Montenegro Gabung dengan NATO, Moskow: Itu Keputusan yang Tidak Masuk Akal

Sekjen NATO Jens Stoltenberg (kanan) dan mantan Perdana Menteri Montenegro Milo Đukanović (kiri) dalam sebuah pertemuan di markas NATO di Brussel pada 19 Mei 2016.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg (kanan) dan mantan Perdana Menteri Montenegro Milo Đukanović (kiri) dalam sebuah pertemuan di markas NATO di Brussel pada 19 Mei 2016.

AP
Moskow akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya nasionalnya.

Moskow menyesali keputusan Montenegro untuk bergabung dengan NATO, ujar Kementerian Luar Negeri Rusia, Jumat (28/4). Menurut kemenlu, keputusan itu sama sekali “tidak masuk akal”.

“Menyusul keputusan parlemen (Montenegro) pada 28 April untuk bergabung dengan NATO, kami menyesali bahwa para pemimpin negara itu dan negara-negara Barat pendukungnya tidak menggunakan akal dan hati nurani,” ujar Kementerian, seperti yang diberitakan TASS.

Sebelumnya, melalui pemungutan suara, sebanyak 46 dari 81 anggota parlemen Montenegro sepakat untuk mendukung pengesahan undang-undang yang mengonfirmasi keanggotaan negara itu dengan NATO. Sesi pemilihan suara itu diprotes oleh pihak oposisi, yang mengadakan demonstrasi di luar gedung parlemen.

“Pengadopsian hukum yang berhubungan dengan isu-isu keamanan negara melalui pemungutan suara yang hanya diwakili oleh sebagian anggota parlemen tanpa meminta pendapat seluruh rakyat adalah bentuk pelanggaran terhadap norma-norma dan prinsip demokrasi,” kata Kementerian menekankan.

Kemenlu Rusia mengatakan bahwa Moskow berhak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasionalnya setelah keputusan yang dibuat Montenegro.

“NATO tampaknya tidak akan mendapat ‘nilai tambah’ yang berpengaruh dengan masuknya Montenegro, tapi Moskow harus tetap mempertimbangkan konsekuensinya. Karena itu, kami berhak mengambil langkah-langkah untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasional kami,” terang kemenlu.

Para pakar berpendapat bahwa keputusan Montenegro untuk bergabung NATO ”mengkhianati Rusia secara politis” karena kedua negara telah memiliki kerja sama yang erat selama 300 tahun lamanya. Rusia berkontribusi pada penciptaan dan pengembangan negara Montenegro pada abad ke-19 serta turut membantu negara perpecahan Yugoslavia itu menjadi negara yang mandiri pada tahun 2006.

Di sisi lain, NATO dan Rusia memiliki hubungan yang tidak harmonis karena aliansi itu menganggap Rusia sebagai ‘ancaman’ terhadap keamanan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.