Ramai Hoaks Soal Krimea, Kemenlu Rusia: Silakan Datang dan Lihat Sendiri

Menyusul kudeta di Kiev pada 2014, rakyat Krimea memilih untuk bergabung kembali dengan Rusia dalam sebuah referendum.

Menyusul kudeta di Kiev pada 2014, rakyat Krimea memilih untuk bergabung kembali dengan Rusia dalam sebuah referendum.

Mikhail Voskresensky / RIA Novosti
Kemenlu Rusia menegaskan bahwa berita dan akun media sosial negara lain sering memublikasikan sesuatu yang tidak berdasarkan kenyataan terkait Krimea.

Kementerian Luar Negeri Rusia meminta perwakilan negara asing untuk mengunjungi Krimea dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi di sana, dibanding mempercayai berita hoaks. 

“Sangat mudah untuk membuat kesimpulan dari berita hoaks dan akun media sosial, padahal kenyataannya tidak seperti yang disebarkan,” ujar Juru Bicara Kemenlu Maria Zarakhova di Krimea, Kamis (4/5), seperti yang diberitakan TASS

“Lebih baik mereka mengumpulkan keberanian, datang langsung ke sini, dan melihat tanah Krimea dengan mata kepala mereka sendiri.” 

Krimea menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia pada abad ke-18, tapi Uni Soviet memberikannya kepada Ukraina (saat itu bernama Republik Sosialis Soviet Ukraina) pada 1954. Menyusul kudeta di Kiev pada 2014, rakyat Krimea memilih untuk bergabung kembali dengan Rusia dalam sebuah referendum. 

Namun begitu, berbagai pihak — seperti AS, Barat, dan Ukraina sendiri — berkali-kali menuduh Rusia merampas di Krimea, sehingga memicu media-media mereka untuk membuat berita yang menyudutkan Rusia.

“Tidak ada yang bilang di Krimea tidak ada masalah,” terang Zarakhova. “Namun begitu, sebagai bagian dari Rusia, Krimea telah melalui perjalanan yang fantastis,” kata Zarakhova. 

“Tunjukkan kami daerah mana yang bisa berkembang pesat dalam waktu yang singkat. Krimea berada di bawah tekanan internasional, diberikan sanksi berat, disalahpahami, dan harus memulai semuanya dari awal. Kita semua tahu betapa tertinggalnya Krimea ketika masih menjadi bagian dari Ukraina,” ujar Zarakhova menegaskan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.