Rusia Minta Jurnalis Indonesia Tak Gegabah Kutip Pemberitaan Media Barat

Atase Pers Kedutaan Besar Rusia Nikolay Karapetyan (kiri) menjelaskan posisi Rusia terkait maraknya pemberitaan bohong terhadap negaranya pada seminar “Melawan Berita Bohong, Memberdayakan Media Siber” di Jakarta, Senin (1/5).

Atase Pers Kedutaan Besar Rusia Nikolay Karapetyan (kiri) menjelaskan posisi Rusia terkait maraknya pemberitaan bohong terhadap negaranya pada seminar “Melawan Berita Bohong, Memberdayakan Media Siber” di Jakarta, Senin (1/5).

Kedutaan Besar Rusia di Indonesia
Rusia menyayangkan sikap media atau pejabat publik yang kerap enggan memeriksa ulang atau mengonfirmasi pemberitaan Barat dari sumber-sumber Rusia.

Kedutaan Besar Rusia di Indonesia meminta jurnalis lebih berhati-hati dalam mengutip sumber media Barat yang kerap memberitakan informasi bohong atau berita palsu mengenai Rusia. Demikian hal itu diungkapkan Atase Pers Kedutaan Besar Rusia Nikolay Karapetyan pada seminar “Melawan Berita Bohong, Memberdayakan Media Siber” di Jakarta, Senin (1/5).

Karapetyan menyebutkan, Rusia sering kali menjadi objek pemberitaan palsu media Barat. Menurutnya, ini terjadi karena Barat berupaya mengisolasi Rusia secara politik. Upaya ini dilakukan — salah satunya — dengan melancarkan perang informasi. “Barat menggunakan media massa sebagai instrumen untuk mengobarkan perang informasi,” ujar Karapetyan.

Selama seminar berdurasi dua jam itu, sang diplomat Rusia menyayangkan sikap media atau pejabat publik yang kerap enggan memeriksa ulang atau mengonfirmasi pemberitaan Barat (terkait Rusia) dari sumber-sumber Rusia. “Sementara, ketika Rusia menjelaskan posisi atau sudut pandangnya, media justru mengabaikannya,” katanya menegaskan.

“Kami mengimbau rekan-rekan wartawan di Indonesia agar tidak langsung memublikasikan berita-berita palsu dari Barat. Kami berharap media Indonesia dapat melakukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Kami siap dan bersedia memberikan segala informasi yang dibutuhkan,” ujarnya menekankan. “Kami mengandalkan profesionalisme rekan-rekan wartawan.”

Pada seminar yang merupakan bagian dari rangkaian Hari Kebebasan Pers Dunia itu, Karapetyan mengatakan bahwa jurnalis mengemban tanggung jawab atas segala hal yang mereka beritakan. Apalagi, di tengah derasnya arus informasi di era digital saat ini, berita dapat disebarluaskan dalam hitungan menit.

Pola yang Berulang

Sang diplomat kemudian mengambil contoh atas apa yang belum lama ini terjadi di Suriah. Ia menyebutkan, ketika dunia dikejutkan dengan pemberitaan serangan kimia di Idlib, Suriah, media langsung membuat informasi yang seolah-olah menyudutkan Moskow atau Damaskus sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan keji itu.

“AS justru mengambil keuntungan atas berita-berita palsu tersebut. Mereka meluncurkan serangan rudal ke Suriah atas laporan yang tidak terkonfirmasi dan tanpa bukti, dan kini mempersulit situasi yang sudah terlanjur rumit di Suriah. Mereka mempersulit perang melawan ISIS,“ katanya kepada para peserta seminar.

Karapetyan yang mewakili dubes Rusia mengingatkan bahwa dunia tak akan pernah lupa bagaimana AS berdalih bahwa Pemimpin Irak Sadam Husein memiliki senjata pemusnah massal. Atas dalih itu, AS kemudian melancarkan invasi militer ke Irak untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Ternyata, invasi itu justru membuat situasi di Timur Tengah berkembang menjadi tantangan serius bagi keamanan global.

“Kami menyerukan kepada media untuk membongkar keboborokan ini dan berhati-hati dalam memublikasikan laporan semacam ini. Kami harap rekan-rekan wartawan (Indonesia) akan memeriksa secara saksama segala laporan yang dipublikasikan media Barat,” ujarnya menekankan.

Perangi Hoaks

Sang atase pers menekankan bahwa Rusia berupaya untuk bekerja sama dan mendukung media dengan memberikan informasi yang berkualitas secara tepat waktu. Ia meyakinkan bahwa informasi yang disajikan pun didukung dengan berbagai fakta, angka, dan data yang konkret. “Saya rasa, ini hal paling penting untuk melawan agresi dari sisi informasi,” katanya.

Selain itu, Karapetyan menyebutkan bahwa Moskow kini tengah berupaya mengungkap orang-orang yang bersembunyi di bawah “ketiak” media, yang terlibat dalam meluncurkan pemberitaan yang menyesatkan dan palsu. “Kami telah membuka bagian khusus pada situs web Kemenlu Rusia. Bagian ini sudah aktif dan mengulas mengenai berita-berita palsu. Setiap minggu selalu muncul beberapa pemberitaan.”

Namun, Barat justru menanggapi inisiatif Rusia itu dengan skeptis, kata Karapetyan. Menurutnya, Barat langsung melayangkan kritik dan mengatakan bahwa Rusia hanya menunjuk dan memberi cap “palsu” pada suatu artikel tanpa mengungkapkan alasannya.

“Itu tidak benar. Kami menginformasikan segalanya secara rinci, kami memberikan penilaian dan menunjukkan apa yang menurut kami merupakan informasi yang benar-benar tak dapat diandalkan. Ini adalah metode dan cara yang efektif,” katanya menyimpulkan.

Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Hari Kebebasan Pers Dunia (WPFD) 2017. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang digagas UNESCO. WPFD tahun ini berfokus pada upaya memperkuat kebebasan dan kualitas jurnalisme, serta upaya untuk membuat media dapat berkontribusi lebih efektif di segala bidang, khususnya pada hubungan antara kebebasan berekspresi, keadilan bagi semua kalangan, perdamaian, dan inklusifitas.

Kegiatan berskala internasional yang berlangsung pada 1 – 4 Mei 2017 tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.500 jurnalis yang 500 di antaranya merupakan jurnalis asing dari 90 negara, termasuk dari Rusia.


Rusia melawan ‘ketidakadilan media’

Rusia berharap ada koresponden media Indonesia di Moskow

Media di Indonesia ditantang menerbitkan foto kejahatan militer AS

Beberapa media Indonesia disebut mendukung kampanye anti-Rusia

Dubes Rusia kritik media Indonesia yang kerap memberitakan Rusia secara tak berimbang

Barat kerap menuduh Rusia, tapi tak pernah bisa hadirkan bukti

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.