Terdesak, ISIS Pusatkan Pasukan Utamanya ke Deir ez-Zor

ISIS berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di Deir ez-Zor.

ISIS berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di Deir ez-Zor.

Zuma/Global Look Press
ISIS berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di Deir ez-Zor demi mempertahankan kota yang telah mereka kuasai itu dari kepungan Tentara.

ISIS berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di Deir ez-Zor demi mempertahankan kota yang telah mereka kuasai itu dari kepungan Tentara Suriah, kata Kementerian Pertahanan Rusia, seperti yang dilaporkanRT.

“Pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh Pasukan Kedirgantaraan Rusia dengan cepat menekan posisi ISIS dari tiga arah menuju Deir ez-Zor. Wilayah di sekeliling kota itu kini menjadi benteng terakhir kelompok teroris tersebut di wilayah Suriah,” kata Juru Bicara Staf Umum Rusia Sergey Rudskoy dalam sebuah konferensi pers di Moskow.

“Sisa-sisa pasukan mereka (ISIS) bergerak ke sana. Berdasarkan data kami, para militan dari Mosul (di Irak) mulai menuju ke sana untuk bergabung bersama unit-unit pasukan siap tempur dari Raqqa,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa meski mayoritas teroris ISIS yang melarikan diri dari Raqqa, “Pasukan Demokratik Suriah yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya” belum berhasil menangkap militan-militan itu sekalipun mereka telah melakukan pengepungan selama tiga bulan.

Tindakan sigap Tentara Suriah dan para pendukungnya membuat pasukan ISIS terkepung di sekitar kota Aqerbat. Sang juru bicara juga menambahkan bahwa kota tersebut diperkirakan akan terbebaskan dalam waktu dekat. Kemajuan penting di Suriah bagian tengah ini berhasil tercapai berkat upaya pasukan di bawah komando Jenderal Suriah Suheil al-Hassan, yang dijuluki “Sang Harimau,” dengan dukungan Pasukan Kedirgantaraan Rusia.

“Unit-unit pasukan ISIS benar-benar telah hancur di daerah tersebut. Di sisi lain, Tentara Suriah kini melaju ke sana dengan kecepatan 30 – 40 km setiap harinya,” ujar Rudskoy.

“Kekalahan pasukan utama ISIS, kelompok teroris yang paling memuakkan, yang mencoba menciptakan negara sendiri yang mereka sebut sebagai ‘kekhalifahan’ ini akan segera tercapai dengan pengepungan Deir ez-Zor.”

Pasukan Kedirgantaraan Rusia secara signifikan juga telah meningkatkan operasinya melawan ISIS pada bulan Agustus ini. Mereka meningkatkan jumlah serangan mendadak hingga 60 – 70 kali per hari demi mendapatkan momentum yang pas di Deir ez-Zor.

“Selama lima hari terakhir, pesawat-pesawat tempur Rusia berhasil melakukan 316 operasi serangan mendadak dan berhasil melancarkan 819 serangan,” kata Rudskoy. “Secara keseluruhan, selama bulan ini Pasukan Kedirgantaraan Rusia berhasil melancarkan 990 serangan mendadak, (dan) 2.518 serangan udara terhadap pos komando, posisi-posisi pertahanan, pergundangan, basis-basis pengiriman barang, dan kamp-kamp teroris. Empat puluh kendaraan lapis baja, 160 truk senjata, dan 800 teroris berhasil dihancurkan,” kata Rudskoy.

Deir ez-Zor sebagai kota yang menjadi kunci Sungai Efrat telah berada di bawah kepungan teroris selama 2,5 tahun. Pemerintah Suriah kehilangan kontrol atas kota ini setelah serangan teroris di Palmyra pada Mei 2015. Adapun wilayah di sekitar kota tersebut yang berdekatan dengan pangkalan militer dan lapangan terbang telah mendapatkan pasokan makanan dan amunisi melalui pesawat udara dan helikopter Rusia dan Suriah.

Berdasarkan penjelasan Rudskoy, pesawat-pesawat Rusia telah mengirimkan 293 ton makanan dan perlengkapan medis ke Deir ez-Zor selama Agustus ini.

Sementara, Tentara Suriah dan pendukungnya terus menekan musuh ke arah kota yang telah terkepung itu, daerah-daerah kantong tetap tegang. Pasukan Suriah di daerah tersebut mendapatkan serangan yang cukup signifikan pada September 2016, ketika koalisi pimpinan AS secara keliru mengebom posisi tentara, membunuh, dan melukai sekitar 200 tentara Suriah. Serangan udara tersebut juga bertepatan dengan serangan teroris ISIS yang berhasil menguasai posisi kunci di wilayah tersebut. Kekalahan tersebut membuat daerah kantong terbagi dua sejak Januari lalu saat teroris berhasil mengganggu jalur penyuplaian antara lapangan terbang dan markas lainnya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.