Pakar: Tak Ada Alasan Kuat untuk Mengembangkan Versi Latin Alfabet Rusia

Penggunaan aksara Latin untuk mengubah kata-kata dalam bahasa Rusia sama sekali tidak akan mengintegrasikan bahasa Rusia ke skala internasional.

Penggunaan aksara Latin untuk mengubah kata-kata dalam bahasa Rusia sama sekali tidak akan mengintegrasikan bahasa Rusia ke skala internasional.

AP
Penggunaan aksara Latin untuk mengubah kata-kata dalam bahasa Rusia dianggap pakar linguistik tidak membuatnya lebih dimengerti oleh mereka yang bukan penutur bahasa Rusia.

Tak ada gunanya membuat versi Latin huruf Kiril sebagai aksara kedua dalam bahasa Rusia, kata kandidat ilmu filologi sekaligus Kepala Layanan Informasi Institut Vinogradov Rusia dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAN) Oksana Grushchenko dalam sebuah wawancara kepada REGNUM.

Sebelumnya, Wakil Dewan Legislatif Oblast Leningrad Vladimir Petrov mengajukan permohonan kepada Kementerian Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Rusia untuk mempertimbangkan penggunaan aksara Latin sebagai aksara kedua dalam bahasa Rusia. Menurut Petrov, hal ini akan memudahkan akses masyarakat Rusia di kancah dunia serta dapat menarik minat pengguna aksara Latin untuk mempelajari budaya Rusia.

Pakar linguistik Oksana Grushchenko mengevaluasi prakarsa tersebut. Menurutnya, ia tak menemukan alasan kuat untuk menggunakan aksara Latin dalam bahasa Rusia baik sekarang maupun di masa depan. Apalagi, sistem penulisan bahasa Slavia dengan aksara Kiril telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Ia meyakini bahwa sekalipun muncul aksara kedua, aksara itu tak lantas menggeser status aksara Kiril hingga berada di ujung kepunahan.

Terkait integrasi skala internasional, Grushchenko menekankan bahwa saat ini penggunaan bahasa Inggris sudah cukup memadai.

“Penggunaan aksara Latin untuk mengubah kata-kata dalam bahasa Rusia sama sekali tidak akan mengintegrasikan bahasa Rusia ke skala internasional. Ini adalah omong kosong. Jika Anda menulis kata “корова” (korova, ‘sapi’) atau “миру — мир” (miru — mir, ‘kedamaian untuk dunia’) dengan aksara Latin, tak lantas membuatnya lebih dimengerti oleh orang-orang yang memang bukan penutur bahasa Rusia. Ini adalah usaha yang tidak masuk akal,” jelas Grushchenko yang bekerja di Institut Bahasa Rusia ini.

Ia juga mengingatkan bahwa di dunia internasional sudah dikenal penggunaan transliterasi untuk menulis nama orang, nama jalan, atau nama tempat berbahasa Rusia dengan aksara Latin.

“Adanya sistem transliterasi berfungsi supaya setiap penutur dari bahasa apa pun bisa membaca kata-kata dalam bahasa Rusia. Jika kita menuliskan nama jalan atau nama seseorang dengan transliterasi Latinnya, itu akan membuatnya mudah dibaca secara langsung. Sistem transliterasi sudah biasa digunakan tanpa inisiatif siapa pun. Pada paspor luar negeri, misalnya, digunakan transliterasi supaya siapa pun bisa langsung membaca nama kita,” tambah Greshchenko.

Pada saat yang sama, ia sepakat bahwa pegawai berwenang terkadang tak dapat mentransliterasikan kata-kata bahasa Rusia dengan tepat. Akhirnya, warga kerap mendapat masalah akibat kesalahan pembuatan dokumen semacam itu. Ia menganggap bahwa “seorang profesional sekalipun terkadang tidak dapat menulis sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.” Karena itu, ia menyetujui prakarsa lain yang diajukan Vladimir Petrov mengenai pembuatan unifikasi nama. Menurutnya, permasalahan ini benar-benar membutuhkan regulasi tertentu.

Selain mengajukan permohonan untuk mempertimbangkan penggunaan aksara Latin sebagai aksara kedua dalam bahasa Rusia, Petrov juga mengusulkan untuk menyamakan ejaan yang berbeda pada nama diri, nama keluarga, dan nama tempat kepada pihak legislatif, termasuk penggunaan huruf “e” (dibaca “ye”) dan “ё” (dibaca “yo”). Inisiatif ini juga dirancang agar membuat penggunaannya lebih mudah, misalnya perbedaan penulisan nama Natalya dan Nataliya, atau Gennadievich dan Gennadiyevich. Namun, Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) tidak setuju dengan gagasan tersebut.

Meskipun demikian, Grushchenko tetap menekankan bahwa para ilmuwan bisa mengungkapkan pendapat mereka sendiri tentang kemanfaatan hal tersebut. Namun, semua masalah harus ditinjau berdasarkan aturan tertulis dari pihak pemerintah karena hal ini juga berkaitan dengan aspek politik.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.