Dipulangkan dari Irak, Dua Anak Dagestan Masih Alami Trauma

Anak-anak yang menjadi korban perang tampak dari kaca mobil yang pecah di  sebuah jalan di Mosul, Irak.

Anak-anak yang menjadi korban perang tampak dari kaca mobil yang pecah di sebuah jalan di Mosul, Irak.

Reuters
Meski anak-anak itu kini bisa tertawa, bermain, dan berlarian di rumah, tapi ingatan mereka tentang perang masih menghantui mereka.

Fatima dan adiknya, Khadija, adalah dua anak asal Dagestan, Rusia, yang selamat dari pertempuran pembebasan kota Mosul di Irak. Pertempuran melawan militan ISIS yang melibatkan Tentara Irak yang didukung militan Kurdi dan Syiah serta Pasukan Udara AS itu berlangsung selama berbulan-bulan. Seperti yang dilaporkanRT, kedua anak ini menjadi saksi teror dan kematian orang tuanya saat berada di Baghdad, Irak.

“(Mereka melewati) tiga hari tanpa makanan dan air minum dalam ruang bawah tanah yang kotor dan berdebu. Ia (Fatima) menceritakan pada saya saat terjadi pengeboman, mereka bersembunyi ke ruang bawah tanah. Saat ini, setiap ia melihat helikopter — (ia akan berteriak) Ah!” kata Anwar, kakek Fatima kepada RT.

Masa lalu mereka yang menyisakan trauma membuat anak-anak itu sulit mendapatkan kehidupan normal kembali. Meski anak-anak ini kini bisa tertawa, bermain, dan berlarian di rumah, tapi ingatan mereka tentang perang masih menghantui mereka.

“Suatu hari, saya pernah membuka es krim dan saya terbiasa membuka bungkusnya dengan cara meletuskannya. Saya tak sengaja melakukannya dan ia (Khadija) tersentak seakan-akan baru saja mendengar sebuah ledakan,” ujar Anwar.

Masih ada sekitar 50 orang anak penutur berbahasa Rusia yang berada di panti asuhan Irak, kata Kepala Dewan Rusia untuk Masyarakat Sipil dan HAM Mikhail Fedotov kepada RIA Novosti pada awal Agustus lalu. Namun, angka tersebut masih belum termasuk jumlah sebenarnya dari anak-anak yang berasal dari Rusia dan juga dari negara-negara Asia Tengah. Mereka dibawa paksa oleh orang tua mereka yang berubah radikal untuk mengikuti Perang Irak dan Suriah.

Berapa banyak warga sipil yang tewas dalam Pertempuran Mosul masih belum diketahui. Namun, beberapa sumber memperkirakan bahwa korban mencapai puluhan ribu orang. Menurut UNHCR, Badan Pengungsi PBB, lebih dari 165 ribu orang meninggalkan meninggalkan Mosul Timur selama pertempuran tersebut berlangsung.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.