Lavrov: Dugaan Serangan Kimia di Suriah Harus Diinvestigasi Secara Objektif

Seorang pria bernapas melalui masker oksigen sementara yang lainnya menerima perawatan, setelah apa yang digambarkan para petugas penyelamat sebagai serangan gas di kota Khan Sheikhoun di Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak, Suriah, 4 April 2017.

Seorang pria bernapas melalui masker oksigen sementara yang lainnya menerima perawatan, setelah apa yang digambarkan para petugas penyelamat sebagai serangan gas di kota Khan Sheikhoun di Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak, Suriah, 4 April 2017.

Reuters
Rusia ingin melihat Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dan PBB mengirim penyelidik untuk menginvestigasi insiden dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Rusia ingin melihat Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dan PBB mengirim penyelidik untuk menginvestigasi insiden dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Demikian hal itu disampaikan Lavrov dalam sebuah pernyataan setelah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, Sabtu (15/4).

“Kami menganggap bahwa investigasi secara menyeluruh yang bebas bias, objektif, dan profesional benar-benar diperlukan,” kata Lavrov. “Kami akan terus mendesak agar para penyelidik baik dari OPCW di New York maupun dari PBB dikirim ke lokasi insiden dan ke lapangan udara, yang — sebagaimana yang diklaim para ahli Barat — ditemukan amunisi yang berisi bahan kimia.”

Menurut data yang dipublikasikan Kementerian Pertahanan Rusia, pesawat-pesawat tempur Suriah memang melancarkan serangan udara di Idlib pada 4 April lalu. Namun, serangan itu menyasar bengkel yang menjadi tempat pembuatan amunisi berbahan kimia milik kelompok teroris yang dipasok ke Irak dan digunakan di Aleppo.

Namun, Washington segera menyimpulkan bahwa Damaskuslah yang telah menggunakan senjata kimia dan menyiksa rakyatnya sendiri. Akibatnya, militer AS menembakkan 59 rudal jelajah Tomahawk ke sebuah lapangan udara militer di Provinsi Homs, yang mereka percaya sebagai tempat diluncurkannya serangan kimia. Serangan rudal itu menewaskan sepuluh orang.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.