AS Kerahkan Kapal di Laut Hitam, Rusia Waspada Ancaman Misil

Kapal perang amfibi milik AS, USS Carter Hall, masuk ke wilayah Laut Hitam untuk mengikuti latihan militer dengan Romania.

Kapal perang amfibi milik AS, USS Carter Hall, masuk ke wilayah Laut Hitam untuk mengikuti latihan militer dengan Romania.

Lori Images
Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Rusia Viktor Poznikhir mengatakan bahwa kapal militer bermisil balistik yang berpatroli di Laut Hitam dan Laut Baltik adalah ancaman untuk fasilitas-fasilitas Rusia bagian Eropa, karena tidak diketahui senjata apa yang digunakan: misil jelajah atau misil pencegat.

Patroli yang dilakukan kapal militer AS di Laut Hitam dan Laut Baltik dapat memberikan ancaman keamanan terhadap Rusia karena belum diketahui misil apa yang terdapat di dalam kapal tersebut, ujar Letnan Jenderal Viktor Poznikhir, Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Rusia

“Kapal militer bermisil balistik yang berpatroli di Laut Hitam dan Laut Baltik adalah ancaman untuk fasilitas-fasilitas Rusia bagian Eropa, karena kami tidak tahu senjata apa yang digunakan: misil jelajah atau misil pencegat,” ujar Poznikhir dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, seperti yang dilansir Sputnik, Selasa (28/3).

“Potensi serangan dari misil balistik adalah ancaman yang serius baik bagi Rusia mau pun Tiongkok. Kapal AL AS yang dilengkapi dengan misil pencegat biasanya juga dilengkapi dengan misil jelajah Tomahawk yang berjarak jangkau hingga 2.500 kilometer,” ujar Poznikhir.

Kapal perang amfibi milik AS, USS Carter Hall, masuk ke wilayah Laut Hitam minggu lalu untuk mengikuti latihan militer dengan Romania.

“Kapal ini dikirim dengan USS Bataan untuk mendukung operasi keamanan maritim dan upaya kerja sama di medan perang untuk keamanan di wilayah operasi Armada Keenam AS,” demikian diungkapkan Angkatan Laut AS dalam rilis pers tanggal 23 Maret.

Armada tersebut ikut serta dalam pengerahan militer NATO di Eropa Timur seiring meningkatnya tensi dengan Rusia setelah kudeta Ukraina tahun 2013.

Rusia telah berkali-kali mengatakan bahwa langkah NATO itu provokatif, bertolak belakang dengan perjanjian kedua negara sebelumnya dan dapat berujung pada ketidakstabilan di sana.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.