Pebisnis Kelapa Sawit Indonesia Sambut Baik Kerja Sama Perdagangan RI-Rusia

Kebun kelapa sawit di Bogor, Indonesia.

Kebun kelapa sawit di Bogor, Indonesia.

Wikipedia
Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Rusia terus berkembang dari tahun ke tahun dan diharapkan semakin meningkat.

Pebisnis kelapa sawit Indonesia menyambut baik kerja sama perdagangan Indonesia-Rusia yang dinilai bisa menandingi kampanye antikelapa sawit Indonesia dari Eropa. Demikian hal tersebut diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan.

“Kerja sama dengan Rusia bisa meningkatkan promosi dan riset sehingga persepsi negatif terhadap sawit bisa berkurang,” ujar Fadhil kepada KONTAN, Minggu (6/8).

Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Rusia juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Pasar yang besar juga memperlihatkan Rusia sebagai target penjualan yang potensial. Fadhil menilai kebutuhan minyak sawit di Rusia akan terus meningkat.

Bulan April silam, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi pelarangan impor kelapa sawit dari Indonesia karena dianggap terkait erat dengan isu pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak, dan penghilangan hak masyarakat adat. Selain itu, produksi sawit di Indonesia juga dianggap membahayakan kesehatan dan menyebabkan deforestasi akibat kerusakan lingkungan.

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita mengatakan sebenarnya hal itu adalah soal persaingan perdagangan karena produk Indonesia sangat kompetitif.

Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menerangkan minyak nabati produksi Eropa dan AS terus memojokkan sawit. Sahat menganggap hal tersebut sebagai persaingan bisnis dalam perdagangan global. “Minyak nabati mereka akan selalu kalah saing dengan sawit,” terang Sahat (6/8).

Meski terus dipojokkan oleh Eropa dan Amerika, ekspor kelapa sawit Indonesia tidak memperlihatkan penurunan. Berdasarkan data GIMNI, perkiraan ekspor 2017 akan naik 4,3 persen dari tahun lalu. Pada 2016, total ekspor sawit Indonesia 26,57 juta ton, sedangkan target untuk tahun ini sebesar 27,72 juta ton.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki