Berantas Pemberontak, Filipina Harapkan Bantuan Persenjataan dari Rusia

Presiden Filipina Rodrigo Duterte berpendapat bahwa Rusia memiliki sistem presisi tinggi yang canggih.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte berpendapat bahwa Rusia memiliki sistem presisi tinggi yang canggih.

Reuters
Presiden Filipina Rodrigo Duterte butuh senjata seperti helikopter, pesawat, dan senjata presisi untuk melawan pemberontak di negaranya.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan bahwa negaranya tertarik untuk membeli helikopter, pesawat, dan precision-guided weapons (senjata dengan sistem bimbingan internal yang memandu rudal pada jarak tertentu dari sasaran yang dituju -red.) dari Rusia untuk melawan para pemberontak di Filipina.

Dalam wawancaranya dengan media Rusia, Duterte mengatakan bahwa sama seperti di Rusia, Filipina juga berjuang melawan pemberontak. Menurutnya, jumlah pemberontak di Filipina tidak banyak, tapi tetap menyebabkan malapetaka.

“Kami membutuhkan senjata presisi dan intelijen karena kami tidak punya teknologi semacam itu. Kami butuh persenjataan, seperti senjata kecil dan roket yang dapat menyerang target dengan akurat. Selain itu, untuk mengatasi kelompok pemberontak, kami juga butuh helikopter dan pesawat berbaling-baling — lebih murah dan efektif untuk mengatasi teroris berjumlah sedikit di wilayah konflik,” ujar Duterte, seperti yang diberitakan Sputnik, Selasa (22/5).

Salah satu kelompok teroris yang paling berbahaya di Filipina adalah Abu Sayyaf, yang selama lebih dari empat dekade telah memberontak di berbagai daerah di Filipina, seperti di Jolo dan Basilan.

Duterte akan tiba di Rusia pada Senin mendatang untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Dalam pertemuan itu, Duterte mengatakan bahwa ia mungkin akan mencoba meyakinkan Putin untuk menyuplai senjata ke Filipina.

“Saya pikir saya perlu meyakinkan Presiden Putin untuk memberi kami senjata. Sebenarnya tidak banyak, mungkin semacam roket darat, tapi yang berpresisi tinggi,” terang Duterte, seraya berpendapat bahwa Rusia memiliki sistem presisi tinggi yang canggih dan lebih baik daripada AS dalam hal produksi perlengkapan militer seperti itu.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.