Malaysia Akan Lakukan Berbagai Upaya untuk Dekatkan Hubungan Rusia-ASEAN

Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan).

Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan).

Press Photo/ russia-asean20.ru
Malaysia ingin ada hubungan yang lebih dekat antara Rusia dan negara-negara anggota ASEAN. Oleh karena itu, inisiatif yang akan dilakukan di antaranya melalui saling mengadakan kunjungan bisnis, penyelenggaraan seminar bisnis, pameran perdagangan, dan kursus bahasa.

Malaysia ingin melakukan beberapa inisiatif supaya ada hubungan yang lebih dekat antara Rusia dan negara-negara anggota ASEAN, kata Direktur Jenderal Sekretariat Nasional ASEAN-Malaysia Jojie Samuel. 

“Malaysia ingin melakukan beberapa inisiatif demi adanya hubungan yang lebih dekat di antaranya melalui saling mengadakan kunjungan bisnis, penyelenggaraan seminar bisnis, pameran perdagangan, dan kursus bahasa,” ujar Samuel, seperti yang diberitakan TASS, Selasa (30/5). 

Ia mengatakan bahwa total nilai perdagangan Rusia-ASEAN mencapai 13,4 miliar dolar AS (178,4 triliun rupiah) tahun 2015, dengan rincian 4 miliar dolar AS dari ekspor ASEAN ke Rusia, dan 9,4 miliar dolar AS dari ekspor Rusia ke ASEAN. “Rusia adalah mitra perdagangan ASEAN terbesar ke-8.” 

“Kami percaya dengan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015, akan ada integrasi ekonomi yang lebih baik di Asia Tenggara. Oleh karena ini, kami harap Rusia dapat memanfaatkan peluang besar yang ada di ASEAN,” ujar Samuel, seraya menambahkan bahwa ia berharap Rusia banyak melakukan kerja sama di bidang energi.

Ia mengatakan bahwa Rencana Kerja Sama Energi ASEAN-Rusia, yang telah berjalan sejak tahun 2016 hingga 2020, adalah salah satu contoh yang signifikan, karena menandakan “keinginan dan kesiapan Rusia dan ASEAN untuk memperdalam kerja sama”. 

Untuk Indonesia sendiri, kerja sama dengan Rusia di bidang nuklir telah terlihat salah satunya dengan pembangunan pusat pengembangan nuklir untuk kebutuhan sains dan industri di Kawasan Buluminung di Kalimantan Timur. Proyek yang digarap badan pemanfaatan energi nuklir asal Rusia, Rosatom, tersebut telah mendapatkan izin dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.