Beredar Isu Pemakzulan Trump, Parlemen Rusia: Itu Tidak Adil

Parlemen Rusia menganggap upaya pemakzulan Presiden AS Donald Trump tidak adil.

Parlemen Rusia menganggap upaya pemakzulan Presiden AS Donald Trump tidak adil.

Reuters
Parlemen Rusia berpendapat, tidak ada politikus dalam sejarah yang pernah diperlakukan setidak adil Trump.

Beberapa pihak di AS sedang berupaya mencegah perbaikan hubungan Rusia-AS setelah kemenangan Presiden Donald Trump dan memakzulkannya dari kursi kepresidenan, ujar Wakil Ketua Pertama Majelis Tinggi Parlemen Rusia (Dewan Federasi) Frants Klintsevich, Kamis (18/5).

“Ada beberapa pihak yang berusaha melakukan segala cara untuk mencegah perbaikan hubungan Rusia-AS. Yang tidak melihat bahwa sedang ada upaya pemakzulan Trump pasti buta,” ujar sang senator, seperti yang diberitakan TASS.

Klintsevich mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak ingin menilai segala aktivitas yang Trump lakukan, terutama karena sikapnya ke Rusia “masih menjadi misteri”.

“Namun, segala kegemparan di AS mengenai Trump telah berdampak secara serius ke situasi global. Jadi, kami berhak untuk mengekspresikan opini kami,” ujar Klintsevich. “Tidak ada politikus dalam sejarah yang pernah diperlakukan setidak adil ini.”

Menurut Klintsevich, beberapa badan dan media AS melakukan kampanye yang memojokkan Trump karena sang presiden tidak cocok secara mental dengan mereka.

“Presiden AS saat ini sangat berbeda dari yang lain. Cara berpikirnya tak terduga, sementara keputusannya sering kali diambil berdasarkan perasaan manusia yang sederhana. Hal itu benar-benar bertolak belakang dengan tradisi AS, sehingga elite-elite di sana masih tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya ia ingin lakukan,” terangnya.

“Yang paling menjadi perhatian adalah kebijakan luar negeri AS, yang selama bertahun-tahun dibentuk untuk melawan negara kita (Rusia), baik itu Uni Soviet atau Rusia,” tutur Klintsevich.

Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov baru-baru ini berkunjung ke Washington untuk bertemu Trump dan Menlu AS Rex Tillerson untuk membahas berbagai macam bentuk kerja sama. Bulan lalu, Tillerson juga mengunjungi Rusia untuk membahas hal serupa.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.