Parlemen: Di Bawah Macron, Hubungan Rusia-Prancis Akan Tetap Sama

Emmanuel Macron meraup 66,1 persen suara dalam pemilihan presiden Perancis putaran kedua yang diadakan pada Minggu (7/5).

Emmanuel Macron meraup 66,1 persen suara dalam pemilihan presiden Perancis putaran kedua yang diadakan pada Minggu (7/5).

EPA
Emmanuel Macron baru saja keluar sebagai pemenang dalam putaran kedua pemilihan presiden Prancis yang digelar pada Minggu (7/5).

Hubungan Rusia-Prancis kemungkinan tidak akan berubah meski negara beribu kota Paris itu dipimpin Emmanuel Macron, yang baru saja memenangkan pemilihan presiden di sana, demikian ujar Ketua Komisi Urusan Luar Negeri Majelis Tinggi Parlemen Rusia (Dewan Federasi) Konstantin Kosachev.

Kosachev mengatakan bahwa hubungan kedua negara nantinya akan tetap sama seperti saat Prancis dipimpin François Hollande.

“Hubungan Rusia-Prancis tidak akan mengalami perubahan besar. Semuanya akan sama saja dengan era Hollande,” ujar Kosachev kepada Sputnik, Senin (8/5).

Macron meraup 66,1 persen suara dalam pemilihan presiden putaran kedua yang diadakan di Prancis pada Minggu (7/5), mengalahkan pesaingnya Marine Le Pen yang hanya mendapatkan 33,9 persen suara.

Menurut Kosachev, kebijakan yang dikeluarkan Macron akan pro-Barat dan memperkuat hubungan negaranya dengan Uni Eropa dan NATO, ketimbang “Eropa yang benar-benar bersatu tanpa garis pembatas”.

Namun begitu, Kosachev tetap berharap adanya normalisasi hubungan Rusia-Prancis jika sang presiden terpilih benar-benar “ingin melayani kepentingan negaranya dan satu Eropa”.

Bulan Maret lalu, Hollande, yang akan memberikan tonggak jabatannya ke Macron pada 14 Mei mendatang, mengatakan bahwa “Rusia menggunakan segala cara untuk memengaruhi opini publik”.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.