aksi militer besar-besaran.”

“Segala ancaman ke AS atau wilayah tanggungannya seperti Guam, atau aliansi kami, akan dibalas dengan aksi militer besar-besaran yang efektif dan luar biasa,” kata Mattis setelah bertemu dengan Trump dan Wakil Presiden AS Mike Pence terkait uji coba nuklir Korea Utara.

“Kami punya banyak opsi militer dan Presiden Trump ingin dijelaskan mengenai setiapnya. Posisi kami jelas, bahwa kami punya kekuatan untuk mempertahankan diri dan aliansi kami, Korea Selatan dan Jepang, dari segala serangan. Komitmen kami kuat untuk aliansi,” ujarnya menambahkan.

Pada 29 Agustus, Korea Utara menguji coba misil balistik Hwasong-12 yang terbang melewati sisi barat Laut Jepang, dan diprediksi mendarat di Samudra Pasifik, sekitar 1.180 kilometer di sisi timur Tanjung Erimo, Pulau Hokkaido.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah memberikan tanggapan untuk aksi tersebut. Menurutnya, dan negara-negara lain tidak perlu memberi sanksi tambahan terhadap Korea Utara, karena masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan dialog.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.