Pengamat: AS Buat Berita Palsu demi Usir Rusia dari Timur Tengah

Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Timur Tengah, telah membekukan hubungan diplomatik serta mengembargo seluruh jalur ke Qatar, karena dianggap mendukung kelompok-kelompok teroris.

Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Timur Tengah, telah membekukan hubungan diplomatik serta mengembargo seluruh jalur ke Qatar, karena dianggap mendukung kelompok-kelompok teroris.

Reuters
Seorang pengamat politik Rusia yakin bahwa dugaan "serangan dari peretas Rusia" ke kantor berita Qatar adalah murni provokasi.

Klaim mengenai dugaan keterlibatan “peretas Rusia” pada krisis diplomatik di Teluk Persia merupakan bentuk provokasi AS yang bertujuan untuk mengganggu partisipasi Moskow dalam proses penyelesaian sengketa di Timur Tengah, ujar seorang pengamat politik dari Institut Kajian Strategis Rusia, Igor Pshenichnikov.

“Saya yakin bahwa dugaan ‘serangan dari peretas Rusia’ ke kantor berita Qatar adalah murni provokasi. Hal ini bertujuan untuk menendang Rusia keluar dari proses penyelesaian sengketa di Timur Tengah. Insiden ini harus dilihat sebagai kampanye hitam,” ujar Pshenichnikov kepada Sputnik, Sabtu (17/6).

Pada 5 Juni, sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Timur Tengah, membekukan hubungan diplomatik serta mengembargo seluruh jalur ke Qatar, karena dianggap mendukung kelompok-kelompok teroris.

Konflik tersebut dipicu oleh sebuah berita yang muncul di situs web kantor berita Qatar pada 23 Mei. Berita tersebut memublikasikan kalimat ucapan dari Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, yang memberikan komentar baik terhadap Iran dan mengungkapkan dukungan terhadap Ikhwanul Muslimin, kelompok yang dianggap oleh sebagian negara Arab sebagai teroris.

Setelah itu, Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan situs web tersebut diretas dan pernyataan kontroversial itu secara keliru dikaitkan dengan sang emir, tapi mereka tidak membuat dugaan siapa dalang dibalik peretasan itu.

Namun CNN langsung menyalahkan “peretas Rusia” sebagai dalangnya. Mengutip pernyataan para pejabat AS yang tak disebut namanya, CNN memberitakan bahwa Rusia meretas untuk membuat kericuhan di Washington dan aliansinya di Timur Tengah, termasuk Qatar.

“Kita telah mendengar cerita yang sama mengenai dugaan intervensi Rusia di pilpres AS, setelah itu, Rusia juga dituduh ikut campur urusan dalam negeri Montenegro. Lalu ada dugaan upaya Rusia untuk memengaruhi pemilihan parlemen di Jerman,” tutur Pshenichnikov.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov telah mengatakan bahwa dugaan peretasan terhadap situs web Qatar sebagai hoaks, dan tidak sahuh karena menggunakan “sumber anonim di departemen anonim dari sebuah badan intelijen yang tidak diketahui.”

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.