Berlatih di Siberia, Militer Tiongkok Dipandu Komunitas Pemercaya Lama

Seorang prajurit Tentara Pembebasan Rakyat melompati rintangan yang terbakar selama sesi latihan di medan bersalju di Heihe, Provinsi Heilongjiang. Sumber: Reuters

Seorang prajurit Tentara Pembebasan Rakyat melompati rintangan yang terbakar selama sesi latihan di medan bersalju di Heihe, Provinsi Heilongjiang. Sumber: Reuters

Reuters
Setiap tahun, sekitar 700 orang berlatih di daratan Ergaki, yang terletak di selatan Krasnoyarsk. Pemercaya Lama setempat telah membantu instruktur militer dalam mengadakan pelatihan pertahanan diri sejak 2015.

Militer Tiongkok mengadakan latihan di Siberia dengan dibantu oleh Pasukan Khusus Rusia dan komunitas Pemercaya Lama, yang membantu mereka untuk bertahan di medan berbahaya daerah tersebut dan mengajari mereka kemampuan bertahan penting.

Sputnik melaporkan pada Jumat (9/6) bahwa pasukan Tiongkok menaiki helikopter ke kemah latihan Ergaki di kaki Pegunungan Sayan Barat, untuk kemudian menerima perlengkapan militer Rusia. Setelah itu, mereka menuju taiga liar, di mana tidak ada sinyal telepon atau pun kemudahan modern lainnya, dan daratannya diselimuti salju sembilan bulan dalam setahun.

Sebuah sungai di Taman Nasional Ergaki. Sumber: Shutterstock/Legion Media

Komunitas Pemercaya Lama setempat (pengikut dari denominasi Kristen yang berpisah dari Gereja Ortodoks Rusia pada abad ke-17) mengajarkan cara dasar bertahan hidup di alam liar kepada para orang Tiongkok, demikian ujar Kolonel Yaroslav Roschupkin, Asisten Komandan Distrik Militer Pusat.

“Para tentara Tiongkok senang memancing dengan alat pancing buatan tangan. Mereka bahkan menangkap beberapa ikan burbot di sungai taiga,” ujarnya.

Setiap tahun, sekitar 700 orang berlatih di daratan Ergaki, yang terletak di selatan Krasnoyarsk. Pemercaya Lama setempat telah membantu instruktur militer dalam mengadakan pelatihan pertahanan diri sejak 2015.

“Pemercaya Lama dari Siberia Selatan adalah pemandu dan pemburu yang sangat terampil. Mereka hidup terisolasi, menurunkan tradisi nenek moyangnya dari satu generasi ke generasi lainnya selama lebih dari tiga abad,” tutur Roschupkin.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.